Dr. H. Arman Husni, Lc., M.A., mengulas makna kemerdekaan dalam Islam melalui tauhid dan keteladanan para sahabat.
✍️ Dr. H. Arman Husni, Lc., M.A.
Kemerdekaan Dimulai Dari Tauhid: Membebaskan Manusia Dari Penghambaan Kepada Makhluk
Kemerdekaan sering dipahami sebagai keadaan terbebas dari penjajahan, penindasan, atau kekuasaan pihak lain. Namun, jika sirah Nabawiyah dan sejarah para sahabat dibaca lebih mendalam, kemerdekaan dalam Islam memiliki makna yang jauh lebih fundamental. Ia bukan sekadar pembebasan fisik dari belenggu, tetapi juga pembebasan akal, hati, martabat, dan kehendak manusia dari berbagai bentuk penghambaan kepada selain Allah SWT.
Rasulullah Saw datang di tengah masyarakat yang mengenal berbagai bentuk ketimpangan sosial. Nasab menentukan kedudukan, kesukuan menjadi sumber fanatisme, kekayaan menjadi ukuran kehormatan, sementara orang-orang lemah dan budak sering ditempatkan dalam posisi yang rendah. Dalam konteks seperti inilah ajaran tauhid tampil bukan hanya sebagai ajaran teologis, tetapi juga sebagai kekuatan pembebasan manusia.
Tauhid mengajarkan bahwa hanya Allah SWT yang merupakan al-Khaliq, Sang Pencipta, sedangkan seluruh manusia adalah makhluk. Jika demikian, tidak ada manusia yang layak dipertuhankan oleh manusia lainnya. Al-Qur’an menegaskan:
Terus Bersama Asakato
Asakato hadir menghadirkan informasi, inspirasi, dan literasi untuk masyarakat. Dukungan pembaca membantu kami terus berkarya.
Dukung melalui Asakato.shopيٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
Artinya: Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti. (QS Al-Hujurat: 13)
Ayat ini membongkar ukuran kemuliaan ala jahiliyah. Kemuliaan tidak lagi ditentukan oleh suku, warna kulit, keturunan, kekayaan, atau kekuasaan, tetapi oleh ketakwaan.
Jadi, kemerdekaan dalam Islam tidak berarti manusia bebas dari seluruh bentuk penghambaan. Manusia tetap seorang hamba, tetapi ia hanya boleh menjadi hamba Allah Yang Maha Besar. Manusia menjadi semakin merdeka justru ketika semakin sempurna penghambaan dirinya kepada Allah SWT.
Sebab, ketika seseorang hanya tunduk kepada Allah Ta’ala, ia tidak perlu merendahkan dirinya di hadapan makhluk. Ia tidak mudah menjual prinsip demi jabatan, tidak mudah menggadaikan kehormatan demi harta, dan tidak mudah mengubah kebenaran hanya karena takut kehilangan penerimaan manusia.
Dalam pembahasan tentang al-‘ubudiyyah, perlu dijelaskan bahwa terdapat hubungan erat antara penghambaan kepada Allah SWT dan kebebasan manusia dari selain-Nya. Manusia yang tidak menghambakan dirinya kepada Allah Ta’ala justru berpotensi menjadi budak bagi sesuatu yang lain: hawa nafsu, harta, kedudukan, atau manusia.
Dengan demikian, kemerdekaan sejati adalah bebas dari penghambaan kepada selain Allah SWT.
Membongkar Mentalitas Jahiliyah
Kemerdekaan tidak akan pernah sempurna jika manusia masih merasa berhak merendahkan manusia lainnya. Salah satu bukti paling kuat dalam sirah dan hadis adalah kisah Abu Dzar al-Ghifari RA.
Suatu ketika Abu Dzar terlibat perselisihan dengan seseorang. Dalam kemarahannya, ia mencela orang tersebut dengan membawa-bawa ibunya. Rasulullah Saw kemudian menegurnya:
«يَا أَبَا ذَرٍّ، أَعَيَّرْتَهُ بِأُمِّهِ؟ إِنَّكَ امْرُؤٌ فِيكَ جَاهِلِيَّةٌ»
Artinya: “Wahai Abu Dzar, apakah engkau mencelanya karena ibunya? Sesungguhnya dalam dirimu masih terdapat sifat jahiliyah.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis tersebut menggambarkan dengan jelas perubahan sikap Abu Dzar setelah menerima teguran tersebut. Perhatikan kedalaman teguran Rasulullah Saw.
Beliau tidak mengatakan sekadar, “Jangan mengucapkan kata-kata itu.” Beliau justru mengatakan:
إِنَّكَ امْرُؤٌ فِيكَ جَاهِلِيَّةٌ
Artinya: “Dalam dirimu masih terdapat sifat jahiliyah.”
