Ilustrasi Ngaji Taqrib Seri 06. Imam Abu Syuja' menempatkan membaca basmalah sebagai sunnah pertama dalam wudhu sebagaimana dijelaskan dalam Matan Al-Ghayah wa at-Taqrib dan syarah Fathul Qarib.
Ngaji Taqrib Seri 06
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Pagi itu, suara azan berkumandang. Seorang muslim bergegas menuju tempat wudhu. Keran air dibuka, kedua tangan dibasahi, lalu wajah pun segera disiram air. Semua dilakukan dengan cepat agar tidak tertinggal salat berjamaah.
Pemandangan seperti ini sangat akrab dalam kehidupan kita. Namun, pernahkah kita bertanya, apakah memang begitu cara terbaik memulai wudhu?
Kitab Al-Ghayah wa at-Taqrib atau yang lebih dikenal dengan Matan Abu Syuja’ ternyata mengajarkan sesuatu yang menarik. Sebelum membahas berkumur, membasuh tangan, atau sunnah-sunnah lainnya, Imam Abu Syuja’ justru meletakkan membaca basmalah sebagai sunnah pertama dalam wudhu.
Bacaan yang hanya memerlukan beberapa detik itu ternyata mendapat tempat paling awal dalam pembahasan sunnah-sunnah wudhu. Lalu, bagaimana para ulama menjelaskan sunnah tersebut? Mari kita simak bersama.
Baca juga : Rahasia Sunnah Wudhu yang Sering Kita Lupa
Ketika Imam Abu Syuja’ Memulai Pembahasan Sunnah Wudhu
Setelah menjelaskan rukun-rukun wudhu, Imam Abu Syuja’ melanjutkan pembahasan dengan menyebutkan sunnah-sunnahnya.
Beliau berkata:
وسنن الوضوء عشرة: التسمية، وغسل الكفين قبل إدخالهما الإناء، والمضمضة، والاستنشاق، ومسح جميع الرأس، ومسح الأذنين، وتخليل اللحية الكثة، وتخليل أصابع اليدين والرجلين، وتقديم اليمنى على اليسرى، والموالاة.
Artinya:
“Sunnah-sunnah wudhu ada sepuluh, yaitu membaca basmalah, membasuh kedua telapak tangan sebelum memasukkannya ke dalam bejana, berkumur-kumur, menghirup air ke hidung, mengusap seluruh kepala, mengusap kedua telinga, menyela-nyela janggut yang lebat, menyela-nyela jari tangan dan kaki, mendahulukan anggota tubuh sebelah kanan daripada kiri, serta dilakukan secara berkesinambungan.”
Susunan ini menarik untuk diperhatikan. Imam Abu Syuja’ memulai daftar sunnah dengan at-tasmiyah, yaitu membaca nama Allah, baru kemudian menyebut sunnah-sunnah yang dilakukan selama proses wudhu.
Apa yang Dimaksud dengan At-Tasmiyah?
Dalam Fathul Qarib al-Mujib, Syekh Muhammad bin Qasim al-Ghazi menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan at-tasmiyah ialah membaca nama Allah ketika hendak memulai wudhu.
Beliau menerangkan bahwa bacaan yang paling utama adalah:
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Namun, apabila seseorang hanya membaca:
بِسْمِ اللَّهِ
maka sunnah tersebut tetap telah terlaksana.
Penjelasan ini tampak sederhana, tetapi mengandung pelajaran yang sangat berharga. Yang ditekankan para ulama bukan panjang atau pendeknya bacaan, melainkan membiasakan diri memulai ibadah dengan menyebut nama Allah SWT.
Dengan demikian, membaca basmalah bukan termasuk rukun yang menentukan sah atau tidaknya wudhu. Ia adalah sunnah yang menyempurnakan adab seorang muslim ketika bersuci.
Baca juga : Sudah Benarkah Wudhu Kita? Mengenal Enam Rukunnya
Basmalah Mengawali Sunnah Wudhu
Dalam susunan yang ditulis Imam Abu Syuja’, basmalah disebut lebih dahulu sebelum sunnah-sunnah lainnya seperti membasuh kedua telapak tangan, berkumur, atau menghirup air ke hidung.
Kitab yang kita pelajari menjelaskan urutan tersebut sebagai bagian dari susunan sunnah wudhu. Adapun penjelasan mengenai lafaz basmalah diterangkan lebih lanjut oleh para ulama dalam kitab-kitab syarah, termasuk Fathul Qarib al-Mujib.
Susunan ini mengajarkan kepada kita bahwa seorang muslim dianjurkan mengawali ibadah dengan menyebut nama Allah SWT. Sebelum air menyentuh anggota tubuh, sebelum tangan dibasuh, bahkan sebelum rangkaian wudhu dimulai, lisan terlebih dahulu dibiasakan mengingat Allah.
Di situlah letak keindahan fikih. Ia tidak hanya mengajarkan tata cara bersuci, tetapi juga membimbing adab seorang hamba ketika memulai ibadahnya.
Penutup
Membaca basmalah sebelum berwudhu mungkin hanya memerlukan beberapa detik. Bahkan, karena sudah menjadi kebiasaan, kita sering mengucapkannya tanpa lagi menyadari maknanya.
Padahal, dari bacaan yang singkat itulah seorang muslim diajarkan untuk mengawali ibadah dengan menyebut nama Allah SWT. Sebelum air menyentuh wajah, sebelum tangan dibasuh, bahkan sebelum seluruh rangkaian wudhu dimulai, hati terlebih dahulu diajak mengingat Sang Pencipta.
Melalui seri Ngaji Taqrib ini, kita belajar bahwa fikih tidak hanya mengajarkan apa yang harus dilakukan, tetapi juga membimbing kita memperbaiki adab dalam beribadah. Hal-hal yang tampak kecil sering kali menjadi pintu menuju kesempurnaan amal.
Pada seri berikutnya, kita akan melanjutkan pembahasan sunnah-sunnah wudhu yang lain sebagaimana dijelaskan Imam Abu Syuja’ dalam Matan Al-Ghayah wa at-Taqrib. Semoga setiap ilmu yang kita pelajari menjadi jalan untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Bersambung…
Baca juga : Jangan Asal Basah, Mengapa Air Menentukan Sah atau Tidaknya Ibadah?
Penulis: Budi Mulya, SP
Editor: Tim Editor Asakato Media
Tentang Penulis
Budi Mulya, SP adalah Wakil Sekretaris PCNU Lima Puluh Kota dan pemerhati isu sosial-keagamaan.