Dr. H. Arman Husni, Lc., M.A., membahas pentingnya memperluas pendidikan Al-Qur’an dari membaca dan menghafal menuju pemahaman, tadabbur, dan pengamalan.
PENDAHULUAN
Belakangan ini kita patut bersyukur melihat semakin maraknya lembaga pendidikan Al-Qur’an di tengah masyarakat. TPQ, rumah tahfidz, sekolah tahfidz, hingga berbagai program menghafal Al-Qur’an tumbuh di berbagai tempat. Anak-anak semakin dekat dengan mushaf. Mereka belajar membaca, memperbaiki tajwid, bahkan menghafal sejumlah surah.
Ini adalah fenomena yang menggembirakan. Namun, justru karena kegembiraan itu, kita perlu berani mengajukan sebuah pertanyaan yang mungkin sedikit mengusik: apakah kedekatan kita dengan Al-Qur’an sudah bergerak dari sekadar membaca dan menghafal menuju memahami?
Pertanyaan ini muncul kembali di sela-sela pendampingan tim program Pengabdian kepada Masyarakat UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi terhadap guru-guru TPQ di Kota Bukittinggi dan sekitarnya.
Tim ini terdiri dari Dr. Hayati, SS, MA, yang sejak awal memiliki perhatian khusus terhadap fenomena ini. Tim tersebut juga melibatkan Ustazah Wan Friska Andriza, Lc., pemegang sanad tahsin dan tahfidz riwayat Hafs ‘an ‘Ashim di Mesir, serta Ustazah Nailah Mardhiyah, S.Pd., yang keduanya merupakan kandidat magister pada Program Studi Pendidikan Bahasa Arab UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, dan penulis sendiri.
Terus Bersama Asakato
Asakato hadir menghadirkan informasi, inspirasi, dan literasi untuk masyarakat. Dukungan pembaca membantu kami terus berkarya.
Dukung melalui Asakato.shopKetika berbicara kepada para guru tentang ayat-ayat yang mereka ajarkan kepada anak-anak, penulis menekankan bahwa pembelajaran Al-Qur’an tidak cukup hanya dengan mengajarkan membaca dan menghafal. Yang tidak kalah penting adalah sejauh mana peserta didik juga memahami makna kata, pesan, tujuan, serta kandungan ayat yang diajarkan. Di sinilah literasi Qur’ani menjadi penting.
KETIKA TAHFIDZ BERHENTI PADA HAFALAN
Kita perlu memberikan apresiasi terhadap berkembangnya pendidikan tahfidz. Menghafal Al-Qur’an adalah tradisi mulia dalam Islam dan memiliki kedudukan penting dalam menjaga keberlangsungan transmisi Al-Qur’an. Tetapi tahfidz semestinya tidak dipertentangkan dengan pemahaman. Justru keduanya perlu berjalan beriringan.
Persoalannya bukan pada banyak atau sedikitnya hafalan. Persoalannya adalah ketika angka hafalan menjadi ukuran utama keberhasilan, sementara pemahaman terhadap apa yang dihafal tidak mendapatkan perhatian yang sebanding.
Sebuah penelitian tentang program tahfidz berbasis sekolah di Indonesia, misalnya, mencatat bahwa evaluasi program masih cenderung berfokus pada capaian hafalan, sementara kualitas implementasinya secara lebih komprehensif belum banyak dikaji. Penelitian lain bahkan menunjukkan bahwa pembelajaran Al-Qur’an dapat meningkatkan hafalan dan kemampuan membaca, tetapi penguatan literasi Qur’ani masih merupakan agenda yang perlu dikembangkan lebih jauh.
Di sinilah kita perlu membedakan antara hafal ayat dan memahami ayat. Anak boleh saja hafal الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. Tetapi apakah ia memahami bahwa al-hamd bukan sekadar “pujian”, bahwa rabb memiliki cakupan makna yang lebih luas, dan bahwa hubungan manusia dengan Rabb al-‘Alamin mengandung konsekuensi pendidikan dan penghambaan?
Anak mungkin hafal ayat tentang kejujuran. Tetapi apakah ia memahami pesan kejujuran itu ketika berhadapan dengan ujian sekolah?
Hafalan tentu penting. Tetapi hafalan yang tidak dibawa menuju pemahaman berisiko menjadikan Al-Qur’an kuat di ingatan, tetapi belum tentu kuat dalam kesadaran.
