Dr. H. Ifkar, M.Ag., penulis opini tentang momentum promosi madrasah berbasis nilai Qur’ani dan prestasi.
Dr. H. Ifkar, M.Ag.
PENDAHULUAN
Persaingan dunia pendidikan era kini dan ke depan adalah kemestian yang tidak terelakkan. Semua penyelenggara pendidikan, baik oleh pemerintah maupun masyarakat, harus terbuka menerima kenyataan, bahwa nyaris semua lembaga pendidikan berikhtiar keras merebut pasar pendidikan, tidak terkecuali madrasah.
Semua berpacu menebar pesona, memikat siswa, orang tua, dan masyarakat dengan berbagai cara, di antaranya melalui digital branding, suguhan produk unggulan dan prestasi, kompetisi antar lembaga pendidikan, serta pemberdayaan alumni.
Kuanta Indonesia merilis 7 strategi efektif meningkatkan jumlah siswa, sebagai berikut: membangun citra positif, memperkuat kehadiran online, pelibatan komunitas, mengadakan kegiatan open house dan kegiatan promosi, menawarkan program beasiswa, optimalisasi pengalaman siswa, dan pemanfaatan teknologi.
Terus Bersama Asakato
Asakato hadir menghadirkan informasi, inspirasi, dan literasi untuk masyarakat. Dukungan pembaca membantu kami terus berkarya.
Dukung melalui Asakato.shopTanggung jawab yang sama juga dilakukan oleh madrasah, ikut berkompetisi merebut simpati pasar pendidikan melalui keunikan dan spesifikasi yang dimiliki. Perjuangan mendapatkan siswa sebanyak-banyaknya adalah amanat yang mesti ditunaikan.
Kementerian Agama sebagai pengayom madrasah, terus meneguhkan diri dan berkomitmen untuk memberikan yang terbaik bagi seluruh masyarakat, pembangunan bidang keagamaan harus berdampak langsung secara positif dan masif kepada masyarakat.
Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Agama RI telah menetapkan delapan program prioritas Kemenag berdampak, yang dikenal dengan Asta Protas Kemenag Berdampak.
Berikut delapan program prioritas dimaksud, 1) meningkatkan kerukunan dan cinta kemanusiaan, 2) penguatan ekoteologi, 3) layanan keagamaan berdampak, 4) mewujudkan pendidikan unggul, ramah, dan terintegrasi, 5) pemberdayaan pesantren, 6) pemberdayaan ekonomi umat, 7) sukses haji, 8) digitalisasi tata kelola.
Program mandatori yang telah ditetapkan oleh kementerian ini, harus menjadi rujukan utama dalam pelaksanaan tugas-tugas satuan kerja di bawahnya, termasuk juga madrasah dan lembaga pendidikan Islam lainnya.
Terkait dengan ini, maka Kementerian Agama menyiapkan langkah-langkah strategis untuk mengimplementasikannya dalam setiap program dan kegiatan di madrasah yang dampaknya langsung dirasakan oleh masyarakat.
Di antara langkah-langkah strategis yang bisa dilakukan adalah pertama memastikan bahwa setiap madrasah telah memiliki visi dan misi yang relevan dengan kondisi madrasah dan tersambung langsung dengan kebutuhan dan kepuasan masyarakat, kedua visi dan misi organisasi telah dituangkan dan diterjemahkan dalam setiap program dan kegiatan yang memiliki respek kepada semua orang, ketiga melakukan review dan evaluasi secara berkala, untuk memastikan semua program dan kegiatan bisa terkawal dengan baik untuk perbaikan secara berkesinambungan.
Langkah-langkah strategis sebagaimana disebut di atas, merupakan basis manajemen mutu, yang mesti diimplementasikan oleh madrasah.
Tata kelola madrasah seperti ini diyakini bisa mewujudkan program dan kegiatan secara optimal berorientasi pada proses dan hasil yang wujud akhirnya adalah menjadikan madrasah sebagai rahim prestasi dan pantas berpromosi.
