Hadiah Kemerdekaan (3): Ketika Kemerdekaan dalam Ridha Allah — Budi Mulya, SP.
Kemerdekaan bukan hanya tentang terbebas dari penjajahan. Kemerdekaan juga bukan sekadar kemampuan menentukan arah bangsa. Lebih jauh dari itu, kemerdekaan adalah amanah untuk menggunakan kebebasan dalam kebaikan.
Bangsa Indonesia telah melewati perjalanan panjang untuk mendapatkan kemerdekaan. Para pendahulu mewariskan tanah air, kebebasan, dan kesempatan kepada generasi setelahnya.
Tetapi setiap warisan selalu membawa pertanyaan.
Untuk apa kemerdekaan itu digunakan?
Terus Bersama Asakato
Asakato hadir menghadirkan informasi, inspirasi, dan literasi untuk masyarakat. Dukungan pembaca membantu kami terus berkarya.
Dukung melalui Asakato.shopPertanyaan itu penting karena manusia dapat menggunakan kebebasan untuk membangun. Namun, manusia juga dapat menggunakan kebebasan untuk memenuhi nafsunya sendiri.
Kita telah melihat persoalan itu pada bagian pertama perjalanan ini. Kemerdekaan dapat kehilangan maknanya ketika manusia yang mengisinya dikendalikan oleh kepentingan, harta, jabatan, dan kekuasaan.
Karena itu, kita kemudian mencari manusia seperti apa yang dibutuhkan masa depan.
Pada bagian kedua, kita menemukan bahwa masa depan tidak cukup dibangun dengan sistem. Kita membutuhkan manusia yang yakin kepada Allah, berusaha patuh kepada-Nya, mampu menjaga dirinya, dan berani berdiri di pihak kebenaran.
Baca juga : Hadiah Kemerdekaan (2): Menyusun Langkah Menatap Masa Depan
Kini kita sampai pada pertanyaan terakhir.
Jika manusia telah dibentuk, untuk apa kemerdekaan itu digunakan?
Al-Qur’an memberikan kepada kita sebuah gambaran yang indah melalui kisah negeri Saba’.
Allah berfirman dalam QS Saba’ ayat 15:
كُلُوا مِنْ رِزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ ۚ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ
Makanlah rezeki yang diberikan Tuhanmu dan bersyukurlah kepada-Nya. Negeri yang baik dan Tuhan Yang Maha Pengampun.
Ayat tersebut tidak berdiri sendiri.
Setelah menggambarkan negeri yang memperoleh berbagai kenikmatan, ayat berikutnya menceritakan ketika mereka berpaling. Akibatnya, keadaan negeri mereka berubah dan kenikmatan yang sebelumnya mereka rasakan tidak lagi seperti semula.
Di sinilah kisah Saba’ menjadi cermin yang sangat dalam.
Negeri yang baik saja belum cukup.
Kemakmuran saja belum cukup. Kekayaan alam saja belum cukup. Kemajuan saja belum cukup.
Sebab semua itu membutuhkan manusia yang mampu menerima nikmat dengan benar.
Negeri yang Baik, Manusia yang Bersyukur
Dalam kajian terhadap Tafsir Al-Azhar, Hamka menggambarkan baldatun thayyibatun melalui keadaan negeri yang subur, nyaman, aman, memiliki hasil bumi melimpah, perjalanan yang mudah, dan kehidupan yang menyenangkan. Namun, kemakmuran itu harus membawa manusia semakin dekat kepada Allah, tidak kufur, tetap beramal saleh, serta terus berusaha dan bekerja.
Pandangan itu menarik.
Sebab kemakmuran tidak diposisikan sebagai tujuan yang membuat manusia berhenti. Kemakmuran justru menjadi alasan untuk semakin bersyukur dan berbuat baik.
Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah juga menggambarkan baldatun thayyibatun sebagai negeri yang baik, aman, sentosa, rezekinya mudah diperoleh, dan masyarakatnya memiliki hubungan yang harmonis.
Pada saat yang sama, penyebutan Rabbun Ghafur menunjukkan bahwa masyarakat tersebut tetap mungkin melakukan kesalahan dan membutuhkan ampunan Allah.
Ini memberikan pelajaran yang sangat penting.
Negeri yang baik bukan negeri yang dihuni manusia sempurna.
