Sirene Patwal. Jalan raya adalah panggung teater paling jujur di Republik ini. Di atas aspal yang panas, kita bisa melihat dengan telanjang siapa yang benar-benar “Berpancasila” dan siapa yang hanya “Pancasilais” di atas kertas namun feodal di balik kemudi. Jika Indonesia Emas 2045 dicanangkan sebagai puncak peradaban, maka ujian harian kita hari ini bukan di ruang sidang, melainkan di tengah kemacetan.
Paradoks Kapasitas: Finansial vs Etika
Fenomena penggunaan jasa pengawalan (patwal) untuk kepentingan non-darurat kerap terlihat di jalan raya. Raungan sirene dan lampu strobo yang membelah kemacetan demi kepentingan pribadi atau bisnis menjadi sinyal bahaya yang tak bisa diabaikan.
Ketika kapasitas finansial melampaui kapasitas etika, yang lahir bukanlah warga negara (citizen), melainkan “penjajah domestik”.
Fisikawan Albert Einstein pernah mengingatkan: “Hormat kepada martabat manusia adalah satu-satunya jalan menuju kemajuan sejati.” Saat seseorang merasa berhak merampas hak waktu orang lain dengan kekuatan transaksi, ia sebenarnya sedang menggerus martabat sesama pengguna jalan.
Secara filosofis, ini adalah pengkhianatan terhadap kontrak sosial. Keadilan sejati—sebagaimana gagasan John Rawls dalam A Theory of Justice—hanya tercapai jika kita mampu menghormati aturan tanpa memandang apakah kita berada di balik kemudi mobil mewah atau di atas pedal sepeda.
Alua jo Patuik: Etika Jalan dalam Tinjauan Adab
Dalam kearifan lokal Minangkabau, dikenal konsep Alua jo Patuik (alur dan patut). Jalan raya adalah ruang di mana “alur” (regulasi) harus bertemu dengan “patut” (kepatutan sosial). Namun hari ini, kepatutan kerap kali kalah oleh kekuatan yang mampu “membeli prioritas”.
Padahal, dalam perspektif Islam, jalan memiliki haknya sendiri (haqquth thariq). Rasulullah SAW bersabda: “Berikanlah jalan itu haknya… menyingkirkan gangguan dari jalan.” (HR. Bukhari & Muslim).
Menjadi gangguan dengan paksaan sirene untuk urusan non-darurat adalah bentuk kesombongan (kibr). Al-Qur’an mengingatkan dengan tegas:
“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong…” (QS. Al-Isra: 37).
Integritas sejati diuji bukan saat seseorang memiliki kuasa, tetapi ketika ia mampu menahan diri untuk tidak merampas hak orang lain meskipun memiliki kemampuan untuk melakukannya.
Laboratorium Pancasila di Atas Aspal
Sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, seharusnya teruji di setiap jengkal jalan yang dibangun dari pajak kolektif. Jalan raya adalah ruang publik, bukan ruang privat yang bisa dikuasai oleh kekuatan transaksional.
Ketika ruang publik dipaksa tunduk pada privilese, maka yang terjadi bukan sekadar pelanggaran lalu lintas, tetapi gejala pembusukan nilai-nilai kebangsaan.
Mahatma Gandhi pernah berujar: “Dunia ini cukup untuk memenuhi kebutuhan semua orang, namun tidak cukup untuk memenuhi kerakusan satu orang.”
Indonesia Emas tidak boleh dihuni oleh manusia yang melihat sesama warga negara sebagai “hambatan logistik” yang harus disingkirkan. Penggunaan pengawalan untuk urusan privat pada akhirnya mencerminkan kegagalan dalam mengelola waktu, disiplin, dan empati sosial.
Penutup: Menuju Kedaulatan Mental
Menghargai pejalan kaki, tertib dalam antrean, dan menolak menggunakan privilese untuk kepentingan pribadi adalah bentuk nyata dari kedaulatan mental.
Sebuah bangsa besar tidak diukur dari seberapa banyak orang kaya yang memamerkan hartanya, melainkan dari seberapa banyak mereka yang tetap tunduk pada aturan publik.
Indonesia Emas hanya akan menjadi emas murni jika ditempa dengan karakter yang menjunjung kesetaraan. Tanpa itu, kita hanya akan bergerak menuju “Indonesia Cemas”—sebuah negeri yang mungkin kaya secara materi, namun bangkrut secara nurani.
Mari kita mulai dari hal sederhana: cara kita memegang setir, menghormati antrean, dan memperlakukan sesama pengguna jalan dengan adab.
Sebab, adab tidak bisa dibeli dengan sirene.
Oleh: Drs. Andriwifa, M.Si.
(Dosen Praktisi & Pemerhati Integritas Publik)
Dukung Asakato Media
Dengan Gerakan Serbu Asakato, cukup 10.000 saja kita bangun bersama media nagari ini agar tetap menyuarakan informasi umat dan daerah.
Scan QRIS untuk donasi