Buya KH. Sudirman Syair, ulama NU Sumatera Barat dan pengasuh Pondok Pesantren Ma’arif Assaadiyah Batu Nan Limo.
Batu Nan Limo, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat – Dalam lanskap keislaman Sumatera Barat, nama KH. Sudirman Syair dikenal sebagai simbol konsistensi dalam tarbiyah dan kepemimpinan ulama. Peran beliau tidak hanya terasa di lingkungan pesantren, tetapi juga dalam dinamika organisasi Nahdlatul Ulama hingga tingkat pusat.
Dari pondok pesantren yang beliau dirikan di Batu Nan Limo, nilai-nilai akhlak, disiplin ilmu agama, dan kepemimpinan sosial terus ditanamkan kepada para santri. Pendidikan ini membentuk generasi penerus yang tidak hanya memahami ilmu keislaman, tetapi juga siap berperan aktif di tengah masyarakat.
Jejak Pendidikan dan Awal Berdirinya Pesantren
Buya KH. Sudirman Syair merupakan alumni Madrasah Tarbiyah Islamiyah Surau Baru Mungka di Kabupaten Lima Puluh Kota, yang didirikan oleh Syekh Sa’ad Al-Khalidi . Sejak masa muda, beliau telah menekuni dunia tarbiyah dan pendidikan pesantren.
Semangat tersebut kemudian diwujudkan dengan mendirikan Pondok Pesantren Ma’arif Assaadiyah Batu Nan Limo sebagai pusat pendidikan Islam yang menggabungkan tradisi pesantren dengan kebutuhan pendidikan modern.
Dalam lintasan sejarah pendidikan Islam di daerah ini, tradisi tarbiyah juga dipengaruhi oleh ulama terdahulu, seperti Syech Muktar Engku Lakung yang pernah memimpin Madrasah Tarbiyah Islamiyah Koto Panjang. Tradisi ini menjadi salah satu inspirasi dalam metode pembinaan santri yang berkesinambungan di Sumatera Barat.
Tarbiyah sebagai Fondasi Pendidikan
Pondok Pesantren Ma’arif Assaadiyah menerapkan model pendidikan yang memadukan tradisi pesantren dengan sistem pendidikan formal. Pola ini menekankan keseimbangan antara penguasaan ilmu agama, akhlak, dan kemampuan sosial santri.
Beberapa komponen utama pendidikan di pesantren ini antara lain:
- Pembelajaran kitab klasik (kitab kuning) sebagai fondasi keilmuan pesantren
- Pendidikan formal yang mengikuti kurikulum Kementerian Agama dan Dinas Pendidikan
- Kegiatan ekstrakurikuler yang menumbuhkan kepemimpinan, kebersamaan, dan kemampuan sosial
Melalui pendekatan ini, santri tidak hanya dibekali pengetahuan agama, tetapi juga keterampilan untuk berinteraksi dan berkontribusi di tengah masyarakat.
Afiliasi NU dan Pendidikan Aswaja
Pesantren ini memiliki afiliasi dengan LP Ma’arif NU sebagai lembaga pendidikan di lingkungan Nahdlatul Ulama.
Dalam proses pendidikan, para santri mendapatkan penguatan materi keislaman berbasis Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja), antara lain:
- Penguatan aqidah Ahlussunnah wal Jamaah
- Pemahaman nilai-nilai ke-NU-an dalam kehidupan sehari-hari
- Pembinaan loyalitas organisasi dan tanggung jawab sosial
Melalui pendekatan ini, pesantren tidak hanya membentuk santri yang memahami agama secara mendalam, tetapi juga memiliki identitas ke-NU-an yang kuat.
Konsistensi Ulama Tarbiyah
Dalam membina santri, Buya KH. Sudirman Syair menekankan pentingnya keteladanan, kedisiplinan, serta kecintaan kepada Al-Qur’an dan hadis. Proses pendidikan berlangsung melalui pengajian rutin, diskusi keilmuan, serta kegiatan mudzakarah yang melatih kemampuan berpikir kritis santri.
Menurut beliau, pendidikan tidak cukup hanya mentransfer ilmu pengetahuan.
“Mendidik generasi penerus bukan sekadar mengajarkan ilmu, tetapi menanamkan akhlak dan karakter yang kuat.”
Pandangan ini menjadi dasar pendekatan pendidikan yang diterapkan di pesantren.
Peran di NU dan Dampak Sosial
Selain memimpin pesantren, Buya KH. Sudirman Syair juga berperan aktif di lingkungan Nahdlatul Ulama sebagai Rois Suriah PCNU Kabupaten Lima Puluh Kota.
Di lingkungan pesantren, berbagai badan otonom NU juga aktif menjalankan kegiatan organisasi, di antaranya:
- Gerakan Pemuda Ansor
- Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU)
- Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU)
- LAZISNU
- Muslimat NU
Keberadaan organisasi-organisasi ini menjadikan pesantren sebagai ruang pembelajaran kepemimpinan dan pengabdian sosial bagi para santri.
Generasi Penerus yang Bersinergi dengan Masyarakat
Para santri juga dilibatkan dalam berbagai kegiatan dakwah dan pengabdian masyarakat. Salah satu program yang rutin dilakukan adalah safari Ramadan ke sekitar 180 masjid dan mushalla di berbagai daerah.
Melalui kegiatan ini, santri dilatih menyampaikan ceramah, memimpin ibadah, dan berinteraksi langsung dengan masyarakat. Praktik tersebut menjadi bagian penting dari pendidikan tarbiyah yang menekankan keseimbangan antara ilmu dan pengabdian.
Prestasi Santri sebagai Cermin Tarbiyah
Selain aktif dalam kegiatan keagamaan dan sosial, santri Pondok Pesantren Ma’arif Assaadiyah juga menunjukkan prestasi di berbagai bidang.
Beberapa di antaranya adalah:
- Juara cabang bola voli putri dalam Sasabastech Competition 1 (Sasco 1)
- Juara lomba baca puisi tingkat kabupaten
Prestasi ini menunjukkan bahwa pendidikan pesantren tidak hanya berfokus pada aspek keagamaan, tetapi juga mendukung pengembangan bakat dan potensi santri.
Kesimpulan
Konsistensi tarbiyah yang dijalankan Buya KH. Sudirman Syair menunjukkan bahwa kepemimpinan ulama yang berlandaskan akhlak, ilmu, dan nilai-nilai Aswaja mampu melahirkan generasi penerus yang berkualitas.
Pondok Pesantren Ma’arif Assaadiyah Batu Nan Limo tidak hanya menjadi lembaga pendidikan, tetapi juga menjadi laboratorium pembentukan karakter yang menghubungkan tradisi pesantren, identitas Nahdlatul Ulama, dan kebutuhan umat di era modern.
Penulis:
Budi Mulya, SP adalah Wakil Sekretaris PCNU Lima Puluh Kota dan pemerhati isu sosial-keagamaan.