POSITIONING MADRASAH DALAM PENDIDIKAN
Madrasah merupakan lembaga pendidikan Islam yang telah tumbuh sejak tahun 400 H/1009 M, Madrasah Miyan Dahiya di Naishabur, Madrasah Saidiyah pada masa Sultan Mahmud al-Ghaznawi tahun 421 H/1030 M, dan madrasah Nizamiyah yang didirikan oleh Wazir Nizham al-Mulk pada 1064 M.
Konten pembelajaran spesifik pada al-Ulum al-Islamiyah, atau al-ulum al-diniyah, khususnya berkaitan dengan fikih, tafsir, dan hadis, belum terintegrasi dengan sains.
Untuk konteks ini, positioning madrasah menjadi pusat pembelajaran yang kajian pembelajarannya fokus pada ilmu-ilmu keislaman, relevan dengan penamaannya yang berasal dari kata darasa, yadrusu, darsan, yang berarti “belajar”, dan madrasah berarti “tempat belajar”.
Oleh sebab itu kedudukannya menjadi sangat strategis sebagai resources, rahim lahirnya para ilmuwan, bahkan ilmuwan-ilmuwan muslim terkenal seperti Imam Al-Ghazali dengan filsafat Islam, teologi, Al-Juwainy, sebagai ilmuan Hukum Islam, dan teologi, serta banyak ilmuan muslim lainnya juga lahir dari madrasah.
Di Indonesia, madrasah mulai berdiri di awal abad 20 sebelum kemerdekaan Indonesia, pendiriannya atas kesadaran (awareness) bahwa transformasi masyarakat sangat dinamis dan progresif, oleh sebab itu, sangat dibutuhkan instrumen vital yang bisa menyelaraskan spirit dan realita perubahan dimaksud terakomodasi dengan baik oleh masyarakat.
Pada awal kemunculannya madrasah fokus pada pembelajaran materi keislaman.
Selain itu madrasah juga menjadi salah satu instrumen penting dalam perjuangan merebut kemerdekaan, berkontribusi pada internalisasi nilai-nilai kebangsaan berbasis iman, menumbuhkan karakter pejuang, serta menjadi penyangga utama pelestarian identitas kebangsaan melalui penjagaan dan pewarisan budaya bangsa.
Oleh sebab itu, pada konteks sejarah sangat terlihat bahwa posisi madrasah memiliki sumbangan sangat besar pada ikhtiar melakukan transformasi masyarakat menuju masyarakat berperadaban berbasis nilai, serta membantu mewujudkan kemerdekaan bagi Republik ini.
Pada fase berikutnya, tahun 1975–1990, madrasah disebut sebagai sekolah yang berciri khas agama Islam dengan kurikulum memiliki kesamaan, walaupun tidak persis sama, dengan sekolah.
Kurikulum yang digunakan sekolah juga dipakai oleh madrasah, diperkaya dengan mata pelajaran keislaman.
Secara kelembagaan, posisi madrasah semakin kuat, menjadi setara dengan sekolah umum lainnya, implikasinya siswa yang memiliki ijazah madrasah terbuka dan berkesempatan melanjutkan pendidikan ke lembaga pendidikan umum lain atau sebaliknya.
Pada fase selanjutnya, perspektif Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003, posisi madrasah semakin lebih kokoh, sebagaimana diungkap oleh Dirjen Pendidikan Islam Kemenag RI, Mohammad Ali, bahwa lembaga pendidikan Islam terintegrasi langsung dengan sistem pendidikan nasional, maka posisinya semakin kuat dalam sistem pendidikan Nasional.
Madrasah terus bertransformasi menjadi lebih baik, di tiga tahun terakhir 2004–2026, madrasah berprestasi nasional dan internasional.
Menteri Agama Nasaruddin Umar memberikan penghargaan kepada 9 Madrasah Aliyah Negeri (MAN) unggulan dalam kegiatan Penguatan Madrasah Mendunia dan Penyerahan Sertifikat International Baccalaureate (IB) Diploma Programme di Serpong.
Ini adalah pembuktian bahwa madrasah berada pada posisi yang strategis ikut berkontribusi memajukan bangsa dan layak menjadi pilihan masyarakat menyekolahkan anak-anak mereka.