Maknanya, yang sedang diluruskan bukan sekadar bahasa, tetapi mentalitas. Menghina seseorang berdasarkan ibunya berarti menjadikan asal-usul sebagai ukuran nilai manusia. Inilah salah satu warisan jahiliyah yang hendak dihapus oleh Islam.
Rasulullah Saw kemudian menegaskan:
«إِخْوَانُكُمْ خَوَلُكُمْ، جَعَلَهُمُ اللَّهُ تَحْتَ أَيْدِيكُمْ»
Artinya: “Saudara-saudara kalian adalah orang-orang yang berada di bawah kekuasaan kalian.”
Beliau memerintahkan agar orang-orang yang berada di bawah kekuasaan seseorang diberi makan sebagaimana yang ia makan, diberi pakaian sebagaimana yang ia pakai, dan tidak dibebani sesuatu yang melampaui kemampuan mereka. Jika dibebani, mereka harus dibantu. Inilah revolusi moral yang dibawa Rasulullah Saw.
Orang yang secara sosial berada di bawah kekuasaan seseorang tetap disebut إِخْوَانُكُمْ, “Saudara-saudara kalian.” Bukan manusia kelas dua. Bukan makhluk yang boleh diperlakukan sesuka hati. Bukan objek pelampiasan kekuasaan. Tetapi saudara.
Dan perubahan tersebut bukan hanya teori. Dalam hadis yang sama, al-Ma‘rur bin Suwaid menceritakan bahwa ia melihat Abu Dzar mengenakan pakaian yang sama dengan orang yang berada di bawah tanggungannya. Ketika ditanya, Abu Dzar menjelaskan bahwa ia pernah mencela seseorang karena ibunya dan Rasulullah Saw menegurnya.
Di sini kita melihat sebuah proses pendidikan yang luar biasa. Rasulullah Saw mengubah cara berpikir, lalu perubahan cara berpikir itu melahirkan perubahan perilaku. Maka, kemerdekaan dalam Islam dimulai dari pembebasan mental: bebas dari kesombongan, bebas dari fanatisme, bebas dari penghinaan terhadap manusia, dan bebas dari anggapan bahwa status sosial menjadikan seseorang lebih manusia daripada yang lain.
Kemerdekaan bukan hanya membebaskan yang lemah dari tangan orang kuat. Kemerdekaan juga membebaskan orang kuat dari penyakit hati yang membuatnya merasa berhak menindas.
Umar Bin Al-Khattab Dan ‘Amr Bin Al-‘Ash: Ketika Kekuasaan Tidak Boleh Memperbudak Manusia
Semangat penghormatan terhadap martabat manusia juga sangat kuat dalam gambaran kepemimpinan Umar bin al-Khattab RA. Sebuah kisah yang sangat masyhur menceritakan seorang penduduk Mesir yang mengalami perlakuan tidak adil dari putra ‘Amr bin al-‘Ash, yang ketika itu menjadi gubernur Mesir.
Dalam kisah tersebut, terjadi perlombaan antara putra ‘Amr bin al-‘Ash dan seorang pemuda Mesir. Setelah kalah, putra gubernur tersebut memukul pemuda itu dengan cambuk sambil menyombongkan statusnya sebagai anak pejabat.
Merasa diperlakukan secara zalim, pemuda tersebut bersama ayahnya datang mengadukan persoalan itu kepada Umar bin al-Khattab di Madinah. Umar kemudian memanggil ‘Amr bin al-‘Ash beserta anaknya. Setelah terbukti terjadi kezaliman, Umar memberikan kesempatan kepada pemuda Mesir tersebut untuk memperoleh keadilan.
Dalam riwayat yang masyhur itu, Umar kemudian berkata kepada ‘Amr:
«مَتَى اسْتَعْبَدْتُمُ النَّاسَ وَقَدْ وَلَدَتْهُمْ أُمَّهَاتُهُمْ أَحْرَارًا؟»
Artinya: “Sejak kapan kalian memperbudak manusia, padahal ibu-ibu mereka melahirkan mereka dalam keadaan merdeka?”
Ungkapan ini kemudian menjadi salah satu kalimat paling terkenal dalam sejarah Islam mengenai martabat manusia dan batas kekuasaan. Pesannya sederhana tetapi mendalam: jabatan tidak membuat seseorang menjadi pemilik manusia.
Seorang gubernur bukan pemilik rakyat. Seorang pejabat bukan pemilik bawahannya. Seorang atasan bukan pemilik martabat orang yang berada di bawahnya. Kekuasaan adalah amanah, bukan hak untuk menindas.
Dalam sejarah kepemimpinan Umar, prinsip pengawasan terhadap para pejabat memang menjadi perhatian besar. Ia tidak membiarkan kedudukan seseorang menjadi tameng bagi kezaliman. Maka, kemerdekaan dalam perspektif sosial-politik Islam mengandung satu prinsip penting: tidak boleh ada manusia yang merasa lebih tinggi martabatnya hanya karena ia memegang kekuasaan.
