Oleh: Budi Mulya
Bayangkan sebuah malam di tahun 1942. Angin malam berdesir dingin di perbukitan pedalaman Minangkabau. Di dalam sebuah ruangan kayu yang remang-remang, hanya diterangi nyala lampu minyak yang bergoyang, dua orang pria sedang duduk berhadapan. Di atas meja, sebuah peta Nusantara terbentang.
Pria pertama adalah seorang orator ulung yang kelak suaranya akan menggelegar membelah dunia: Ir. Soekarno. Pria kedua adalah seorang ulama sepuh bermata tajam namun teduh, penjaga spiritual Ranah Minangkabau: Syekh Abbas Abdullah.
Saat itu, Indonesia belum lahir. Lembar-lembar sejarah masih kosong. Namun, di kamar senyap di Padang Japang itulah, sebuah percakapan penting tentang arah ruhani bangsa ini diyakini pernah berlangsung.
Bagi generasi hari ini, terutama Gen Z dan Gen Alpha, Pancasila sering kali terasa seperti hafalan formal di sekolah. Kita melafalkannya saat upacara tanpa benar-benar menyelami denyut maknanya. Namun jika kita bersedia menembus lorong sejarah, kita akan menemukan sebuah fakta menarik: nilai Ketuhanan dalam Pancasila tidak lahir dari ruang hampa, melainkan dari pergulatan pemikiran tokoh-tokoh bangsa dan ulama Nusantara.
Siapa Syekh Abbas? Sang Visioner dari Puncak Bakuang
Syekh Abbas Abdullah bukan sekadar ulama tradisional yang berkutat pada kitab-kitab klasik di surau. Beliau adalah sosok pembaharu yang berpikiran maju jauh melampaui zamannya.
Lahir di Minangkabau, Syekh Abbas menimba ilmu di Masjidil Haram, Mekkah, dan berguru kepada Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, ulama besar asal Minang yang juga menjadi guru para tokoh pendiri Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama.
Sekembalinya ke tanah air, Syekh Abbas mendirikan Perguruan Darul Funun El-Abbasiyah (DFA) di Puncak Bakuang, Padang Japang. Pada masanya, sekolah ini menjadi salah satu lembaga pendidikan Islam paling progresif di Sumatera Barat.
Di saat banyak lembaga pendidikan masih berfokus pada hafalan semata, Darul Funun justru mendorong murid-muridnya berpikir kritis, memahami dunia modern, belajar sejarah peradaban, geografi, hingga seni organisasi.
Darul Funun bukan sekadar sekolah. Ia adalah ruang lahirnya generasi Muslim modern yang tetap berakar kuat pada nilai agama dan kecintaan kepada bangsa.
Ketika Bung Karno Menembus Pedalaman Minangkabau
Tahun 1942 adalah masa yang penuh gejolak. Dunia dilanda Perang Dunia II. Kolonial Belanda mulai runtuh dan Jepang masuk ke Nusantara.
Dalam suasana itulah Bung Karno, yang baru bebas dari pengasingan di Bengkulu, melakukan perjalanan menuju pedalaman Lima Puluh Kota bersama Inggit Garnasih.
Tujuannya bukan sekadar perjalanan biasa. Menurut sejumlah catatan sejarah lokal dan arsip Darul Funun, Bung Karno datang untuk bertemu Syekh Abbas Abdullah di Padang Japang.
Pertemuan itu diyakini menjadi salah satu dialog penting antara nasionalisme dan spiritualitas Islam dalam proses pencarian arah bangsa Indonesia.
Bung Karno menyadari bahwa membangun Indonesia tidak cukup hanya dengan teori politik modern. Negara sebesar Indonesia membutuhkan fondasi moral dan ruhani yang mampu menyatukan masyarakatnya yang beragam.
Ketuhanan Yang Maha Esa dan Ruh Bangsa Indonesia
Dalam sejumlah catatan dan tradisi lisan yang berkembang di lingkungan Darul Funun, Bung Karno disebut pernah mendiskusikan kegelisahannya tentang dasar negara Indonesia kelak.
Ia khawatir Indonesia akan terpecah antara kelompok yang menginginkan negara sekuler dan kelompok yang menghendaki negara agama secara formal.