MADRASAH RAHIM PRESTASI MENUJU INSAN KAMIL
Humanisasi kemanusiaan sebagai ideologi utama pendidikan mesti menjadi pondasi dasar dalam seluruh gerakan pendidikan.
Demikian juga dengan madrasah, harus memastikan bahwa seluruh proses pembelajaran mengantarkan siswa pada puncak kemanusiaannya, dalam terminologi pendidikan Islam puncak kemanusiaan tersebut biasa dikenal dengan “insan kamil”.
Naquib Al-Attas menyebut bahwa pendidikan sejatinya adalah upaya menyemai dan menginternalisasi nilai-nilai keadaban dalam bentuk proses ta`dib, contoh idealnya adalah Nabi Muhammad saw., yang oleh kebanyakan sarjana muslim menyebutnya dengan Manusia Sempurna atau Manusia Universal (al-insan al-kully).
Pada perspektif formal dan prosedural, maka pendidikan dan pembelajaran bisa saja diposisikan sebagai proses pengajaran yang sistematikanya runut dari awal sampai berakhir, telah memenuhi kewajiban guru dan siswa serta instrumen pendidikan lainnya.
Namun demikian, pendidikan bukan sekadar pemenuhan prosedural dan formalitas pengajaran (procedure and formal teaching), namun harus menyentuh esensi substansial yang kaya dengan nilai-nilai dasar kemanusiaan (humanistic values).
Oleh sebab itu, madrasah tidak diperkenankan menyajikan pembelajaran yang berhenti pada dimensi prosedural saja, namun harus berazam menembus ruang esensial, meliputi ikhtiar pencerdasan intelektual, emosional, spiritual, dan kinestetik sebagai persyaratan mengantarkan siswa pada kemuliaan dan keadaban yang sesungguhnya pada pandangan Allah Swt.
Madrasah sejatinya harus berjuang keras untuk menjadi rahim yang ramah dengan nilai-nilai keadaban.
Membantu siswa meraih tahta prestasi untuk semua ranah kecerdasan, impresif dan progresif menyemai siswa meraih insan kamil.
Semua instrumen pendidikan, guru, siswa, sarana, biaya, metode, evaluasi dan lainnya harus tampil maksimal berkolaborasi mewujudkan tujuan asasi pendidikan, yaitu kemuliaan (al-fadhilah), integrasi kesejahteraan dunia dan akhirat sekaligus.
Prestasi sesungguhnya adalah impian semua warga madrasah apalagi siswa.
Mereka bersama orang tua, masyarakat dan pemerintah dipastikan sangat membutuhkan lompatan prestasi di semua lini kecerdasan, intelektual akademik, berilmu pengetahuan, ketika berkompetisi di bidang sains bisa tampil sebagai yang terbaik.
Kompetensi sosial moral, tampil sebagai pribadi yang saleh, bermanfaat bagi semuanya.
Kompetensi spiritual ilahiyah, menjadi hamba Allah dengan sikap keberagamaan yang berdimensi keimanan, ketaqwaan, dan akhlak mulia.
Kompetensi psikomorik teknikal, memiliki ketermapilan keahlian tertentu untuk modal memasuki dunia kerja yang produktif.
Modal prestasi sebagaimana disebut di atas, menjadi instrumen penting melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya dengan kualifikasi bermutu tinggi dan dapat diandalkan.
Prestasi sejatinya juga adalah pembuktian bahwa kerja-kerja madrasah terimplementasi secara maksimal, sebagai komitmen menunjukkan kesungguhan meraih target yang ditetapkan dan siap bermaklumat dengan totalitas prestasi.
MOMENTUM SEREMONIAL: INTEGRASI PERPISAHAN SEKALIGUS WISUDA TAHFIZ QURAN
Frase momentum bermakna gerakan yang berkekuatan tertentu, untuk melakukan transformasi pada waktu, situasi dan tempat yang seharusnya.
Maka ketika ditemukan redaksi “kehilangan momentum”, artinya ada kesempatan luar biasa yang terabaikan begitu saja, karena setiap peristiwa ada momentumnya, setiap momentum ada peristiwanya.
