Berpikirlah Seperti Orang Minangkabau Berpikir (Bagian 1)
Oleh: Saiful Guci, SP Dt. Rajo Sampono
Mengapa ada orang yang bangkit setelah berkali-kali gagal, sementara yang lain menyerah setelah kegagalan pertama?
Mengapa ada yang melihat kesulitan sebagai akhir perjalanan, sementara yang lain justru melihatnya sebagai awal mencari jalan baru?
Mengapa ada masyarakat yang tetap mampu bertahan dan berkembang meskipun tidak selalu hidup dalam kemudahan?
Jawabannya sering kali bukan terletak pada keadaan yang dihadapi, melainkan pada cara berpikir.
Barangkali itulah salah satu alasan mengapa orang Minangkabau dikenal sebagai masyarakat yang sulit dikalahkan oleh keadaan. Ketika usaha gagal, mereka mencoba usaha lain. Ketika kesempatan terasa sempit di kampung halaman, mereka merantau. Ketika satu jalan tertutup, mereka mencari jalan berikutnya.
Seolah-olah ada sesuatu dalam cara berpikir mereka yang membuat mereka tidak mudah menyerah kepada keadaan.
Tradisi berpikir itu sesungguhnya telah lama hidup dalam mamangan, petatah-petitih, dan falsafah adat Minangkabau yang diwariskan turun-temurun. Ia bukan sekadar kumpulan kata-kata bijak, tetapi panduan hidup yang membentuk mentalitas masyarakatnya.
Jauh di Eropa pada abad ke-17, filsuf Prancis Renรฉ Descartes memperkenalkan sebuah ungkapan yang kemudian menjadi salah satu fondasi filsafat modern:
“Cogito Ergo Sum” โ Aku Berpikir, Maka Aku Ada.
Menurut Descartes, segala sesuatu boleh diragukan. Harta bisa hilang. Kedudukan bisa berubah. Bahkan keberadaan dunia di sekeliling manusia dapat dipertanyakan. Namun ada satu hal yang tidak dapat diragukan, yaitu kenyataan bahwa manusia sedang berpikir.
Selama seseorang masih berpikir, maka ia ada.
Gagasan ini menunjukkan betapa pentingnya akal dalam kehidupan manusia. Namun jika ditarik ke dalam alam pikiran Minangkabau, berpikir tampaknya tidak berhenti pada kesadaran bahwa manusia itu ada.
Berpikir harus melahirkan ikhtiar.
Berpikir harus melahirkan tindakan.
Berpikir harus melahirkan karya.
Dan berpikir harus melahirkan manfaat.
Bagi orang Minangkabau, berpikir bukan tujuan akhir, melainkan awal dari sebuah perjalanan.
BACA JUGA : Menolak Hanyut: Krisis Marwah Laki-Laki Minang di Era Materialisme
Krisis Terbesar Bukan Kekurangan Uang
Di zaman sekarang, banyak orang merasa hidup semakin sulit. Harga kebutuhan meningkat, lapangan pekerjaan tidak selalu tersedia, dan persaingan semakin ketat.
Namun sesungguhnya, tantangan terbesar manusia sering kali bukan terletak pada keadaan yang dihadapinya, melainkan pada cara ia memandang keadaan tersebut.
Dua orang dapat mengalami kesulitan yang sama, tetapi menghasilkan nasib yang berbeda. Yang satu melihat masalah sebagai alasan untuk berhenti, sementara yang lain melihatnya sebagai alasan untuk bergerak.
Yang satu sibuk mencari kambing hitam.
Yang lain sibuk mencari jalan keluar.
Perbedaannya bukan pada besar kecilnya masalah, melainkan pada cara berpikir.
Karena itulah orang-orang tua Minangkabau sejak dahulu lebih menekankan pembentukan pola pikir daripada sekadar memberikan kenyamanan hidup. Mereka memahami bahwa harta dapat habis, jabatan dapat hilang, tetapi cara berpikir yang benar akan selalu membantu seseorang menemukan jalan untuk bangkit kembali.
Berpikir Adalah Perintah Tuhan
Dalam pandangan Islam, kemampuan berpikir bukan sekadar kelebihan manusia, melainkan amanah yang diberikan Allah SWT.
Al-Qur’an berulang kali mengajak manusia menggunakan akalnya untuk memahami kehidupan, membaca tanda-tanda kebesaran Allah, dan mengambil pelajaran dari setiap peristiwa.
Allah SWT berfirman:
“Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya sebagai rahmat dari-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. Al-Jatsiyah: 13)
Ayat ini mengingatkan bahwa alam semesta tidak diciptakan untuk sekadar dipandang, tetapi untuk dipelajari dan direnungkan.
Karena itu, kemajuan sebuah kaum tidak hanya ditentukan oleh kekayaan alam yang dimilikinya, tetapi juga oleh kualitas cara berpikir masyarakatnya.
Alam Pikiran Minangkabau
Orang Minangkabau memiliki apa yang sering disebut sebagai alam pikiran Minangkabau. Cara berpikir ini tidak hanya hidup dalam teori, tetapi dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari melalui adat, budaya, dan tradisi lisan.
Nilai-nilai tersebut diwariskan melalui mamangan, pantun, gurindam, pidato adat, dan pepatah-petitih yang kaya akan makna.