Baca juga : Bahasa Arab: Antara Tulisan, Bunyi, dan Makna
DARI TILAWAH MENUJU DIRASAH
Al-Qur’an memang dibaca. Tetapi ia juga dipelajari, dipahami, ditadabburi, dan diamalkan. Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an mengingatkan kita akan pentingnya tadabbur, yaitu merenungkan, memahami secara mendalam, dan mengambil pelajaran dari ayat-ayat Al-Qur’an dengan memperhatikan makna, konteks, serta pesan yang terkandung di dalamnya:
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا
Artinya: “Tidakkah mereka merenungkan Al-Qur’an?” (QS. Muhammad: 24).
Pertanyaan ini semestinya menjadi bahan evaluasi dalam pendidikan Al-Qur’an kita. Apakah proses pembelajaran berhenti ketika anak mampu membaca dengan benar? Apakah selesai ketika target hafalan tercapai?
Kajian tentang hubungan tilawah dan dirasah, yaitu kajian, studi, penelitian, atau telaah terhadap suatu objek dalam Al-Qur’an, menunjukkan bahwa keduanya memiliki hubungan erat. Tilawah berkaitan dengan membaca Al-Qur’an sekaligus mengikuti kandungannya, sedangkan dirasah berkaitan dengan mempelajari Al-Qur’an untuk memahami, mentadabburi, dan menangkap maknanya.
Artinya, membaca bukanlah terminal. Ia adalah pintu. Sayangnya, dalam praktik pendidikan, pintu itu kadang kita anggap sebagai tujuan.
Penulis pernah berada dalam sebuah konferensi bahasa Arab internasional dan sempat mendengar kritik dari salah seorang peserta dari Timur Tengah mengenai maraknya pendidikan Al-Qur’an di Indonesia. Ia melihat antusiasme masyarakat Indonesia terhadap Al-Qur’an sebagai sesuatu yang mengagumkan, tetapi ia juga menyampaikan keprihatinan: mengapa semangat membaca dan menghafal tidak selalu berjalan bersama dengan usaha memahami bahasa dan makna Al-Qur’an?
Penulis tidak menjadikan komentar itu sebagai vonis terhadap pendidikan Al-Qur’an di Indonesia. Tetapi kritik tersebut layak direnungkan. Sebab, kalau Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab, maka perhatian terhadap bahasa wahyu bukanlah perkara tambahan. Bahasa adalah salah satu pintu menuju makna.
Baca juga : Jejak Kemerdekaan Dalam Keteladanan As-Sabiqun Al-Awwalun
GURU TPQ DAN TANTANGAN LITERASI QUR’ANI
Di sinilah penulis melihat persoalan yang sangat strategis, yaitu peningkatan kapasitas guru Al-Qur’an.
Pendampingan terhadap guru-guru TPQ di Bukittinggi dan sekitarnya membawa penulis pada satu kesadaran bahwa guru mengaji bukan sekadar pengajar bacaan. Ia adalah orang pertama yang membantu anak berinteraksi dengan wahyu.
Karena itu, guru perlu dibekali lebih dari sekadar kemampuan tahsin dan tahfidz. Ketika mengajarkan ayat, guru idealnya mampu menjelaskan kosakata dasar, makna sederhana, pesan ayat, konteks penggunaannya, serta hubungan ayat dengan kehidupan anak.
Tidak harus menjadi ahli tafsir. Tidak harus pula mengubah TPQ menjadi kelas ‘ulumul Qur’an yang berat. Cukup dimulai dari pertanyaan sederhana: kata apa yang sedang kita baca? Apa artinya? Apa pesan ayat ini? Mengapa Allah SWT menyampaikannya? Apa hubungannya dengan kehidupan kita?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana semacam itu sebenarnya sudah membawa anak dari tilawah menuju pemahaman.
Literasi Qur’ani dengan demikian tidak berarti menjadikan semua anak ahli bahasa Arab. Tetapi setidaknya anak tidak tumbuh dengan pengalaman bahwa Al-Qur’an hanya sesuatu yang dibaca dengan suara yang indah dan dihafalkan dengan lancar, tanpa pernah diajak bertanya tentang maknanya.
