Kantor Bupati di Sarilamak sebagai simbol lahirnya pusat pemerintahan dan arah baru pembangunan Lima Puluh Kota menuju kota modern.
Sarilamak: Dari Imajinasi Menuju Pusat Pemerintahan
Sarilamak bukan sekadar ibu kota administratif Kabupaten Lima Puluh Kota. Ia adalah ruang masa depan—yang sejak lama telah “dibayangkan” oleh mereka yang melihat jauh ke depan, bahkan sebelum perubahan itu benar-benar terjadi.
Tulisan ini merupakan refleksi sekaligus gagasan visioner tentang bagaimana Sarilamak dapat tumbuh menjadi kota modern yang tetap berpijak pada nilai alam, budaya, dan kearifan lokal. Dalam konteks pembangunan daerah, gagasan seperti ini menjadi penting sebagai penuntun arah, agar pertumbuhan tidak berjalan tanpa visi yang jelas.
Jejak Awal: Ketika Visi Itu Lahir
Berbekal pengalaman berdinas sejak tahun 1983 di berbagai bidang—mulai dari pertanian, pemerintahan kecamatan, hingga perencanaan dan sosial—penulis menyimpan satu hal penting: kemampuan membayangkan masa depan.
Berpikir imajiner visioner bukan sekadar mimpi. Ia adalah perpaduan antara kreativitas dan arah strategis dalam melihat kemungkinan yang belum terjadi. Tidak semua orang memiliki keberanian untuk memikirkan sesuatu yang belum tampak, apalagi memperjuangkannya.
Momentum itu terjadi pada Desember 1986, saat kegiatan penghijauan tingkat Provinsi Sumatera Barat dilaksanakan di Bukik Limau, Sarilamak.
Dari titik itu, bentangan alam Harau, Gunung Sago, hingga kawasan Padang Mengatas terlihat begitu utuh dan menjanjikan. Lanskap ini bukan hanya indah, tetapi juga menyimpan potensi besar sebagai pusat aktivitas manusia di masa depan.
Di sanalah muncul satu lintasan pikiran sederhana namun kuat: bagaimana jika kawasan ini menjadi pusat pemerintahan?
Dari Imajinasi Menjadi Kenyataan
Enam belas tahun kemudian, gagasan itu menemukan jalannya.
Pada Februari 2002, saat dilantik sebagai Camat Harau, penulis mendapat pertanyaan langsung dari Bupati Lima Puluh Kota saat itu tentang lokasi terbaik untuk pusat pemerintahan.
Jawaban yang diberikan tetap sama: Bukik Limau, Sarilamak.
Alasannya bukan sekadar estetika, tetapi juga pertimbangan teknis. Struktur tanah di kawasan tersebut dinilai lebih kuat dibandingkan wilayah lain yang masih berupa rawa dan gambut, sehingga lebih layak untuk pembangunan jangka panjang.
Keputusan ini kemudian menjadi titik awal pembangunan pusat pemerintahan Sarilamak yang kita kenal hari ini—sebuah bukti bahwa gagasan visioner, ketika didukung oleh momentum dan keberanian mengambil keputusan, dapat menjadi kenyataan.
Sarilamak sebagai Ibu Kota Baru
Melalui Perda Nomor 17 dan 18 Tahun 2002 serta diperkuat dengan PP Nomor 40 Tahun 2004, Sarilamak resmi ditetapkan sebagai ibu kota Kabupaten Lima Puluh Kota.
Sejak saat itu, arah pembangunan kawasan ini mulai bergerak lebih cepat dan terarah.
Sarilamak tidak hanya diposisikan sebagai pusat pemerintahan, tetapi juga dirancang dengan sistem pengembangan wilayah melalui pembagian Sub Bagian Wilayah Kota (BWK). Pendekatan ini menunjukkan bahwa sejak awal, pembangunan Sarilamak telah dirancang dengan kerangka berpikir yang sistematis.
Hal ini penting untuk memastikan pertumbuhan kota tidak terpusat di satu titik, melainkan berkembang secara terstruktur, merata, dan berkelanjutan, sehingga mampu mengakomodasi kebutuhan masyarakat di masa depan.
Sarilamak Hari Ini: Fajar Kedewasaan
Kini, memasuki tahun 2026, Sarilamak telah berusia sekitar 24 tahun sebagai ibu kota kabupaten.
Jika diibaratkan manusia, usia ini adalah fase “fajar kedewasaan”—masa transisi menuju kematangan yang sesungguhnya. Pada fase ini, sebuah kota mulai diuji: apakah ia mampu berdiri dengan identitasnya sendiri atau justru kehilangan arah dalam arus pembangunan.
Sarilamak tidak lagi berada pada tahap awal pembangunan, tetapi juga belum sepenuhnya menjadi kota modern yang ideal.
Di titik inilah, gagasan visioner kembali menjadi penting—sebagai kompas yang menjaga arah pembangunan tetap berada pada jalur yang benar.
Menuju Kota Modern yang Berakar
Dengan potensi alam seperti Lembah Harau yang mendunia, Sarilamak memiliki modal besar untuk berkembang menjadi kota yang tidak hanya maju, tetapi juga berkarakter.
Namun, modernitas yang dimaksud bukan sekadar gedung tinggi atau teknologi canggih. Lebih dari itu, modernitas harus dimaknai sebagai kemampuan mengelola ruang hidup secara cerdas dan berkelanjutan.
Sarilamak harus tumbuh sebagai kota yang:
- modern secara sistem,
- kuat secara budaya,
- dan selaras dengan lingkungan.
Dengan demikian, pembangunan tidak hanya menghasilkan kemajuan fisik, tetapi juga menghadirkan kualitas hidup yang lebih baik bagi masyarakat.
Dari sinilah lahir gagasan visioner tentang arah masa depan Sarilamak sebagai kota modern—yang akan diuraikan lebih lanjut pada bagian berikutnya.
(Bersambung ke Seri 2: 10 Gagasan Visioner Sarilamak)
Penulis: H. Saiful Guci Dt. Rajo Sampono
Editor: Budi Mulya, SP
H. Saiful Guci Dt. Rajo Sampono adalah pemerhati sejarah dan pembangunan daerah Lima Puluh Kota.
Melalui gerakan SERBU ASAKATO, cukup Rp10.000 kita bisa menjaga media nagari ini tetap hidup, independen, dan istiqamah menyuarakan informasi umat & daerah.
📲 Scan QRIS di atas untuk berdonasi
Asakato Media – Media Inspirasi & Literasi Umat