Negeri yang baik tetap dihuni manusia yang dapat salah.
Tetapi ketika kesalahan terjadi, manusia tidak menjadikannya alasan untuk terus berpaling. Ia kembali, memperbaiki diri, memohon ampun, dan melanjutkan kehidupan dengan lebih baik.
Karena itu, Rabbun Ghafur tidak boleh dipisahkan dari baldatun thayyibatun.
Ada negeri yang baik. Ada manusia yang menikmati nikmat. Ada manusia yang bersyukur. Dan ada Allah Yang Maha Pengampun.
Keempatnya hadir dalam satu gambaran Qur’ani yang sangat kuat.
Maka ketika kita berbicara tentang Indonesia, kita tidak sedang mengatakan bahwa Indonesia harus menjadi negeri Saba’.
Baca juga : Hadiah Kemerdekaan (1): Kemerdekaan dalam Selubung Nafsu
Kita juga tidak sedang menjadikan QS Saba’ ayat 15 sebagai rancangan konstitusi.
Tidak demikian.
Kita sedang mengambil cermin Qur’ani untuk bertanya kepada diri sendiri:
Kemerdekaan yang kita terima sebagai nikmat, akan kita bawa ke mana?
Apakah menuju kehidupan yang semakin baik?
Ataukah justru menjadi ruang yang semakin luas bagi manusia mengejar kepentingannya sendiri?
Kemerdekaan memberikan ruang untuk memilih. Tetapi pilihan manusia menunjukkan siapa dirinya.
Ketika manusia bersyukur, kemerdekaan dapat menjadi jalan pengabdian. Ketika manusia dikuasai nafsu, kemerdekaan dapat berubah menjadi ruang untuk memenuhi keinginan tanpa batas.
Karena itu, kemerdekaan membutuhkan arah.
Dan arah itu tidak cukup hanya ditentukan oleh kepentingan manusia.
Ada Allah yang kepada-Nya seluruh nikmat itu kembali.
Kemerdekaan yang Menjadi Amanah
Indonesia memiliki tanah yang luas, laut yang kaya, hutan, pertanian, mineral, sumber energi, serta keragaman manusia dan budaya.
Semua itu adalah kekayaan yang dapat menjadi jalan kesejahteraan.
Tetapi kekayaan juga dapat menjadi ujian.
Tanah dapat menjadi sumber kehidupan. Tetapi tanah dapat pula menjadi sumber konflik.
Hutan dapat menjadi penyangga kehidupan. Tetapi hutan dapat pula dipandang hanya sebagai komoditas.
Tambang dapat menghasilkan kemakmuran. Tetapi ia juga dapat meninggalkan kerusakan apabila dikelola tanpa tanggung jawab.
Jabatan dapat menjadi sarana pelayanan. Tetapi jabatan juga dapat menjadi jalan memperkaya diri.
Ilmu dapat menjadi cahaya. Tetapi ilmu juga dapat menjadi alat kesombongan.
Karena itu, persoalan sebuah negeri tidak selesai hanya dengan memiliki kekayaan.
Yang menentukan adalah bagaimana manusia memperlakukan kekayaan tersebut.
Di sinilah makna syukur menjadi sangat penting.
Syukur bukan hanya ucapan alhamdulillah setelah menerima nikmat. Syukur harus terlihat dari cara manusia menggunakan nikmat.
Tanah digunakan dengan menjaga kesuburannya.
Hutan dijaga agar tetap menjadi sumber kehidupan.
Kekuasaan digunakan untuk melayani.
Ilmu digunakan untuk kemaslahatan.
Harta digunakan dengan cara yang benar.
Kemerdekaan digunakan untuk menghadirkan kebaikan.
Dengan demikian, syukur bukan sekadar kata.
Syukur adalah cara manusia memperlakukan nikmat Allah.
Kajian terhadap pemikiran Hamka tentang QS Saba’ ayat 15 juga menempatkan akhlak sebagai bagian penting dari gambaran negeri yang baik. Kemakmuran harus disertai kedekatan kepada Allah, amal saleh, usaha, dan akhlak yang baik.
Maka kita mulai memahami bahwa baldatun thayyibatun tidak cukup diterjemahkan menjadi negeri kaya.
Ia lebih dalam daripada itu.
