Ngaji Taqrib Seri 08 membahas sunnah ketiga dalam wudhu, yaitu berkumur dan memasukkan air ke hidung (istinsyaq).
Bismillahirrahmanirrahim.
Wudhu adalah ibadah yang sangat dekat dengan kehidupan seorang Muslim. Hampir setiap hari kita melakukannya, terutama ketika hendak menunaikan shalat.
Karena sering dilakukan, wudhu terkadang menjadi kebiasaan yang berlangsung begitu saja. Padahal, setiap tahapnya memiliki tuntunan yang telah dijelaskan para ulama dalam kitab-kitab fikih.
Pada Ngaji Taqrib Seri 07, kita telah membahas sunnah kedua dalam wudhu, yaitu membasuh kedua telapak tangan sebelum memulai wudhu. Setelah itu, Imam Abu Syuja’ mengajarkan sunnah berikutnya: berkumur dan memasukkan air ke hidung.
Terus Bersama Asakato
Asakato hadir menghadirkan informasi, inspirasi, dan literasi untuk masyarakat. Dukungan pembaca membantu kami terus berkarya.
Dukung melalui Asakato.shopDua amalan ini terlihat sederhana. Namun, keduanya memiliki tempat penting dalam rangkaian sunnah wudhu.
Ketika Air Menyentuh Mulut
Dalam Matan Al-Ghayah wat-Taqrib, Imam Abu Syuja’ menyebut:
وَالْمَضْمَضَةُ وَالِاسْتِنْشَاقُ
Artinya, berkumur dan memasukkan air ke hidung.
Setelah membasuh kedua telapak tangan, seorang Muslim dianjurkan melanjutkan wudhunya dengan kedua amalan tersebut.
Berkumur dalam istilah fikih disebut madmadah (المضمضة). Sementara memasukkan air ke hidung disebut istinsyaq (الاستنشاق).
Dalam Fathul Qorib, berkumur dijelaskan sebagai memasukkan air ke dalam mulut dan menggerakkannya di dalam mulut. Dengan demikian, berkumur bukan sekadar menyentuhkan air pada bibir, tetapi memasukkan air dan mengedarkannya.
Adapun istinsyaq dilakukan dengan memasukkan air ke dalam hidung. Kedua amalan ini kemudian menjadi bagian dari rangkaian sunnah wudhu yang diajarkan dalam fikih Syafi’iyah.
Di sinilah kita melihat bagaimana ulama menjelaskan perkara yang tampak sederhana dengan penuh ketelitian.
Baca juga : Ngaji Taqrib Seri 07: Sunnah Kedua dalam Wudhu, Membasuh Kedua Telapak Tangan
Sunnah yang Sering Terlupakan Maknanya
Berkumur mungkin hanya membutuhkan waktu beberapa detik.
Begitu pula memasukkan air ke hidung.
Namun, karena dilakukan berulang kali, kita sering tidak lagi memperhatikan bahwa keduanya merupakan bagian dari sunnah wudhu.
Belajar fikih mengajarkan kita untuk mengembalikan kesadaran itu.
Ketika memasukkan air ke mulut, kita tahu apa yang sedang kita lakukan. Ketika menggerakkan air di dalam mulut, kita berusaha melakukannya sesuai tuntunan.
Dengan demikian, kebiasaan sehari-hari tidak berhenti sebagai kebiasaan.
Ia menjadi ibadah yang dilakukan dengan ilmu dan kesadaran.
Inilah salah satu keindahan belajar kitab fikih.
Hal-hal yang tampak kecil ternyata memiliki tempat dalam syariat.
Baca juga : Jangan Langsung Membasuh Wajah, Ini Sunnah Pertama dalam Wudhu
Fikih Mengajarkan Ketelitian
Fathul Qorib memberikan perhatian terhadap cara melakukan berkumur. Air dimasukkan ke dalam mulut kemudian digerakkan di dalamnya. Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa para ulama tidak hanya membahas apa yang dilakukan, tetapi juga bagaimana melakukannya.
Begitu pula dengan istinsyaq.
Ada tata cara yang dijelaskan dalam kitab agar sunnah tersebut dilakukan dengan baik. Berkembang dari penjelasan Matan yang ringkas, syarah memberikan pemahaman lebih luas kepada pembaca.
Di sinilah fungsi kitab syarah seperti Fathul Qorib menjadi penting.
Matan memberikan pokok ajaran secara ringkas. Syarah membantu pembaca memahami maksudnya.
Karena itu, belajar fikih tidak cukup hanya mengetahui bahwa berkumur adalah sunnah.
Kita juga belajar bagaimana melakukannya dengan benar.
