“Runtuhnya surau kami.” Kalimat ini sering kita dengar ketika membicarakan perubahan sosial di Minangkabau. Ungkapan tersebut ternyata tidak hanya bersifat simbolik. Secara fisik, banyak surau memang telah runtuh. Sebagian bahkan sudah ditumbuhi semak belukar dan akar pepohonan. Namun yang lebih memprihatinkan bukan hanya bangunannya yang hilang, melainkan institusi sosial dan pendidikan yang dahulu hidup di dalamnya juga ikut memudar. Ini menjadi peringatan serius bagi generasi muda Minangkabau.
Bersamaan dengan hilangnya surau, hilang pula guru-guru surau yang dahulu menjadi pusat rujukan moral masyarakat. Dalam ungkapan lama disebutkan: “mati guru, mati surau.” Ketika guru surau tidak lagi hadir dalam kehidupan masyarakat, maka fungsi pendidikan akhlak, pembinaan spiritual, dan penyelesaian berbagai persoalan sosial pun ikut melemah.
Kondisi ini menjadi peringatan serius bagi generasi muda Minangkabau. Sebab dalam sejarahnya, surau bukan sekadar tempat ibadah, tetapi juga pusat pembentukan karakter dan peradaban masyarakat. Karena itu, sudah saatnya generasi muda mengambil peran untuk menghidupkan kembali fungsi surau di tengah masyarakat.
1. Surau Pusat Pendidikan Islam di Minangkabau
Dalam sejarah Minangkabau, surau merupakan lembaga pendidikan Islam yang sangat penting. Banyak tokoh besar bangsa lahir dari tradisi pendidikan surau.
Para ulama besar Minangkabau seperti Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, Haji Abdul Karim Amrullah, hingga Buya Hamka tumbuh dalam lingkungan pendidikan Islam yang kuat yang berakar dari sistem surau.
Di tempat inilah generasi muda belajar membaca Al-Qur’an, memahami ilmu agama, sekaligus membangun karakter yang kuat.
2. Tradisi Surau Membentuk Karakter Generasi Tangguh
Salah satu ciri khas pendidikan surau adalah sistem tadarusan, di mana para murid duduk bersama di hadapan guru menggunakan rehal. Mereka saling mendengar bacaan Al-Qur’an dan saling memperbaiki kesalahan.
Dalam tradisi lama Minangkabau, para pemuda bahkan tinggal di surau. Mereka tidur bersama, bangun untuk salat malam, dan menjalani kehidupan sederhana yang membentuk karakter disiplin dan tangguh.
Surau pada masa itu berfungsi seperti “akademi moral masyarakat Minangkabau.”
3. Perubahan Pola Mengaji Generasi Sekarang
Saat ini pola pendidikan keagamaan banyak mengalami perubahan. Anak-anak memang masih belajar mengaji, tetapi seringkali hanya datang sebentar untuk menyetor bacaan kepada guru lalu pulang ke rumah.
Interaksi antar sesama murid menjadi sangat terbatas. Padahal proses kebersamaan dan pembinaan karakter dahulu justru terbentuk dari kehidupan bersama di surau.
Akibatnya, nilai-nilai kebersamaan dan kedisiplinan yang dahulu menjadi kekuatan masyarakat Minangkabau mulai berkurang.
4. Surau Pernah Menjadi Tempat Penyelesaian Masalah Sosial
Dalam kehidupan masyarakat Minangkabau tempo dulu, surau juga berfungsi sebagai ruang penyelesaian masalah sosial.
Ketika terjadi konflik rumah tangga, seorang laki-laki sering memilih pergi lalok (tidur) di surau. Di sana ia merenungkan persoalan yang dihadapi sekaligus meminta nasihat kepada guru surau.
Dengan kebijaksanaan guru surau, banyak persoalan keluarga dapat diselesaikan secara bijak. Tidak sedikit rumah tangga yang akhirnya terselamatkan melalui “nasehat surau.”
Kini ruang sosial semacam itu semakin jarang ditemukan. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) bahkan menunjukkan bahwa angka perceraian di Indonesia terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
5. Surau Berkaitan dengan Sistem Tungku Tigo Sajarangan
Dalam struktur sosial Minangkabau dikenal konsep Tungku Tigo Sajarangan, yaitu keseimbangan peran antara ninik mamak, alim ulama, dan cadiak pandai.
Surau merupakan ruang utama bagi para ulama dalam menjalankan fungsi pembinaan moral masyarakat. Ketika surau melemah, maka salah satu pilar penting dalam keseimbangan sosial Minangkabau ikut terganggu.
Sejarawan Islam Indonesia seperti Azyumardi Azra menjelaskan bahwa surau pada masa lalu bukan hanya lembaga pendidikan agama, tetapi juga pusat pembentukan jaringan ulama Nusantara.
Hal ini juga pernah diingatkan oleh Andriwifa dalam tulisannya di Asakato tentang pentingnya menghidupkan kembali nilai Tungku Tigo Sajarangan dalam kehidupan masyarakat Minangkabau.
Menghidupkan Kembali Surau untuk Masa Depan Minangkabau
Karena itu, menghidupkan kembali fungsi surau bukan sekadar nostalgia terhadap masa lalu. Ia merupakan kebutuhan sosial yang nyata.
Surau perlu kembali menjadi pusat pendidikan akhlak, tempat musyawarah masyarakat, dan ruang pembinaan generasi muda.
Tentu bentuknya tidak harus sama persis seperti dahulu. Surau dapat dikembangkan dengan pendekatan yang lebih sesuai dengan kebutuhan zaman, misalnya menjadi pusat pendidikan Al-Qur’an, ruang diskusi keislaman, pembinaan remaja, hingga kegiatan sosial masyarakat.
Yang paling penting adalah menghidupkan kembali ruh surau, yaitu semangat kebersamaan, pendidikan akhlak, dan kedekatan masyarakat dengan nilai-nilai agama.
Jika surau kembali hidup, maka bukan hanya bangunan yang berdiri kembali, tetapi juga kehidupan moral masyarakat yang akan ikut bangkit.
Dan untuk memulai semua itu, tidak perlu menunggu orang lain. Kita bisa memulainya dari diri sendiri, dari keluarga kita, dan dari surau yang ada di sekitar kita—mulai hari ini.
Referensi
- Azyumardi Azra. Surau: Pendidikan Islam Tradisional dalam Transisi dan Modernisasi.
- Taufik Abdullah. Kajian sejarah sosial Minangkabau.
- Badan Pusat Statistik. Data statistik perceraian nasional.
- Buya Hamka. Tulisan tentang tradisi pendidikan Islam Minangkabau.
- Artikel “Buktikan Menghidupkan Kembali Tungku 3 Tigo Sajarangan” oleh Andriwifa di Asakato.
Penulis: Buya Safrijon, MA
Bio Penulis:
Buya Safrijon, MA adalah Ketua Majelis Fatwa MUI Kabupaten Lima Puluh Kota, dan Ketua DMI Kabupaten Lima Puluh Kota
Mantap Dd. Semoga menjadi kebaikan bagi kita semua
Semoga menjadi kebaikan bagi kita semua