Kita membutuhkan negeri yang kehidupan alamnya baik. Masyarakatnya baik. Hubungan sosialnya baik. Keamanannya baik. Pengelolaan rezekinya baik.
Dan manusia yang menghuninya memiliki kesadaran terhadap Allah.
Itulah sebabnya kemerdekaan tidak boleh hanya diukur dari seberapa besar pembangunan yang berhasil dilakukan.
Kita juga perlu bertanya:
Apakah manusia menjadi lebih baik?
Apakah keadilan semakin dirasakan? Apakah orang lemah semakin terlindungi? Apakah alam semakin terjaga?
Apakah ilmu semakin bermanfaat? Apakah kekuasaan semakin amanah? Apakah masyarakat semakin mampu bersyukur?
Dan yang paling dalam:
Apakah kemajuan itu membuat manusia semakin dekat kepada Allah?
Sebab bisa saja sebuah negeri semakin maju secara teknologi, tetapi manusia semakin miskin secara moral.
Bisa saja gedung semakin tinggi, tetapi kejujuran semakin rendah.
Bisa saja kekayaan semakin besar, tetapi keserakahan juga semakin besar.
Bisa saja manusia semakin bebas, tetapi semakin diperbudak oleh nafsunya.
Kemajuan seperti itu belum tentu membawa manusia kepada kehidupan yang baik.
Karena itu, kita membutuhkan keseimbangan:
Kebaikan bumi dan kebaikan manusia.
Kemajuan lahir dan kedalaman batin.
Kesejahteraan dan tanggung jawab.
Kemerdekaan dan ketundukan kepada Allah.
Di sinilah perjalanan tiga tulisan ini bertemu.
Seri pertama mengingatkan kita bahwa manusia dapat kehilangan kemerdekaan ketika hatinya dikuasai nafsu.
Seri kedua mengajak kita menyusun manusia yang mampu menjaga dirinya melalui keyakinan, kepatuhan, dan kesadaran kepada Allah.
Dan seri ketiga membawa kita kepada pertanyaan:
Ke mana manusia itu membawa kemerdekaannya?
Jawabannya bukan sekadar menuju kekayaan. Bukan sekadar menuju kekuasaan. Bukan sekadar menuju kemajuan.
Tetapi menuju kehidupan yang baik dan diridai Allah.
Ketika Kemerdekaan Menjadi Jalan Pengabdian
Kemerdekaan adalah kesempatan.
Kesempatan untuk membangun. Kesempatan untuk belajar. Kesempatan untuk bekerja. Kesempatan untuk mengelola kekayaan negeri. Kesempatan untuk memperbaiki kehidupan masyarakat.
Namun, kesempatan juga merupakan amanah.
Sebab setiap kebebasan akan dimintai pertanggungjawaban.
Kita mungkin tidak mampu mengubah seluruh negeri sekaligus. Tetapi kita dapat memulai dari manusia yang berada di hadapan kita.
Baca juga : Ketika Rantai Tak Lagi Terbuat dari Besi, Mengurai Kembali Makna Kemerdekaan
Dari diri sendiri. Dari keluarga. Dari sekolah. Dari tempat kerja. Dari masyarakat.
Dari orang-orang yang memegang amanah. Dari mereka yang memiliki ilmu. Dari mereka yang memiliki kekuasaan. Dari mereka yang memiliki kekayaan.
Sebab sebuah negeri tidak dibangun oleh slogan.
Negeri dibangun oleh manusia.
Dan manusia dibentuk oleh nilai yang hidup dalam hatinya.
Jika nilai itu adalah keserakahan, kemerdekaan akan mudah dipakai untuk mengejar kepentingan diri.
Jika nilai itu adalah kekuasaan, kemerdekaan dapat berubah menjadi alat menguasai orang lain.
Jika nilai itu adalah materi, manusia dapat mengukur segala sesuatu dengan keuntungan.
Tetapi jika nilai itu adalah pengabdian kepada Allah, kemerdekaan dapat menjadi jalan menghadirkan kemaslahatan.
Inilah yang membuat Rabbun Ghafur begitu penting.
Manusia tidak sempurna. Pemimpin tidak sempurna. Masyarakat tidak sempurna. Bangsa tidak sempurna.
Tetapi pintu kembali kepada Allah selalu terbuka.
Kesalahan tidak harus menjadi akhir. Kekeliruan dapat diperbaiki. Kezaliman dapat dihentikan. Kerusakan dapat dipulihkan.