Syekh Abbas merespons kegelisahan itu dengan pandangan yang bijak dan terbuka. Beliau menegaskan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa religius yang tidak mungkin dipisahkan dari nilai ketuhanan.
Karena itu, menurut pandangan Syekh Abbas, negara Indonesia harus berdiri di atas prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai payung besar yang mampu menaungi seluruh pemeluk agama di Nusantara.
Pandangan inilah yang oleh banyak kalangan diyakini turut memberi pengaruh spiritual terhadap cara pandang Bung Karno tentang dasar negara Indonesia.
Jejak pemikiran tersebut bahkan disebut dalam sejumlah kajian ilmiah, termasuk makalah resmi Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia mengenai Indonesia sebagai negara berketuhanan.
Peci Tinggi dan Simbol Amanah Bangsa
Ada satu kisah menarik yang hingga kini hidup dalam tradisi tutur masyarakat Padang Japang.
Dikisahkan, di akhir pertemuan itu Syekh Abbas menghadiahkan sebuah peci hitam kepada Bung Karno. Peci tersebut dibuat lebih tinggi dari peci pada umumnya.
Sambil memakaikan peci itu, Syekh Abbas disebut berpesan agar Bung Karno selalu menempatkan kehormatan umat dan nilai ketuhanan pada posisi yang tinggi dalam kepemimpinannya.
Terlepas dari perdebatan sejarah mengenai detail kisah tersebut, peci hitam memang kemudian menjadi identitas visual Bung Karno yang paling ikonik hingga akhir hayatnya.
Peci itu dikenakan saat Proklamasi Kemerdekaan, pidato-pidato kenegaraan, hingga dalam berbagai forum internasional dunia.
Dari Pemikiran Menuju Perjuangan Nyata
Syekh Abbas bukan hanya seorang pemikir. Ketika Republik Indonesia berada di ujung ancaman pada masa Agresi Militer Belanda II tahun 1948, beliau ikut mengambil bagian dalam perjuangan.
Pada masa Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI), Perguruan Darul Funun disebut menjadi salah satu tempat penting bagi aktivitas perjuangan dan dukungan logistik masyarakat.
Ini menunjukkan bahwa nilai kebangsaan yang diperjuangkan Syekh Abbas bukan sekadar teori, tetapi juga diwujudkan dalam tindakan nyata demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Pancasila: Warisan Kolaborasi dan Cinta Tanah Air
Kisah dari Padang Japang ini memberi kita cara pandang baru dalam memahami Pancasila.
Pancasila bukan sekadar kumpulan kalimat formal negara. Ia lahir dari pergulatan panjang para pendiri bangsa, ulama, pemikir, dan rakyat Indonesia yang ingin mencari titik temu terbaik bagi masa depan negeri ini.
Melalui warisan pemikiran Syekh Abbas Abdullah, kita belajar bahwa menjadi nasionalis tidak berarti meninggalkan agama, dan menjadi religius tidak akan pernah mengurangi cinta kepada tanah air.
Indonesia dibangun di atas semangat persatuan, ketuhanan, dan penghormatan terhadap keberagaman. Nilai-nilai itulah yang hingga hari ini terus menjadi denyut ruhani bangsa Indonesia.
Sumber Bacaan dan Referensi
Makalah “Indonesia Negara Berketuhanan” oleh Prof. Dr. Arief Hidayat, S.H., M.S., diterbitkan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia.
Riwayat Hidup dan Perjuangan 20 Ulama Besar Sumatera Barat (1981), Muslim Syam dkk., Islamic Centre Sumatera Barat.
Arsip sejarah Darul Funun El-Abbasiyah mengenai kunjungan Bung Karno ke Padang Japang tahun 1942.
Kajian ilmiah “Syekh Abbas Abdullah Padang Japang: Tokoh Pejuang pada Masa PDRI”.
Budi Mulya, SP adalah Wakil Sekretaris PCNU Lima Puluh Kota dan pemerhati isu sosial-keagamaan.
sungguh realistis nyata terbukti menurut sejarah ulama Seikh Abbas Padang Japang membuat kita generasi penerus patut memelihara intan berlian yg beliau kilaukan pada pemikiran yg sehat untuk landasan kebaikan bangsa indonesia yg berketuhanan sebagaimana tulisan sdr kita sekrt PC N U Lima Puluh Kota