Baca juga : Ketika Rantai Tak Lagi Terbuat dari Besi, Mengurai Kembali Makna Kemerdekaan
JANGAN SAMPAI AL-QUR’AN RAMAI DI LISAN, SEPI DALAM KEHIDUPAN
Tantangan ini semakin penting di era digital. Hari ini, terjemahan, tafsir, penjelasan ayat, bahkan jawaban atas pertanyaan keagamaan dapat diperoleh dalam hitungan detik. Teknologi, termasuk AI, dapat membantu pembelajaran Al-Qur’an. Tetapi kemudahan mendapatkan informasi tidak otomatis menghasilkan kedalaman pemahaman.
Kita membutuhkan generasi yang bukan hanya mampu membaca Al-Qur’an, tetapi juga mampu membaca makna di balik bacaannya. Bukan hanya generasi yang mampu menyelesaikan hafalan, tetapi generasi yang mampu menjelaskan apa yang dihafalnya. Bukan hanya generasi yang fasih melafalkan ayat, tetapi juga mampu menjadikan ayat sebagai cara memandang kehidupan.
Karena itu, literasi Qur’ani harus mempertemukan setidaknya empat hal, yaitu tilawah, pemahaman, tadabbur, dan pengamalan.
Al-Qur’an bukan sekadar teks untuk dilafalkan. Ia adalah petunjuk untuk dipahami dan dihidupkan. Maka, di tengah menjamurnya sekolah tahfidz, rumah tahfidz, dan TPQ, mungkin sudah saatnya kita memperluas ukuran keberhasilan pendidikan Al-Qur’an.
Jangan hanya bertanya, “Berapa juz yang sudah dihafal?” Tambahkan pertanyaan, “Berapa banyak yang sudah dipahami?”
Jangan hanya bertanya, “Sudah lancar membaca?” Tanyakan pula, “Apa yang dipahami dari bacaan itu?”
Dan yang paling penting, “Apa yang berubah dalam diri setelah membaca dan memahami Al-Qur’an?”
Sebab, persoalan kita mungkin bukan kekurangan orang yang membaca Al-Qur’an. Bisa jadi yang perlu kita perjuangkan adalah lahirnya lebih banyak manusia yang memahami apa yang mereka baca, merenungkan apa yang mereka pahami, dan menghidupkan apa yang mereka renungkan.
Itulah tantangan literasi Qur’ani kita: bukan sekadar memperbanyak pembaca Al-Qur’an, tetapi juga memperdalam hubungan manusia dengan makna Al-Qur’an.
Baca juga : Ekologi Qur’ani: Bahasa Wahyu dan Tanggung Jawab Manusia Merawat Bumi
SUMBER BACAAN
- Manna‘ Khalil al-Qattan, Mabahith fi ‘Ulum al-Qur’an. Riyadh: Maktabah al-Ma‘arif li al-Nashr wa al-Tawzi‘, 2000.
- Wafa’ Abdullah ‘Abd al-‘Aziz al-Za‘aqi, al-Tilawah wa al-Dirasah fi al-Qur’an al-Karim: Ma‘nahuma wa al-‘Alaqah Baynahuma. Riyadh: Markaz Tafsir li al-Dirasat al-Qur’aniyyah, 2021.
- Yusuf al-Qaradawi, Kayfa Nata‘amal ma‘a al-Qur’an. Kairo: Dar al-Shuruq, 2000.
- Abdul Hayy al-Farmawi, al-Bidayah fi al-Tafsir al-Mawdu‘i. Kairo: al-Hadarah al-‘Arabiyyah.
- Tri Yugo dkk., “The Transformation of Qur’an Literacy Through the Tahfidz Method: An Experimental Study on Elementary School Students,” Al-Adzka: Jurnal Ilmiah Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, Vol. 15 No. 1.
Penulis : ✍️ Dr. H. Arman Husni, Lc., M.A.
Dosen UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi; Pemerhati Sosial Keagamaan dan Pendidikan
❤️ Dukung Asakato
Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda,
mari bantu Asakato terus menghadirkan berita, edukasi, dan inspirasi untuk masyarakat.
Dukungan sekecil apa pun sangat berarti agar kami dapat terus berkarya secara independen.
Terima kasih telah menjadi bagian dari perjalanan Asakato – Media Inspirasi dan Literasi Umat.