Sarilamak tidak hanya dikenal sebagai ibu kota Kabupaten Lima Puluh Kota, tetapi juga menyimpan jejak sejarah panjang yang berakar dari tambo dan tuturan adat. Kisah asal-usulnya hidup dalam ingatan kolektif masyarakat, diwariskan dari generasi ke generasi sebagai bagian dari identitas nagari.
Asal-usul Nama Sarilamak
Menurut tuturan yang berkembang di tengah masyarakat, asal-usul nama Sarilamak berkaitan dengan kisah kedatangan rombongan awal yang dipimpin oleh Datuk Sinaro Garang. Kisah ini dituturkan oleh H.J.B. Dt. Kali Nan Putiah, mantan Wali Nagari Sarilamak, dalam penuturannya kepada penulis pada 1 Juni 2007.
Dikisahkan, rombongan yang datang dari Simalanggang menyusuri Batang Sinamar hingga ke wilayah mudiak Batang Harau. Dalam perjalanan tersebut, mereka menemukan sebuah kawasan yang bertaman-taman, yang diperkirakan berada di sekitar persimpangan menuju Harau saat ini.
Di lokasi tersebut, rombongan menemukan sebuah jalan yang dibuat oleh baluik (belut). Mereka kemudian menangkap belut yang berukuran besar tersebut. Karena panjangnya, belut itu direntangkan, lalu dipotong dan dimasak bersama.
Setiap potongan belut yang dimakan terasa “lamak” (enak). Dari pengalaman itu, muncul istilah sairih lamak yang berarti “seiris enak”. Dari situlah kemudian nama Sarilamak diyakini berasal.
Awal Permukiman dan Penamaan Wilayah
Seiring berkembangnya kehidupan masyarakat, wilayah Sarilamak mulai terbagi dalam beberapa kawasan yang dinamai berdasarkan kondisi geografis dan lingkungan setempat.
Daerah yang berada di dataran lebih tinggi disebut Ketinggian. Sementara kawasan di pinggir sungai dengan air yang jernih dinamakan Aie Putiah. Adapun wilayah yang banyak ditumbuhi buluh kasok—sejenis bambu berkulit tipis dan ruas panjang yang digunakan untuk mengambil air—kemudian dikenal dengan nama Buluah Kasok.
Penamaan ini menunjukkan bagaimana masyarakat awal Sarilamak membangun hubungan erat dengan alam dalam menentukan identitas wilayahnya.
Tarantang Sarilamak: Bungo Satangkai
Dalam tambo Minangkabau, Sarilamak juga memiliki hubungan erat dengan wilayah Tarantang. Kisah ini berkaitan dengan kunjungan Raja Alam Minangkabau dari Pagaruyung ke wilayah Sarilamak.
Raja bersama rombongan berangkat dari istana dengan tujuan menemui Datuk Sinaro sebagai pemimpin setempat. Pertemuan direncanakan berlangsung di sebuah tempat bernama Tambun Sori, yang diperkirakan berada di sekitar simpang Sarilamak saat ini.
Namun, ketika rombongan raja tiba di lokasi, tidak ada penyambutan. Hal ini terjadi karena Datuk Sinaro sedang membuka lahan baru di Bukit Pauah.
Rombongan raja kemudian melanjutkan perjalanan hingga ke arah Harau. Setelah mengetahui bahwa tempat perjanjian telah terlewati, raja memerintahkan panglimanya untuk memanggil Datuk Sinaro.
Mendengar hal tersebut, Datuk Sinaro segera berangkat menyusul raja dengan tergesa-gesa, menempuh perjalanan panjang untuk mengejar rombongan kerajaan. Peristiwa “serentang perjalanan” inilah yang kemudian melahirkan nama Tarantang.
Setelah bertemu, Datuk Sinaro menyampaikan permohonan maaf kepada raja. Ia menjelaskan bahwa ketidakhadiran mereka disebabkan rasa takut, karena mengira rombongan yang datang adalah kelompok perampok.
Raja kemudian memaklumi penjelasan tersebut dan memaafkan Datuk Sinaro. Bahkan, karena keberanian dan sikapnya, pemimpin tersebut diberi gelar Datuk Sinaro Garang.
Sejak saat itu, dua wilayah tersebut dipersatukan dalam ungkapan adat:
“Tarantang Sarilamak Bungo Satangkai.”
Ungkapan ini mencerminkan hubungan persaudaraan yang erat antara kedua wilayah, yang memiliki kedudukan penting dalam struktur adat di Luhak Limopuluah.
Makna Adat dalam Tambo
Dalam tambo yang berkembang, Tarantang Sarilamak memiliki posisi strategis sebagai bagian dari struktur adat di Luhak Limopuluah. Wilayah ini disebut sebagai salah satu “pasak kunci” yang memiliki fungsi penting dalam menjaga keseimbangan dan ketahanan wilayah.
Peran ini menunjukkan bahwa Sarilamak tidak hanya berkembang sebagai wilayah permukiman, tetapi juga memiliki kedudukan penting dalam sistem adat Minangkabau.
Penutup
Kisah asal-usul Sarilamak yang berangkat dari tambo menunjukkan bagaimana identitas nagari dibangun melalui perpaduan pengalaman, alam, dan nilai-nilai adat. Dari cerita sederhana tentang sairih lamak hingga hubungan persaudaraan dengan Tarantang, Sarilamak tumbuh sebagai wilayah yang kaya akan makna historis dan budaya.
Baca juga:
Sejarah Nagari Sarilamak (2): Struktur Adat dan Perkembangan Nagari
Sejarah Nagari Sarilamak (3): Dari Kolonial hingga Ibu Kota Kabupaten
Catatan Redaksi:
Tulisan ini telah melalui penyuntingan redaksi dengan tetap mempertahankan substansi asli penulis, termasuk bagian tambo dan tuturan adat.
Penulis:
H. Saiful, SP. Dt. Rajo Sampono
Dengan Gerakan Serbu Asakato, cukup Rp10.000 saja kita bangun bersama media nagari ini agar tetap menyuarakan informasi umat dan daerah.
Scan QRIS untuk donasi