Kemampuan membaca dan menganalisis momentum sejatinya bisa menghasilkan sesuatu yang spektakuler, mendatangkan manfaat yang amat besar.
Momentum digital misalnya, ternyata mampu menghasilkan sesuatu yang fantastis.
Dampaknya mendunia dan meluas ke berbagai sektor kehidupan manusia, baik sebagai perorangan maupun kelembagaan.
Menghasilkan sesuatu yang bisa menyisir ruang efisiensi, efektivitas, percepatan, ketepatan, keterbukaan, kemitraan, kepuasan pelanggan, dan lainnya.
Oleh sebab itu, siapa pun dan lembaga apa pun harus cerdas membaca momentum agar tidak kehilangan kesempatan mahal.
Tidak terkecuali madrasah, harus cakap dan terampil membaca momentum bagi keperluan dan kemajuan madrasah.
Seremonial perpisahan menjadi salah satu kesempatan sekaligus peluang bagi madrasah mengunjukkan dirinya kepada masyarakat.
Kemasan acara didesain sedemikian rupa, disiapkan secara maksimal, agar bisa tampil optimal, sehingga kesan yang dihadirkan adalah opini positif tentang madrasah.
Inilah di antara kepiawaian madrasah membaca momentum, memandang bahwa ada nilai dengan harga tinggi pada seremonial perpisahan.
Beberapa tahun terakhir, berbagai lembaga pendidikan termasuk madrasah menjadikan integrasi wisuda tahfiz al-Quran dan kegiatan perpisahan siswa tahun akhir sebagai ajang khusus berbagi informasi capaian prestasi.
MTsN 3 Lima Puluh Kota misalnya, melaksanakan seremonial Wisuda Tahfidz Quran ke-IX yang diintegrasikan dengan kegiatan pelepasan siswa kelas IX Tahun Pelajaran 2025/2026 pada Rabu, 13 Mei 2026 yang diikuti oleh 322 siswa kelas IX.
Seremonial yang mirip sama juga dilaksanakan oleh MI Terpadu Al Falah dan MDTA Al Falah Tanjungpati, Kabupaten Lima Puluh Kota menggelar Khatam Al-Qur’an, Wisuda Tahfidz dan Wisuda Iqra’, Senin 12 Januari 2026 bertempat di Ballroom Politani Payakumbuh Sarilamak Tanjungpati.
Kegiatan serupa juga dilaksanakan oleh MTsN 5 Lima Puluh Kota, 182 orang peserta didik MTsN 5 Lima Puluh Kota pada 8 Mei 2026 mengikuti prosesi wisuda tahfidz angkatan ke-IV tahun 2026 sekaligus acara pelepasan siswa kelas IX.
Agenda tahunan tersebut dihadiri oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Lima Puluh Kota, Anggota DPRD Lima Puluh Kota, Ketua Baznas Lima Puluh Kota, Kepala KUA Kecamatan Situjuah, Camat Kecamatan Situjuah serta tamu undangan lainnya.
Selasa, 14 April 2026. MAN Lima Puluh Kota melaksanakan agenda serupa Wisuda Tahfizh Quran Angkatan V, Launching Buku karya guru dan siswa, peluncuran Genius Podcast, serta Pengembalian Siswa Kelas XII Tahun Pelajaran 2025/2026 kepada orang tua.
Inilah sederetan madrasah di Lima Puluh Kota termasuk juga beberapa madrasah lainnya di Indonesia yang memanfaatkan momentum seremonial perpisahan yang dipadukan dengan kegiatan wisuda tahfiz al-Quran.
Integrasi dua agenda ini bagi madrasah diposisikan sebagai kesempatan emas karena bernilai promosi.
Di kesempatan acara tersebut, madrasah sengaja mengundang pejabat daerah, kepala instansi, kepala lembaga, stakeholder dan tokoh masyarakat yang dianggap berkepentingan dengan madrasah.
Ini tentu menjadi sebuah pendekatan strategis, karena madrasah berkesempatan dan memiliki momentum yang tepat untuk beriklan dan bermaklumat menyampaikan hal-hal positif yang telah dicapai oleh madrasah.
