Banjir di Kota Payakumbuh memunculkan perhatian terhadap kondisi kawasan hulu dan daya dukung lingkungan.
PAYAKUMBUH,asakato.com – Hujan deras yang mengguyur Kota Payakumbuh pada Selasa malam memang menjadi pemicu banjir di sejumlah titik. Namun pertanyaan yang mulai muncul di tengah masyarakat adalah, mengapa air kini terasa semakin cepat meluap ke kawasan kota?
Banjir yang merendam rumah warga, fasilitas pendidikan, dan ruas jalan utama itu seolah menjadi pengingat bahwa persoalan tidak lagi sekadar tentang hujan. Ada hubungan panjang antara kondisi kawasan hulu, perubahan lahan, dan kemampuan tanah menyerap air yang mulai melemah.
Data prakiraan cuaca dari BMKG Sumatera Barat menunjukkan wilayah Sumatera Barat bagian tengah, termasuk Kota Payakumbuh dan Kabupaten Lima Puluh Kota, berada dalam pola cuaca basah dalam beberapa hari terakhir. Potensi hujan ringan hingga hujan petir terjadi hampir sepanjang hari dengan tingkat kelembapan udara yang tinggi.
BMKG sebelumnya juga mengingatkan adanya fenomena atmosfer global aktif yang meningkatkan peluang hujan lebat di sejumlah wilayah Indonesia pada awal Mei 2026. Dalam kondisi seperti itu, daerah dengan daya dukung lingkungan yang lemah biasanya lebih rentan mengalami banjir dan limpasan air.
Secara geografis, Kota Payakumbuh berada di kawasan kaki Bukit Barisan dan dilalui sejumlah aliran sungai seperti Batang Agam dan Batang Lampasi. Kondisi topografi itu membuat kawasan kota menjadi bagian hilir yang menerima aliran air dari daerah perbukitan di sekitarnya. Wikipedia Kota Payakumbuh
Kota Hilir yang Menerima Air dari Hulu
Ketika hujan turun di kawasan hulu, air secara alami akan bergerak menuju daerah yang lebih rendah. Sungai, anak sungai, hingga drainase perkotaan menjadi jalur utama yang membawa air menuju kawasan kota.
Dalam kondisi normal, kawasan hulu sebenarnya memiliki kemampuan alami untuk menyimpan air hujan. Vegetasi, akar tanaman, dan lapisan tanah yang sehat bekerja seperti spons yang menahan air agar tidak langsung turun sekaligus ke kawasan hilir.
Namun kemampuan itu perlahan bisa berkurang ketika tutupan vegetasi mulai hilang dan permukaan tanah semakin terbuka. Air yang sebelumnya terserap ke dalam tanah akhirnya lebih banyak berubah menjadi limpasan permukaan.
Ketika Tanah Tak Lagi Menyerap Air
Dalam beberapa tahun terakhir, perubahan lanskap di kawasan perbukitan sekitar Payakumbuh dan Kabupaten Lima Puluh Kota mulai semakin terlihat. Sebagian lereng yang sebelumnya ditutupi vegetasi kini berubah menjadi lahan budidaya terbuka dan kawasan perkebunan rakyat.
Perubahan tersebut memang menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat. Namun tanpa pola konservasi tanah yang memadai, kondisi itu dapat mengurangi kemampuan tanah menyimpan air hujan.
Dalam ilmu konservasi tanah, tanaman penutup atau cover crop memiliki fungsi penting menjaga struktur tanah dan memperbesar infiltrasi air ke dalam tanah. Ketika vegetasi penutup berkurang, air hujan akan lebih mudah mengalir di permukaan tanah menuju sungai dan kawasan rendah.
Akibatnya, volume air yang masuk ke Batang Agam dan drainase kota meningkat dalam waktu singkat. Kondisi itu diperparah sedimentasi, penyempitan aliran sungai, sampah, serta kapasitas drainase perkotaan yang terbatas menghadapi debit air besar secara bersamaan.
Banjir Bukan Hanya Soal Hujan
Dokumen pengelolaan sumber daya air dan kehutanan di Sumatera Barat juga menyebut perubahan tata guna lahan menjadi salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko erosi, limpasan permukaan, dan banjir di kawasan hilir.
Karena itu, persoalan banjir tidak cukup diselesaikan hanya dengan normalisasi drainase kota. Perhatian terhadap kawasan hulu, konservasi tanah, perlindungan daerah tangkapan air, hingga pola pengelolaan lahan menjadi bagian penting yang tidak bisa dipisahkan.
Hubungan antara kota dan kawasan hulu pada akhirnya menjadi satu kesatuan yang saling memengaruhi. Ketika lereng kehilangan kemampuan menyimpan air, maka kawasan hilir akan menjadi tempat pertama yang menerima dampaknya.
Banjir mungkin datang dalam satu malam. Namun penurunan daya dukung lingkungan biasanya berlangsung perlahan selama bertahun-tahun.
Karena itu, banjir di Payakumbuh seharusnya tidak hanya dipandang sebagai bencana musiman. Peristiwa ini juga menjadi pengingat bahwa hubungan manusia, tanah, air, dan kawasan hulu perlu kembali dijaga bersama sebelum dampaknya semakin besar di masa depan.
(*)
Penulis:
Tim Asakato Media
Editor:
Budi Mulya, SP