Baca juga : Rahasia Sunnah Wudhu yang Sering Kita Lupa
Dari Kebersihan Mulut Menuju Kebersihan Lisan
Ada pelajaran tarbiyah yang menarik dari sunnah berkumur.
Mulut merupakan bagian tubuh yang sangat dekat dengan kehidupan manusia. Dari mulut keluar doa, zikir, nasihat, dan perkataan yang baik.
Namun, dari mulut pula dapat keluar perkataan yang menyakiti.
Karena itu, ketika berkumur dalam wudhu, kita dapat menjadikannya sebagai pengingat untuk menjaga lisan.
Tentu, menjaga lisan bukanlah alasan hukum khusus yang disebutkan dalam Matan Abu Syuja’. Ini merupakan refleksi tarbiyah yang dapat kita ambil dari amalan tersebut.
Kita membersihkan mulut dengan air sebelum melanjutkan ibadah.
Maka, alangkah baiknya jika kita juga berusaha menjaga ucapan setelahnya.
Jangan sampai mulut yang dibersihkan dalam wudhu justru digunakan untuk mencela, memfitnah, atau menyakiti orang lain.
Wudhu membersihkan anggota tubuh.
Pendidikan agama mengajarkan kita untuk melanjutkan kebersihan itu dalam perilaku.
Di sinilah ilmu fikih bertemu dengan pendidikan akhlak.
Baca juga : Sudah Benarkah Wudhu Kita? Mengenal Enam Rukunnya
Wudhu yang Membentuk Kebiasaan Baik
Setiap hari kita memiliki kesempatan untuk mengulangi pelajaran yang sama.
Basmalah mengingatkan kita untuk memulai dengan nama Allah.
Membasuh kedua telapak tangan mengajarkan perhatian terhadap kebersihan.
Berkumur mengingatkan kita untuk menjaga kebersihan mulut dan lisan.
Memasukkan air ke hidung mengajarkan kita mengikuti tuntunan dengan tertib.
Semua itu tidak berarti setiap gerakan wudhu harus diberi makna simbolik tertentu.
Namun, rangkaian ibadah yang dilakukan dengan ilmu dapat menjadi latihan membangun kesadaran.
Kita belajar mengikuti aturan.
Kita belajar tertib.
Kita belajar tidak meremehkan amalan yang terlihat kecil.
Dan yang tidak kalah penting, kita belajar membawa nilai ibadah ke dalam kehidupan sehari-hari.
Karena ilmu yang baik bukan hanya membuat seseorang tahu.
Ilmu juga seharusnya membuat seseorang menjadi lebih baik.
Baca juga :Jangan Asal Basah, Mengapa Air Menentukan Sah atau Tidaknya Ibadah?
Menjaga Sunnah, Menjaga Diri
Berkumur hanya membutuhkan waktu yang singkat.
Tetapi dari amalan singkat itu, kita dapat belajar sebuah kebiasaan besar: melakukan sesuatu sesuai tuntunan meskipun tampak sederhana.
Wudhu mengajarkan bahwa kesempurnaan ibadah dibangun dari perhatian terhadap setiap tahapnya.
Karena itu, ketika berwudhu, mari kita tidak tergesa-gesa.
Berkumurlah dengan baik.
Masukkan air ke hidung sesuai tuntunan.
Kemudian lanjutkan wudhu dengan tenang dan penuh kesadaran.
Semoga Allah SWT menjadikan wudhu kita bukan hanya sebagai jalan menuju kesucian lahir, tetapi juga sebagai latihan untuk memperbaiki hati, ucapan, dan perilaku.
Sebab, belajar fikih tidak berhenti pada mengetahui hukum.
Kita belajar agar ilmu itu menjadi kebiasaan.
Dan dari kebiasaan yang baik, semoga lahir akhlak yang baik.
Baca juga : Mengapa Wudhu Bisa Menenangkan Hati Seorang Muslim
Bersambung…
Ngaji Taqrib Seri 09: Sunnah Keempat dalam Wudhu, Mengusap Sebagian Kepala.
Penulis: Budi Mulya, S.P.
Editor: Tim Redaksi Asakato
Bio Penulis
Wakil Sekretaris PCNU Lima Puluh Kota dan pemerhati isu sosial-keagamaan.
❤️ Dukung Asakato
Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda,
mari bantu Asakato terus menghadirkan berita, edukasi, dan inspirasi untuk masyarakat.
Dukungan sekecil apa pun sangat berarti agar kami dapat terus berkarya secara independen.
Terima kasih telah menjadi bagian dari perjalanan Asakato – Media Inspirasi dan Literasi Umat.