Ilustrasi krisis peran laki-laki dalam arus materialisme modern
Oleh: Andriwifa
Dalam tradisi luhur Minangkabau, laki-laki Minang tidak sekadar hadir sebagai individu, tetapi sebagai institusi nilai. Ia memikul tanggung jawab berlapis: sebagai ayah bagi anaknya, sebagai mamak bagi kemenakan, dan sebagai penjaga harmoni sosial di tengah masyarakat.
Filosofi “anak dipangku, kamanakan dibimbiang, urang kampuang dipatenggangkan” bukan sekadar ungkapan adat, tetapi arsitektur peran yang menuntut keseimbangan antara tanggung jawab domestik, komunal, dan sosial. Dalam struktur ini, laki-laki menjadi poros yang menjaga kesinambungan nilai dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Namun hari ini, arsitektur itu mulai retak.
Paradoks Kemajuan dan Krisis Nilai
Kita hidup di era yang disebut maju—teknologi berkembang pesat, akses informasi terbuka, dan standar hidup meningkat. Namun di balik itu, muncul paradoks yang tidak bisa diabaikan: kemajuan materi justru diiringi kemunduran nilai.
Materialisme global perlahan menggeser cara kita memaknai keberhasilan. Ukuran sukses direduksi menjadi simbol-simbol lahiriah: kendaraan, gaya hidup, dan atribut sosial. Sementara itu, integritas, tanggung jawab, dan kedalaman moral semakin terpinggirkan.
Dalam kondisi ini, laki-laki tidak lagi dinilai dari kemampuannya menjaga amanah, tetapi dari seberapa jauh ia mampu menampilkan citra keberhasilan secara visual. Media sosial mempercepat proses ini, menghadirkan standar hidup semu yang sering kali tidak realistis, namun dijadikan tolok ukur bersama.
Di titik inilah laki-laki menghadapi ujian paling berat.
Tidak sedikit yang akhirnya kehilangan arah. Mereka gagal menjadi figur ayah yang memberi nilai, dan gagal menjadi mamak yang menjadi panutan. Otoritas moral melemah karena dikompromikan oleh ambisi materi sesaat.
Akibatnya, relasi sosial ikut terguncang. Pembangkangan generasi muda bukan semata-mata masalah kedisiplinan, tetapi refleksi dari krisis keteladanan. Ketika figur yang seharusnya menjadi rujukan kehilangan integritas, maka nilai pun kehilangan pijakan.
Dari Sumando Ideal ke Sumando Bermasalah
Kearifan Minangkabau sebenarnya telah lama menyediakan “alat ukur” untuk membaca kualitas laki-laki, salah satunya melalui tipologi sumando.
Dalam kondisi ideal, lahirlah Sumando Niniak Mamak—sosok yang cermat, matang, dan menjadi teladan. Ia tidak hanya sukses secara ekonomi, tetapi juga kokoh secara moral dan sosial. Kehadirannya memperkuat keluarga, bukan sekadar menjadi bagian darinya.
Namun dalam arus materialisme, muncul tipe-tipe sumando yang problematik.
Sumando Kacang Miang
Laki-laki yang gemar memecah belah demi kepentingan pribadi. Relasi dijadikan alat, bukan amanah. Ia hadir membawa konflik, bukan solusi.
Sumando Langau Ijau
Terlihat menarik secara lahiriah, tetapi rapuh secara moral. Mengejar status, namun kehilangan arah hidup. Ia hidup dalam citra, bukan dalam nilai.
Sumando Lapiak Buruak
Tidak memiliki inisiatif, cenderung pasif, dan menjadi beban dalam rumah tangga. Ketidakmampuannya bukan hanya ekonomi, tetapi juga mental dan tanggung jawab.
Tipologi ini bukan sekadar klasifikasi adat, melainkan kritik sosial yang tetap relevan hingga hari ini. Ia menjadi cermin yang mengingatkan bahwa kualitas laki-laki tidak pernah diukur dari penampilan luar, tetapi dari kontribusinya terhadap keseimbangan sosial.
Jalan Keluar: Kecermatan dan Ketabahan
Menghadapi tekanan materialisme, laki-laki tidak cukup hanya bertahan. Ia harus mampu mengelola perubahan tanpa kehilangan jati diri.
Ada dua pilar utama yang perlu dihidupkan kembali:
Kecermatan (Strategic Thinking)
Laki-laki harus cerdas membaca zaman. Teknologi dan materi harus ditempatkan sebagai alat, bukan tujuan. Ia harus mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan, antara investasi nilai dan konsumsi semu.
Kecermatan juga berarti kemampuan mengelola sumber daya dengan bijak—baik waktu, energi, maupun materi—agar tetap berpihak pada keberlanjutan nilai.
Ketabahan (Moral Resilience)
Keteguhan dalam memegang prinsip adalah benteng terakhir. Ketika dunia merayakan instanitas dan kemewahan semu, ketabahan menjadi kekuatan untuk tetap berpijak pada nilai.
Ketabahan bukan berarti kaku, tetapi konsisten. Ia memungkinkan seseorang untuk tetap teguh di tengah tekanan, tanpa kehilangan arah dan identitas.
Kombinasi kecermatan dan ketabahan akan melahirkan pribadi yang tidak mudah goyah—mampu beradaptasi tanpa kehilangan jati diri.
Menjadi Subjek, Bukan Objek
Pada akhirnya, persoalan ini adalah soal posisi: apakah kita menjadi subjek atau objek dalam arus peradaban?
Laki-laki yang kehilangan marwah akan mudah hanyut, dikendalikan oleh tren, dan dilupakan oleh sejarah. Sebaliknya, laki-laki yang menjaga integritas akan mampu mengorkestrasi kehidupannya—menjadikan materi sebagai instrumen, bukan tuan.
Ia tidak menolak kemajuan, tetapi menempatkannya secara proporsional. Ia tidak anti terhadap perubahan, tetapi tetap berpijak pada nilai.
Marwah tidak terletak pada apa yang dimiliki, tetapi pada apa yang tetap bertahan ketika semua itu hilang.
Krisis marwah laki-laki bukan sekadar isu individu, tetapi persoalan peradaban yang menentukan arah masa depan masyarakat. Di tengah badai materialisme, pilihan itu menjadi semakin jelas: bertahan sebagai penjaga nilai, atau larut sebagai korban zaman.
Bio Penulis :
Drs. Andriwifa, M.Si adalah anggota Dewan Redaksi Asakato dan pengajar di Fakultas Pariwisata dan Perhotelan Universitas Negeri Padang. Ia memiliki pengalaman panjang sebagai praktisi konstruksi, konsultan proyek pembangunan, serta peneliti dalam bidang lingkungan dan manajemen mutu.
Melalui gerakan SERBU ASAKATO, cukup Rp10.000 kita bisa menjaga media nagari ini tetap hidup, independen, dan istiqamah menyuarakan informasi umat & daerah.
📲 Scan QRIS di atas untuk berdonasi
Asakato Media – Media Inspirasi & Literasi Umat