Di era AI dan media sosial hari ini, generasi muda hidup dalam dunia yang bergerak sangat cepat. Semua bisa viral dalam hitungan menit. Semua bisa diperdebatkan dalam kolom komentar. Semua bisa terlihat keren di layar, tetapi belum tentu menenangkan hati.
Banyak anak muda sekarang tumbuh di tengah banjir informasi, tetapi justru kekurangan arah. Scroll media sosial berjam-jam membuat lelah mental, standar hidup terasa makin tinggi, sementara ruang digital sering dipenuhi toxic comment, cyberbullying, dan budaya saling menjatuhkan.
Di tengah situasi itu, sebenarnya kita tidak kekurangan nilai. Indonesia sudah memiliki kompas moral yang sangat kuat: Pancasila. Dan uniknya, denyut nilai Pancasila itu sejak lama hidup dalam budaya Minangkabau.
Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah Pancasila masih relevan, tetapi apakah generasi digital masih mau menghidupkannya?
BACA JUGA : Denyut Ruhaniyah Indonesia di Minangkabau
Ketika Media Sosial Mengguncang Mental Anak Muda
Hari ini banyak anak muda merasa harus selalu terlihat bahagia, sukses, dan sempurna di media sosial. Akibatnya, banyak yang diam-diam mengalami kecemasan, krisis percaya diri, bahkan kehilangan arah hidup.
Di sinilah sila pertama menemukan maknanya.
Ketuhanan Yang Maha Esa bukan sekadar hafalan upacara sekolah. Ia adalah jangkar spiritual agar manusia tidak kehilangan dirinya di tengah tekanan algoritma digital.
Dalam budaya Minang, nilai itu hidup dalam filosofi:
“Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.”
Pesannya sederhana tetapi dalam:
teknologi hanyalah alat, bukan tujuan hidup.
AI boleh semakin canggih, tetapi manusia tetap membutuhkan hati, akhlak, dan kesadaran spiritual.
“Rasa Jo Pareso”: Etika yang Hilang di Kolom Komentar
Media sosial membuat semua orang bebas berbicara. Sayangnya, tidak semua orang tahu cara berbicara dengan benar.
Hari ini kita terlalu sering melihat:
- komentar kasar,
- body shaming,
- cancel culture,
- fitnah digital,
- hingga cyberbullying.
Ironisnya, banyak dilakukan justru oleh anak muda sendiri.
Budaya Minang sebenarnya sudah lama mengajarkan etika komunikasi melalui konsep:
“Rasa jo Pareso.”
Artinya, sebelum berbicara, manusia harus memakai rasa dan pertimbangan.
Dalam adat Minang juga dikenal:
“Kato nan Ampek.”
Ini bukan sekadar tradisi lama, tetapi bisa disebut sebagai etika komunikasi digital paling relevan hari ini:
bagaimana berbicara sopan, tahu posisi, dan menghargai orang lain di ruang publik.
Karena secanggih apa pun teknologi, manusia tanpa empati akan tetap melahirkan kerusakan sosial.
Anak Muda Global, Tapi Jangan Kehilangan Akar
Internet membuat Gen Z bisa terkoneksi dengan dunia internasional setiap hari. Anak muda sekarang bisa belajar apa saja dari mana saja.
Tetapi ada risiko besar:
anak muda mulai mengenal budaya luar lebih dekat daripada identitas bangsanya sendiri.
Di sinilah sila Persatuan Indonesia menjadi penting.
Budaya marantau Minangkabau sebenarnya sangat modern. Anak muda didorong pergi belajar ke luar, membuka wawasan, dan menguasai dunia. Tetapi ada satu pesan penting:
jangan lupa pulang membawa manfaat.
Filosofi:
“Karatau madang di hulu, babuah babungo alun. Marantau bujang dahulu, di rumah paguno alun.”
mengajarkan bahwa ilmu dan pengalaman global harus kembali digunakan untuk membangun masyarakat sendiri.
Anak muda boleh mendunia, tetapi jangan kehilangan akar budaya dan identitas Indonesia.
BACA JUGA : Pewaris Masa Depan di Era Digital: Tegakah Kita Meninggalkan Generasi yang Lemah?
Echo Chamber dan Budaya Marah di Media Sosial
Salah satu masalah terbesar media sosial hari ini adalah munculnya echo chamber — ruang digital yang hanya mempertemukan orang dengan pendapat yang sama. Akibatnya, banyak orang menjadi mudah marah, fanatik, dan sulit menerima perbedaan.
Padahal budaya Minang sejak dulu mengajarkan:
“Bulek aia dek pambuluah, bulek kato dek mufakat.”
Kebenaran tidak dibangun dari teriakan paling keras, tetapi dari musyawarah dan pikiran yang jernih.
Di era banjir hoaks dan potongan video viral, generasi muda perlu belajar satu hal penting:
jangan langsung percaya sebelum tabayun dan verifikasi.
Karena tidak semua yang viral itu benar.
AI Harus Membantu Manusia, Bukan Sekadar Mencari Viral
Generasi muda hari ini memiliki peluang besar melalui teknologi digital dan AI. Mereka bisa membuat aplikasi, bisnis online, konten edukasi, bahkan membangun gerakan sosial dari internet.
Namun pertanyaannya:
apakah teknologi hanya dipakai untuk mengejar popularitas?
Budaya Minang mengajarkan:
“Barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang.”
Artinya, kemajuan seharusnya membantu banyak orang, bukan hanya diri sendiri.
Karena itu, anak muda perlu mulai berpikir:
- bagaimana teknologi membantu UMKM,
- membantu petani,
- membantu pendidikan,
- membantu masyarakat kecil,
- bukan sekadar mengejar konten viral.
Pancasila Tidak Kuno, Justru Semakin Penting
Banyak orang mengira Pancasila hanyalah pelajaran sekolah yang membosankan. Padahal di tengah ledakan AI, media sosial, dan krisis moral digital hari ini, nilai-nilai Pancasila justru semakin relevan.
Indonesia tidak hanya membutuhkan generasi yang pintar teknologi. Indonesia membutuhkan generasi yang:
- cerdas,
- beradab,
- punya empati,
- dan tidak kehilangan identitas.
Karena masa depan bangsa ini tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan Artificial Intelligence, tetapi oleh kualitas manusia yang menggunakannya.
Dan nilai itu sebenarnya sudah lama hidup dalam denyut ruhaniyah Pancasila dan budaya Minangkabau.
BACA JUGA : Etika Komunikasi Ibrahim di Tengah Krisis Kekuasaan
Penulis: Budi Mulya, SP
Budi Mulya, SP adalah Wakil Sekretaris PCNU Lima Puluh Kota dan pemerhati isu sosial-keagamaan.