Kekuasaan harus membuat seseorang semakin bertanggung jawab, bukan semakin sewenang-wenang. Jabatan harus membuat seseorang semakin rendah hati, bukan semakin tinggi hati. Kepemimpinan seharusnya membuat manusia merasa aman dari kezaliman, bukan takut kepada penguasa.
Rib‘I Bin ‘Amir: Dari Perbudakan Manusia Menuju Penghambaan Kepada Allah Swt
Jika kisah Umar menggambarkan kemerdekaan dari kesewenang-wenangan kekuasaan, maka ungkapan Rib‘i bin ‘Amir RA menjelaskan fondasi paling mendasar dari kemerdekaan tersebut: tauhid.
Dalam rangkaian peristiwa Perang Qadisiyah, Rib‘i bin ‘Amir diutus untuk menemui Rustum, panglima Persia.
Ketika ditanya mengenai tujuan kedatangan rombongan, Rib‘i menjawab dengan ungkapan yang sangat terkenal:
«إِنَّ اللَّهَ ابْتَعَثَنَا لِنُخْرِجَ مَنْ شَاءَ مِنْ عِبَادَةِ الْعِبَادِ إِلَى عِبَادَةِ اللَّهِ»
Artinya: “Sesungguhnya Allah mengutus kami untuk mengeluarkan siapa yang Dia kehendaki dari penghambaan kepada sesama hamba menuju penghambaan kepada Allah.”
Dalam sebagian riwayat, ungkapan itu dilanjutkan:
«وَمِنْ ضِيقِ الدُّنْيَا إِلَى سَعَتِهَا، وَمِنْ جَوْرِ الْأَدْيَانِ إِلَى عَدْلِ الْإِسْلَامِ»
Artinya: “Dari kesempitan dunia menuju keluasannya, dan dari kezaliman berbagai sistem menuju kepada keadilan Islam.”
Ungkapan tersebut menjadi formulasi yang sangat kuat tentang hakikat pembebasan:
مِنْ عِبَادَةِ الْعِبَادِ إِلَى عِبَادَةِ اللَّهِ
Artinya: Dari penghambaan kepada manusia menuju penghambaan kepada Allah.
Di sinilah konsep kemerdekaan Islam menemukan fondasi yang kokoh. Islam tidak membebaskan manusia agar hidup tanpa arah. Islam tidak mengatakan, “Jangan tunduk kepada siapa pun.” Tetapi, “Jangan tunduk secara mutlak kepada makhluk. Tunduklah kepada Allah Ta’ala.”
Sebab, manusia yang tidak menjadi hamba Allah justru sangat mungkin menjadi hamba sesuatu yang lain. Ia bisa menjadi budak harta, budak jabatan, budak popularitas, budak hawa nafsu, budak kelompok, budak opini manusia, bahkan budak rasa takut terhadap manusia. Karena itu, tauhid adalah pembebasan paling fundamental.
Inilah yang menjadikan Rib‘i bin ‘Amir begitu relevan dalam pembahasan kemerdekaan. Kemerdekaan bukan hanya persoalan siapa yang menguasai manusia, tetapi juga siapa yang menguasai hati manusia? Islam membebaskan keduanya: membebaskan fisik dari kezaliman dan membebaskan hati dari penghambaan kepada selain Allah SWT.
Semakin Menghamba Kepada Allah, Semakin Merdeka Dari Makhluk
Jika sirah Nabawiyah dan sejarah para sahabat dibaca melalui perspektif kemerdekaan, tampak sebuah benang merah yang sangat kuat.
Rasulullah Saw membebaskan manusia dari mentalitas jahiliyah. Teguran kepada Abu Dzar, إِنَّكَ امْرُؤٌ فِيكَ جَاهِلِيَّةٌ, menunjukkan bahwa penghinaan berdasarkan nasab dan asal-usul bukan sekadar kesalahan ucapan, tetapi merupakan sisa cara pandang jahiliyah yang harus dihancurkan.
Kisah Umar bin al-Khattab dengan ‘Amr bin al-‘Ash, meskipun riwayatnya perlu ditelaah lagi, menggambarkan prinsip bahwa kekuasaan tidak boleh menjadi alat memperbudak manusia. Sementara Rib‘i bin ‘Amir memberikan rumusan yang lebih mendasar:
مِنْ عِبَادَةِ الْعِبَادِ إِلَى عِبَادَةِ اللَّهِ
Artinya: Dari penghambaan kepada manusia menuju penghambaan kepada Allah.
Dari ketiga gambaran tersebut dapat dirumuskan tiga lapis kemerdekaan.