Madrasah memiliki ruang yang berharga untuk mempromosikan berbagai keunggulan, kelebihan, dan capaian prestasi yang telah diraih.
Selanjutnya informasi tentang madrasah akan tersebar luas, apalagi dimasifkan dengan media mainstream dan berbagai platform media sosial.
PENUTUP: PROMOSI LEWAT UNJUK PRESTASI
Promosi merupakan salah satu instrumen penting untuk bertransformasi menjadi lebih baik, demikian juga halnya dengan madrasah.
Esensinya bisa menjadi sarana komunikasi untuk penyampaian informasi dalam rangka pembentukan persepsi dan opini.
Maka madrasah mesti memiliki kompetensi yang memadai untuk mendesain strategi promosi tersebut.
Salah satu pendekatannya adalah, melakukan unjuk prestasi dan kreasi pada momentum yang tepat.
Agenda akhir tahun pelajaran bagi madrasah menjadi saat yang tepat untuk berbagi informasi, berbagi simpati, sekaligus ajang promosi membangun relasi dengan banyak pihak untuk pengembangan madrasah.
Seremonial acara perpisahan yang dikemas bersama agenda wisuda tahfiz al-Quran merupakan momentum luar biasa untuk berpromosi dan unjuk prestasi.
Dua agenda tersebut diyakini mampu mengikhtiarkan pembentukan persepsi dan opini positif tentang madrasah.
Bagi semua madrasah sebaiknya cerdas berkreasi mencari momentum untuk memublikasikan lembaga pendidikannya, agar familiar di persepsi masyarakat.
Pastikan madrasah berpromosi dengan pondasi Qur’ani dan prestasi.
Baca Juga : Kompetisi Pendidikan : Memilih Integrasi Keislaman dan Al-Qur’an
DAFTAR BACAAN
Al-Attas, Syed M. Naquib. Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam, terjemahan dari buku The Educational Philosophy and Practice, Wan Mohd Wan Daud, Bandung: Mizan, 2006.
Al-Abrasyi, Muhammad Athiyah. Al-Tarbiyah al-Islamiyah wa Falasatuha. Madinah: Dar al-Fikr, 1977.
Daulay, Haidar Putra. Pendidikan Islam dalam Sistem Pendidikan Nasional di Indonesia. Jakarta: Fajar Interpratama Offset, 2004.
Hasan Langulung. Peralihan Paradigma dalam Pendidikan Islam dan Sains Sosial. Jakarta: Gaya Media Pratama.
Nasution. Manajemen Mutu Terpadu: Total Quality Management. Jakarta: Ghalia Indonesia, 2001.
Sholeh, Asrorun Niam. Reorientasi Pendidikan Islam: Mengurai Relevansi Konsep al-Ghazali dalam Konteks Kekinian. Jakarta: eLSAS Jakarta, 2004.
Kuanta Future Education Partner. “Meningkatkan Jumlah Siswa dengan Strategi Efektif.” kuanta.id, 16 Oktober 2024.
Kementerian Agama RI. “Kenalkan Asta Protas, Menag: Isinya Program Kemenag Berdampak.” Siaran pers, 6 Maret 2025.
Kementerian Agama RI. “Kedudukan Lembaga Pendidikan Islam Makin Kokoh.”
Kementerian Agama RI. “Kemenag Beri Penghargaan 9 Madrasah Peraih Segudang Prestasi.” 22 Mei 2026.
Thales. “Building a Future We Can All Trust: Manfaat Transformasi Digital.” Diunduh pada 10 Oktober 2026.
https://www.instagram.com/p/DYTYUAFCYaP
TENTANG PENULIS
Dr. H. Ifkar, M.Ag., adalah dosen Pendidikan Agama Islam pada Fakultas Ilmu Pendidikan dan Keguruan Universitas Islam Negeri (UIN) Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, akademisi di bidang Pendidikan Agama Islam, aktif dalam kegiatan pembelajaran, penulisan, penelitian, dan pengabdian masyarakat.
Menyelesaikan pendidikan S1, S2 di IAIN Imam Bonjol Padang dan pendidikan S3 di UIN Imam Bonjol Padang.