Masjid kita bukan sekadar bangunan tempat umat Islam melaksanakan shalat. Sejak masa Rasulullah SAW, masjid telah menjadi pusat kehidupan umat: tempat ibadah, tempat musyawarah, pusat pendidikan, hingga ruang membangun solidaritas sosial.
Namun dalam perjalanan waktu, banyak masjid yang secara fisik berdiri megah, tetapi belum sepenuhnya menjadi pusat kekuatan umat. Salah satu penyebabnya adalah karena jamaah sering diposisikan hanya sebagai penyumbang dana, bukan sebagai bagian penting dari proses membangun dan memakmurkan masjid itu sendiri.
Di sinilah pentingnya menghidupkan kembali satu ungkapan sederhana yang memiliki kekuatan besar dalam membangun kesadaran kolektif: “Masjid Kita.”
Ungkapan ini bukan sekadar kata-kata. Ia adalah panggilan kebersamaan, rasa memiliki, dan tanggung jawab bersama untuk menjaga serta memakmurkan rumah Allah.
Masjid Kita adalah Panggilan Tanggung Jawab
Secara hakiki, masjid adalah Baitullah, rumah Allah. Tidak seorang pun yang dapat mengklaim kepemilikan atasnya secara pribadi. Namun Allah mempercayakan kepada manusia untuk merawat dan memakmurkannya.
Karena itu, ungkapan “Masjid Kita” bukan berarti masjid menjadi milik manusia. Sebaliknya, ia adalah bentuk kesadaran bersama bahwa seluruh jamaah memiliki tanggung jawab moral terhadap keberadaan masjid.
Ketika jamaah merasa bahwa masjid adalah “masjid kita”, maka hubungan mereka dengan masjid tidak lagi sekadar hubungan sebagai pengguna. Mereka akan merasa menjadi bagian dari kehidupan masjid itu sendiri.
Rasa memiliki ini akan melahirkan kepedulian. Jamaah tidak hanya datang untuk menunaikan shalat, tetapi juga ikut menjaga kebersihan, merawat fasilitas, serta mendukung berbagai kegiatan yang memakmurkan masjid.
Di sinilah masjid mulai kembali berfungsi sebagai pusat kehidupan umat.
Membuka Ruang Partisipasi Umat
Umat Islam memiliki potensi yang sangat besar. Di dalam satu komunitas jamaah saja, kita dapat menemukan berbagai latar belakang profesi dan keahlian.
Ada yang ahli di bidang konstruksi, ada yang memiliki kemampuan manajemen, ada yang aktif dalam kegiatan sosial, bahkan banyak generasi muda yang memiliki kemampuan teknologi dan komunikasi digital.
Jika masjid mampu membuka ruang partisipasi bagi semua potensi tersebut, maka pembangunan dan pengelolaan masjid tidak hanya bergantung pada segelintir orang.
Sebaliknya, masjid akan menjadi proyek bersama umat.
Dalam suasana seperti ini, setiap orang merasa memiliki peran. Ada yang menyumbangkan tenaga, ada yang memberikan ide, ada yang membantu pengelolaan kegiatan, dan tentu ada pula yang menyumbang dana.
Partisipasi yang luas seperti ini akan memperkuat solidaritas jamaah. Masjid tidak lagi dipandang sebagai bangunan yang berdiri sendiri, tetapi sebagai simbol kebersamaan umat.
Ketika setiap orang merasa bahwa ini adalah Masjid Kita, maka semangat bekerja untuk kemajuan masjid akan tumbuh secara alami.
Amanah yang Dikelola Secara Transparan
Namun rasa memiliki tidak akan tumbuh tanpa adanya kepercayaan.
Kepercayaan jamaah hanya dapat dibangun melalui pengelolaan yang rapi, terbuka, dan profesional. Setiap sumbangan yang diberikan oleh jamaah harus dikelola dengan penuh tanggung jawab.
Pengurus masjid perlu memastikan bahwa setiap pemasukan dan pengeluaran tercatat dengan jelas dan dapat dipertanggungjawabkan. Laporan keuangan yang transparan bukan sekadar bentuk administrasi, tetapi juga bagian dari menjaga amanah umat.
Dalam hal ini, pengelolaan masjid bahkan dapat belajar dari disiplin lembaga-lembaga profesional seperti lembaga keuangan atau organisasi modern. Tentu dengan tetap menjaga nilai-nilai keikhlasan dan semangat ibadah.
Ketika jamaah melihat pengelolaan yang jujur dan terbuka, kepercayaan akan tumbuh. Dan ketika kepercayaan itu tumbuh, semangat gotong royong jamaah akan semakin kuat.
Di sinilah rasa memiliki terhadap masjid benar-benar hidup dalam hati umat.
Membangun Masjid, Merajut Kekuatan Umat
Masjid yang kuat bukan hanya diukur dari kemegahan bangunannya. Masjid yang kuat adalah masjid yang mampu menyatukan berbagai potensi umat di sekitarnya.
Semangat “Masjid Kita” memiliki kekuatan untuk mewujudkan hal tersebut. Ia membangkitkan kesadaran bahwa setiap orang memiliki peran dalam memakmurkan rumah Allah.
Dengan semangat ini, pembangunan masjid tidak hanya menghasilkan bangunan fisik, tetapi juga melahirkan kebersamaan, solidaritas, dan kemandirian umat.
Pada akhirnya, setiap batu yang disusun dalam pembangunan masjid bukan hanya membentuk dinding dan kubah. Ia juga menjadi simbol dari kerja bersama, keikhlasan, dan harapan umat untuk menjadikan masjid sebagai pusat peradaban.
Daftar Pustaka
Al-Qaradawi, Y. (2001). The role of the mosque in the community. Islamic Inc.
Hassan, A. K., & Syafri, M. (2022). Islamic social capital and mosque-based community development. Journal of Islamic Management, 6(2), 112–125.
Ostrom, E. (1990). Governing the commons: The evolution of institutions for collective action. Cambridge University Press.
Bio Penulis
Drs. Andriwifa, M.Si adalah akademisi dan Editor in Chief asakato.com yang menaruh perhatian pada pembangunan sosial dan penguatan kelembagaan umat.