โ๐ป Dr. H. Arman Husni, Lc, MA
Di tengah gegap gempita era digital, kita menyaksikan perubahan besar dalam pola hidup, termasuk dalam cara generasi tumbuh dan dididik. Teknologi yang semestinya menjadi alat bantu, perlahan berubah menjadi penopang utama kehidupan. Ketika akses semakin mudah, muncul pertanyaan penting: apakah daya juang generasi kita tetap terjaga?
Fenomena ini bukan sekadar asumsi. Laporan UNICEF menunjukkan sekitar 95 persen anak usia 12โ17 tahun di Indonesia mengakses internet setiap hari. Bahkan, menurut Kementerian Komunikasi dan Informatika, rata-rata anak dapat menghabiskan lebih dari lima jam per hari di dunia maya. Namun, pendampingan orang tua terhadap aktivitas digital anak masih tergolong terbatas.
Di satu sisi, teknologi membuka akses belajar yang luas. Namun di sisi lain, ia juga menghadirkan tantangan yang tidak ringan, seperti paparan konten negatif, ketergantungan digital, hingga berkurangnya kualitas interaksi sosial. Kondisi ini secara perlahan dapat mempengaruhi daya juang anak dalam menghadapi proses kehidupan.
Fenomena kekinian menunjukkan gejala yang patut menjadi perhatian. Pewaris masa depan hari ini tidak hanya dimanjakan oleh orang tua, tetapi juga oleh sistem digital yang serba instan. Tugas sering diselesaikan dengan menyalin dari internet, jawaban diperoleh tanpa proses berpikir yang memadai, dan hiburan dikonsumsi tanpa batas.
Dalam situasi seperti ini, kemampuan dasar seperti kesabaran, fokus, dan ketekunan berpotensi mengalami penurunan. Anak terbiasa dengan hasil cepat, tetapi kurang akrab dengan proses yang membutuhkan waktu. Padahal, justru di dalam proses itulah karakter dibentuk.
Lebih jauh lagi, media sosial turut membentuk mentalitas serba cepat. Keinginan akan hasil instan, pengakuan instan, dan kesuksesan yang tampak tanpa proses menjadi gambaran yang sering ditemui. Banyak yang melihat hasil akhir, tetapi tidak memahami perjalanan panjang di baliknya.
Ketika realitas tidak seindah yang ditampilkan, kekecewaan pun mudah muncul. Di sinilah terlihat bahwa yang terpengaruh bukan hanya kemampuan, tetapi juga ketahanan mental. Pergeseran ini perlu disikapi dengan bijak agar tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih luas.
Dalam beberapa kasus, pola asuh yang terlalu memanjakan dapat menimbulkan dampak yang tidak diharapkan. Tidak sedikit orang tua yang kemudian menghadapi kesulitan ketika anak menunjukkan sikap yang kurang siap menghadapi batasan. Anak yang sejak kecil selalu dituruti berpotensi tumbuh tanpa batas yang jelas.
Ketika batas itu hadir di luar rumah, respons yang muncul bisa berupa penolakan. Kondisi ini bukan semata kesalahan anak, tetapi juga bagian dari proses yang tidak dibangun secara seimbang sejak awal. Di sinilah pentingnya peran orang tua dalam membentuk pola asuh yang proporsional.
Fenomena ini juga terlihat di lingkungan sekolah. Guru yang berupaya menegakkan disiplin atau memberikan pembinaan kadang berhadapan dengan orang tua yang belum sepenuhnya siap menerima proses tersebut. Perbedaan sudut pandang ini tidak jarang memunculkan ketegangan.
Padahal, yang terjadi merupakan bagian dari proses pendidikan itu sendiri. Sekolah berusaha menanamkan kemandirian, tanggung jawab, dan ketangguhan, sementara di sisi lain sebagian orang tua masih mempertahankan pola yang terlalu melindungi. Akibatnya, anak berada dalam dua lingkungan nilai yang berbeda.
Dalam kondisi seperti ini, anak cenderung memilih yang paling nyaman. Sementara itu, nilai-nilai dasar seperti kerja keras, kesabaran, dan keteguhan justru membutuhkan ruang latihan yang tidak selalu nyaman. Di sinilah tantangan pendidikan semakin terasa.
Dalam perspektif pendidikan agama, keberhasilan tidak lahir dari kemudahan semata. Ia tumbuh dari usaha, kesabaran, dan proses yang panjang. Kemandirian bukan hanya kemampuan melakukan sesuatu sendiri, tetapi kesiapan menghadapi kesulitan tanpa mudah menyerah.
Nilai-nilai tersebut telah lama menjadi fondasi dalam pendidikan. Namun dalam perkembangan saat ini, nilai tersebut menghadapi tantangan dari budaya instan dan pola asuh yang terlalu protektif. Karena itu, diperlukan upaya bersama untuk menguatkannya kembali.
Yang dibutuhkan bukanlah menolak teknologi, melainkan menata kembali cara mendidik. Orang tua perlu melihat pendidikan tidak hanya sebagai upaya memberi kenyamanan, tetapi juga sebagai proses menyiapkan anak menghadapi kehidupan. Sekolah bukanlah lawan, melainkan mitra.
Jika keselarasan antara rumah dan sekolah tidak terbangun, maka yang terdampak bukan hanya proses pendidikan, tetapi juga masa depan generasi itu sendiri. Oleh karena itu, komunikasi dan pemahaman bersama menjadi sangat penting.
Pertanyaannya, apakah kita siap membiarkan generasi yang sangat akrab dengan teknologi, tetapi kurang siap menghadapi tantangan kehidupan? Pertanyaan ini bukan untuk menyalahkan, melainkan untuk mengajak merenung bersama.
Jika tidak, maka perubahan perlu dimulai dari sekarang. Dari rumah, dari cara mendidik, dan dari keberanian untuk tidak selalu memanjakan. Di sanalah harapan untuk membentuk generasi yang tangguh dapat terus dijaga. (*)
Penulis:
Dr. H. Arman Husni, Lc, MA
Editor:
Tim Asakato Media
Melalui gerakan SERBU ASAKATO, cukup Rp10.000 kita bisa menjaga media nagari ini tetap hidup, independen, dan istiqamah menyuarakan informasi umat & daerah.
๐ฒ Scan QRIS di atas untuk berdonasi
Asakato Media โ Media Inspirasi & Literasi Umat