Keunikan tradisi Minangkabau terletak pada kemampuannya menyampaikan pelajaran hidup melalui simbol dan kiasan. Apa yang tersurat sering kali hanya pintu masuk untuk memahami makna yang lebih dalam.
Karena itu, memahami budaya Minangkabau tidak cukup hanya mendengar kata-katanya. Seseorang harus mampu menangkap makna yang tersirat dan bahkan yang tersuruk di balik setiap ungkapan adat.
Di sinilah kecerdasan berpikir, intuisi, dan kebijaksanaan mulai bekerja.
BACA JUGA : Engku: 1 (satu) Pilar yang Mulai Hilang dalam Kepemimpinan Adat Minangkabau
Filosofi di Balik “Taimpik Nak di Ateh, Takuruang Nak di Lua”
Salah satu mamangan yang paling menarik dalam budaya Minangkabau adalah:
“Taimpik nak di ateh, takuruang nak di lua.”
Secara harfiah berarti “terhimpit ingin ke atas, terkurung ingin ke luar”.
Sebagian orang memahaminya secara keliru sebagai ajaran untuk tidak mau menerima keadaan atau bahkan sebagai sikap yang tidak sportif.
Padahal sesungguhnya mamangan ini mengandung pesan yang sangat dalam.
Ia mengajarkan bahwa manusia tidak boleh menyerah kepada keterbatasan.
Jika terhimpit, bangkitlah.
Jika terkurung, keluarlah.
Jika gagal, cobalah lagi.
Jika satu jalan tertutup, carilah jalan yang lain.
Mamangan ini bukan ajaran kesombongan. Ia adalah ajaran optimisme.
Ia mengajarkan bahwa setiap manusia memiliki peluang untuk memperbaiki nasibnya selama ia masih memiliki kemauan untuk berpikir dan berusaha.
Mungkin karena filosofi inilah masyarakat Minangkabau dikenal memiliki daya tahan yang kuat dalam menghadapi berbagai perubahan zaman.
Tiga Kalimat yang Membunuh Masa Depan
Dalam alam pikiran Minangkabau, ada tiga kalimat yang sebaiknya tidak dipelihara dalam diri.
Kalimat pertama:
“Itu tidak mungkin.”
Banyak impian mati bukan karena tidak bisa diwujudkan, tetapi karena dibunuh oleh keyakinan bahwa semuanya mustahil.
Kalimat kedua:
“Saya tidak mampu.”
Kalimat ini sering menjadi penjara yang membatasi potensi seseorang. Padahal kemampuan tidak selalu dibawa sejak lahir. Kemampuan tumbuh melalui belajar, pengalaman, dan keberanian mencoba.
Kalimat ketiga:
“Saya sudah terlambat.”
Padahal kesempatan tidak pernah datang pada waktu yang sama untuk setiap orang. Ada yang berhasil lebih cepat, ada yang berhasil setelah berkali-kali gagal.
Selama seseorang masih hidup, kesempatan untuk memperbaiki diri sesungguhnya masih terbuka.
Mengapa Orang Minang Berani Merantau?
Tradisi merantau yang dikenal luas dalam masyarakat Minangkabau sesungguhnya bukan sekadar perpindahan tempat tinggal.
Merantau adalah cerminan cara berpikir.
Ketika peluang terasa terbatas di kampung halaman, orang Minangkabau tidak diajarkan untuk mengeluh. Mereka diajarkan untuk mencari kemungkinan baru.
Karena itu, merantau bukanlah pelarian dari kesulitan, melainkan keberanian menghadapi ketidakpastian.
Di balik setiap rumah makan Padang, toko, usaha, atau profesi yang digeluti perantau Minang di berbagai daerah, terdapat satu keyakinan yang sama: selalu ada jalan selama manusia masih mau berpikir dan berusaha.
Rantau bukan hanya tempat mencari nafkah.
Rantau adalah sekolah kehidupan.
Di sanalah keberanian, ketekunan, dan daya tahan berpikir diuji.
BACA JUGA : Membedah Runtuhnya Rumah Gadang Minangkabau
Sebelum Menyalahkan Keadaan, Cobalah Bertanya pada Pikiran Kita
Mungkin inilah pelajaran paling berharga yang dapat dipetik dari alam pikiran Minangkabau.
Sering kali kita terlalu sibuk menyalahkan keadaan.
Menyalahkan ekonomi.
Menyalahkan lingkungan.
Menyalahkan orang lain.
Padahal perubahan besar biasanya dimulai dari sesuatu yang jauh lebih dekat: cara berpikir.
Orang Minangkabau tidak diwarisi kehidupan yang selalu mudah. Mereka juga menghadapi keterbatasan, kegagalan, dan tantangan sebagaimana manusia lainnya.
Namun mereka mewarisi satu keyakinan bahwa selama akal masih digunakan, selama ikhtiar masih dilakukan, dan selama harapan masih dijaga, maka jalan keluar selalu mungkin ditemukan.
Barangkali karena itulah mereka mengajarkan:
“Taimpik nak di ateh, takuruang nak di lua.”
Jika terhimpit, bangkitlah.
Jika terkurung, keluarlah.
Jika gagal, belajar dan mencoba lagi.
Karena sesungguhnya yang paling berbahaya bukanlah hidup yang sulit, melainkan pikiran yang menyerah sebelum perjuangan dimulai.
(Bersambung ke Bagian 2)
Penulis: Saiful Guci, SP Dt. Rajo Sampono
Editor: Budi Mulya, SP