Amanah yang pernah disia-siakan dapat dikembalikan. Manusia dapat kembali kepada jalan yang benar. Dan sebuah negeri dapat memperbaiki dirinya.
Karena itu, kita tidak perlu membayangkan baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur sebagai negeri tanpa masalah.
Kita justru perlu melihatnya sebagai kehidupan yang terus berusaha menghadirkan kebaikan, memperbaiki kesalahan, menjaga nikmat, menegakkan amanah, dan kembali kepada Allah.
Kisah Saba’ sendiri memberikan peringatan bahwa nikmat dapat berubah ketika manusia berpaling. QS Saba’ ayat 16–17 melanjutkan kisah tersebut dengan perubahan keadaan setelah mereka berpaling dari perintah Allah.
Maka kemerdekaan pun demikian.
Ia dapat menjadi jalan kemuliaan.
Tetapi ia juga dapat menjadi ujian.
Yang menentukan bukan hanya berapa lama sebuah bangsa merdeka.
Yang menentukan adalah bagaimana kemerdekaan itu digunakan.
Karena itu, hadiah terbesar kemerdekaan bukan hanya kemampuan mengatakan:
“Kita sudah merdeka.”
Hadiah terbesar adalah kemampuan mengatakan:
“Kemerdekaan ini akan kami gunakan sebagai amanah.”
Amanah untuk menjaga manusia.
Amanah untuk menjaga alam.
Amanah untuk menjaga keadilan.
Amanah untuk menjaga ilmu.
Amanah untuk menjaga kehidupan.
Dan amanah untuk mendekatkan seluruh ikhtiar kepada Allah.
Mungkin di sanalah kita mulai memahami cita-cita baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.
Bukan sekadar negeri yang kaya. Bukan sekadar negeri yang maju. Bukan sekadar negeri yang aman.
Tetapi negeri yang kebaikan kehidupannya berjalan bersama manusia yang mengenal Tuhannya, mensyukuri nikmat-Nya, menjaga amanah, memperbaiki kesalahan, dan terus berusaha menghadirkan kebaikan.
Kemerdekaan akhirnya bukan tujuan terakhir.
Ia adalah jalan.
Dan manusia adalah penggunanya.
Baca juga : Masa Depan Sumatera Barat di Samudra Hindia
Karena itu, setelah tiga perjalanan ini, mungkin pertanyaan terbesar yang perlu kita bawa pulang bukan:
“Sudahkah Indonesia menjadi negeri yang hebat?”
Tetapi:
“Sudahkah kemerdekaan Indonesia membawa kita menjadi manusia yang diridai Allah?”
Jika jawabannya belum, perjalanan kita belum selesai.
Jika jawabannya sedang kita usahakan, maka jangan berhenti.
Sebab kemerdekaan bukan hanya warisan para pejuang.
Kemerdekaan adalah amanah setiap generasi.
Dan amanah itu akan menjadi indah ketika digunakan untuk menghadirkan kehidupan yang baik, manusia yang baik, masyarakat yang baik, dan negeri yang baik.
Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.
Semoga kemerdekaan yang kita syukuri tidak berhenti pada upacara.
Semoga kemerdekaan yang kita nikmati tidak berhenti pada kebebasan.
Semoga kemerdekaan yang kita warisi menjadi jalan pengabdian.
Dan semoga seluruh langkah kita akhirnya bermuara kepada satu tujuan:
ridha Allah.
🇮🇩 Dirgahayu Republik Indonesia ke-81.
Merdeka 100%.
Tentang Penulis
Budi Mulya, SP adalah Wakil Sekretaris PCNU Lima Puluh Kota dan pemerhati isu sosial-keagamaan. Ia aktif menulis tentang lingkungan, pembangunan daerah, pertanian, dan literasi untuk mendorong tumbuhnya kepedulian masyarakat terhadap nagari dan alam.
Editor: Tim Redaksi Asakato
❤️ Dukung Asakato
Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda,
mari bantu Asakato terus menghadirkan berita, edukasi, dan inspirasi untuk masyarakat.
Dukungan sekecil apa pun sangat berarti agar kami dapat terus berkarya secara independen.
Terima kasih telah menjadi bagian dari perjalanan Asakato – Media Inspirasi dan Literasi Umat.