Ilustrasi perubahan cara umat belajar agama di era digital
5 Kegelisahan Dakwah: Ketika Google Lebih Dipercaya dari Ustaz
Suatu malam di sebuah nagari di Kabupaten Lima Puluh Kota, saya diminta mengisi pengajian seperti biasa. Jamaah ibu-ibu cukup banyak. Mereka duduk rapi, mendengar dengan khidmat. Wajah-wajah mereka tampak tenang, seolah menemukan ruang teduh di tengah kesibukan hidup sehari-hari.
Pengajian berjalan lancar. Materi disampaikan dengan bahasa sederhana, berusaha mendekatkan ajaran agama dengan realitas kehidupan yang mereka jalani. Sesekali terlihat anggukan, senyuman, dan suasana terasa hangat serta penuh keakraban.
Namun, ketika waktu Isya tiba dan kami bersiap melaksanakan salat berjamaah, ada pemandangan yang membuat saya terdiam sejenak. Jamaah laki-laki hanya satu orang, sementara jamaah perempuan cukup banyak di belakang.
Salat tetap dilaksanakan. Shaf yang terbentuk sederhana dan tidak terlalu rapat seperti gambaran ideal dalam banyak ceramah. Dalam kondisi seperti itu, kami memilih yang paling memungkinkan untuk menjaga kekhusyukan dan kelangsungan jamaah.
Baca juga : Makna Zakat Fitrah di Era Modern: Antara Ibadah dan Solidaritas Sosial
Ketika Praktik Tidak Selalu Ideal
Selesai salat, seorang jamaah perempuan menghampiri saya. Nada bicaranya tegas, seolah ingin meluruskan.
“Pak ustaz, shafnya tadi tidak rapat dan tidak sejajar seperti yang seharusnya…”
Saya mencoba menjelaskan dengan tenang. Bahwa meluruskan dan merapatkan shaf memang dianjurkan dalam Islam. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Luruskanlah shaf kalian, karena meluruskan shaf termasuk kesempurnaan salat.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Namun, para ulama juga menjelaskan bahwa kerapian shaf merupakan penyempurna salat, bukan penentu sah atau tidaknya.
Dalam kondisi jamaah yang terbatas dan dinamis—terutama jika ada kemungkinan jamaah datang di tengah salat—ada ruang kebijaksanaan dalam pelaksanaannya. Yang terpenting adalah rukun dan syarat salat terpenuhi serta kekhusyukan tetap terjaga.
Ia mendengar. Namun saya merasakan, ia tidak benar-benar menerima. Sejak malam itu, ia tidak lagi terlihat hadir di majelis tersebut.
Era Baru: Google vs Ustaz
Saya pulang dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Bukan karena diperdebatkan—itu hal biasa. Tapi karena saya mulai menyadari sesuatu yang lebih dalam: cara umat memahami agama sedang berubah.
Hari ini, orang bisa belajar agama dari mana saja. Dari video singkat, potongan ceramah, hingga hasil pencarian di internet. Semua tersedia dengan cepat dan terasa meyakinkan.
Tanpa disadari, seseorang bisa menyerap pemahaman dari sudut pandang tertentu yang belum tentu utuh.
Masalahnya, agama bukan hanya soal “apa yang benar”, tetapi juga bagaimana memahami kebenaran itu dalam konteks kehidupan nyata.
Apa yang terlihat ideal di layar, belum tentu mudah diterapkan di lapangan. Apa yang terdengar tegas dalam ceramah, belum tentu sederhana dalam praktik.
Fenomena ini sebenarnya tidak berdiri sendiri. Di banyak tempat, pola serupa mulai terlihat—umat lebih cepat merujuk pada hasil pencarian digital dibanding bertanya langsung kepada guru atau penyuluh. Algoritma seolah menjadi “otoritas baru” yang dianggap netral, padahal ia hanya menyajikan potongan informasi berdasarkan popularitas, bukan kedalaman. Akibatnya, pemahaman agama sering terfragmentasi—kuat di satu sisi, tetapi lemah dalam konteks dan kebijaksanaan. Di sinilah peran penyuluh menjadi semakin penting, bukan sekadar sebagai penyampai ilmu, tetapi sebagai penjernih makna di tengah banjir informasi.