Pertama, kemerdekaan dari mentalitas jahiliyah. Manusia tidak lagi mengukur dirinya dan orang lain berdasarkan ras, nasab, suku, warna kulit, kekayaan, atau jabatan.
Kedua, kemerdekaan dari penindasan. Tidak boleh ada kekuasaan yang menjadikan manusia merasa berhak merendahkan, menindas, atau memperbudak manusia lainnya.
Ketiga, kemerdekaan dari penghambaan kepada selain Allah SWT.
Manusia tidak menjadikan makhluk sebagai tempat ketundukan mutlak. Ia tidak menjadi budak harta, jabatan, popularitas, hawa nafsu, atau penilaian manusia.
Dengan demikian, kemerdekaan Islam bukanlah bebas tanpa batas. Kemerdekaan bukan berarti manusia boleh melakukan apa saja. Kemerdekaan bukan pula berarti manusia tidak perlu tunduk kepada siapa pun.
Kemerdekaan hakiki adalah ketika manusia tidak mempertuhankan selain Allah SWT. Ia menghormati manusia, tetapi tidak menghambakan diri kepadanya. Ia menaati pemimpin dalam kebaikan, tetapi tidak menaati kezaliman. Ia memiliki harta, tetapi tidak menjadi budak harta. Ia memiliki jabatan, tetapi tidak menjadi budak jabatan.
Ia mendengar pendapat manusia, tetapi tidak menjadikan penilaian manusia sebagai tuhannya. Ia mencintai manusia, tetapi tidak mempertuhankan manusia.
Karena itu, semakin kuat tauhid seseorang, semakin kokoh kemerdekaan jiwanya. Semakin dalam ubudiyyahnya kepada Allah, semakin kecil ketergantungannya kepada makhluk. Semakin ia mengenal Allah sebagai al-Khaliq, semakin ia memahami bahwa seluruh manusia hanyalah makhluk.
Di sinilah letak hakikat kemerdekaan dalam Islam:
مَنْ كَانَ عَبْدًا لِلَّهِ لَمْ يَكُنْ عَبْدًا لِغَيْرِهِ
Artinya: Barang siapa menjadi hamba Allah, ia tidak akan menjadi hamba bagi selain-Nya.
Maka, kemerdekaan sejati bukan sekadar bebas dari manusia, tetapi bebas dari penghambaan kepada manusia. Bukan sekadar merdeka secara fisik, tetapi merdeka secara mental, moral, dan spiritual. Dan bukan sekadar bebas dari belenggu, tetapi menemukan satu-satunya penghambaan yang justru memuliakan manusia: ‘ubudiyyah kepada Allah.
Pada akhirnya, pesan sirah Nabawiyah dan kehidupan para sahabat dapat diringkas dalam satu kalimat:
كُلَّمَا ازْدَادَ الْعَبْدُ عُبُودِيَّةً لِلَّهِ، ازْدَادَ حُرِّيَّةً مِنَ الْخَلْقِ
Artinya: Semakin seseorang menghamba kepada Allah, semakin ia merdeka dari makhluk.
Sumber Bacaan
- Ibn Hisham, ‘Abd al-Malik. Al-Sirah al-Nabawiyyah. Beirut: Dar al-Jil, 1411 H/1991 M.
- Ibn Kathīr, Isma‘il ibn ‘Umar. Al-Bidayah wa al-Nihayah. Beirut: Dar al-Fikr, 1407 H/1986 M.
- Al-Bukhari, Muḥammad ibn Isma‘il. Shahiḥ al-Bukharī. Taḥqiq Muḥammad Zuhayr ibn Naṣir al-Naṣir. Beirut: Dar Thwq al-Najah, 1422 H/2001 M.
- Al-Ghazali, Muḥammad. Fiqh al-Sirah. Kairo: Dar al-Shuruq, 1420 H/2000 M.
- Al-Qaraḍawi, Yusuf. Al-‘Ibadah fi al-Islam. Kairo: Maktabah Wahbah, 1416 H/1995 M.
Tentang Penulis
Dr. H. Arman Husni, Lc., M.A. merupakan dosen Pendidikan Bahasa Arab pada Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi. Ia merupakan akademisi di bidang Bahasa Arab dan Pendidikan Bahasa Arab, serta aktif dalam kegiatan pengajaran, penelitian, penulisan, dan pengabdian kepada masyarakat. Ia menyelesaikan pendidikan S1 di International University of Africa, S2 di Khartoum International Institute for Arabic Language, dan S3 di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
❤️ Dukung Asakato
Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda,
mari bantu Asakato terus menghadirkan berita, edukasi, dan inspirasi untuk masyarakat.
Dukungan sekecil apa pun sangat berarti agar kami dapat terus berkarya secara independen.
Terima kasih telah menjadi bagian dari perjalanan Asakato – Media Inspirasi dan Literasi Umat.
Merdeka dengan Tauhid…Mantap