Kegelisahan Seorang Penyuluh
Di sinilah kegelisahan itu muncul.
Sebagai penyuluh, kita tidak lagi hanya berhadapan dengan ketidaktahuan. Justru sering berhadapan dengan keyakinan yang sudah terbentuk—tanpa proses pemahaman yang utuh.
Dan meluruskan sesuatu yang “merasa sudah benar” jauh lebih sulit daripada mengajarkan kepada yang benar-benar belum tahu.
Saya pun mulai bertanya pada diri sendiri:
Apakah umat mulai meninggalkan penyuluh?
Ataukah kita yang belum cukup hadir dalam cara yang mereka pahami?
Dakwah yang Menenangkan di Era Informasi
Mungkin kita perlu lebih dari sekadar menyampaikan dalil. Kita perlu menghadirkan ketenangan.
Mungkin kita tidak cukup hanya menjelaskan hukum. Kita juga harus menunjukkan hikmah.
Karena di zaman ini, umat tidak kekurangan informasi. Mereka justru kelebihan informasi—dan sering kehilangan arah dalam memilahnya.
Menjadi penyuluh hari ini bukan tentang menjadi yang paling benar. Tapi menjadi yang paling mampu mendampingi dengan sabar dan bijak.
Karena pada akhirnya, yang dicari umat bukan hanya jawaban yang cepat, tetapi bimbingan yang menenangkan.
Dan itu…
tidak selalu bisa mereka temukan di Google.
Baca juga : Rahasia Besar Rezeki Terungkap: Cara Kerja Aliran Rezeki dalam Sains dan Ketentuan Ilahi
Penutup: Siapa Penyuluh Zaman Ini?
Tulisan ini bukan untuk menyalahkan siapa pun. Ini adalah ajakan untuk menghadirkan dakwah yang lebih membumi, bijak, dan menenangkan di tengah derasnya arus informasi.
Pertanyaannya kini:
Siapa penyuluh agama di zaman ini?
Dan…
sudahkah kita menjadi bagian dari jawabannya?
Rujukan Singkat
- Hadis tentang pentingnya meluruskan shaf (HR. Bukhari dan Muslim)
- Penjelasan ulama tentang shaf sebagai penyempurna salat
- Kajian fikih tentang fleksibilitas praktik berjamaah di lapangan
Profil Penulis
Andika Figora, S.Th.I., Ketua Umum Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia Kabupaten Lima Puluh Kota.
Maasyaa Allah.. kereen Ustadz.. 👍
Iyaa betul… tidak semua bisa dicari di google, setidaknya wajah tulus dan tenang yang langsung bertatap muka, menyapa dengan senyum bahagia pada jamaah, hanya ada di dunia nyata..
Salam Dakwah.. 🙏
“Pak ustaz, shafnya tadi tidak rapat dan tidak sejajar seperti yang seharusnya…”
Saya mencoba menjelaskan dengan tenang. Bahwa meluruskan dan merapatkan shaf memang dianjurkan dalam Islam. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Luruskanlah shaf kalian, karena meluruskan shaf termasuk kesempurnaan salat.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Namun, para ulama juga menjelaskan bahwa kerapian shaf merupakan penyempurna salat, bukan penentu sah atau tidaknya.
Dalam kondisi jamaah yang terbatas dan dinamis—terutama jika ada kemungkinan jamaah datang di tengah salat—ada ruang kebijaksanaan dalam pelaksanaannya. Yang terpenting adalah rukun dan syarat salat terpenuhi serta kekhusyukan tetap terjaga.
Ijin menyampaikan pandanga semoga menjadi masukan ustadz, Yusuf Mahasiswa PAI di PTS Payakumbuh yang masih belajar, terkadang memang kebijaksaan sangat diperlukan namun, yang dipahami bahwa banyak kebenaran yang seharunya menyempurnakan ibadah, lebih ditutupi oleh pandangan bijak sana ulama. Semoga menjadi diskusi baik kedepannya