Hamparan sawah di bawah kawasan perbukitan menggambarkan keterkaitan antara lereng, vegetasi, tanah, dan tata kelola air dalam sistem pertanian.
Oleh: Budi Mulya
Managing Editor Asakato Media. Wakil Sekretaris PCNU Lima Puluh Kota dan pemerhati isu sosial-keagamaan.
Di bawah lereng perbukitan, hamparan sawah terbentang hijau. Di atasnya, rumpun-rumpun bambu tumbuh mengikuti kontur tanah.
Bagi masyarakat agraris masa lalu, pemandangan seperti itu bukan sekadar bentang alam. Ada hubungan antara lereng, bambu, tanah, air, dan sawah yang dibaca melalui pengalaman panjang.
Terus Bersama Asakato
Asakato hadir menghadirkan informasi, inspirasi, dan literasi untuk masyarakat. Dukungan pembaca membantu kami terus berkarya.
Dukung melalui Asakato.shopOrang Minang mengenal ungkapan:
“Bak cando awue jo tobiang.”
Seperti bambu dan tebing.
Ungkapan singkat itu menarik jika dibaca bersama ilmu pengetahuan modern. Bambu membutuhkan tempat tumbuh, sementara keberadaan vegetasi dan sistem perakarannya berhubungan dengan kondisi tanah di lereng.
Nenek moyang kita mungkin belum mengenal istilah ketahanan hidrologis. Namun, mereka memahami persoalan dasarnya: air harus dijaga, tanah jangan dibiarkan hanyut, dan kawasan di atas sawah tidak bisa dipisahkan dari kehidupan pertanian di bawahnya.
Hari ini, sebagian hubungan itu dapat dijelaskan melalui penelitian.
Air Sawah Tidak Hanya Dimulai dari Saluran
Ketahanan air pertanian tidak hanya ditentukan oleh saluran irigasi.
Air hujan jatuh di kawasan tangkapan, kemudian berinteraksi dengan vegetasi dan tanah sebelum bergerak melalui lereng, mata air, sungai, dan jaringan pengairan menuju sawah.
Karena itu, kondisi kawasan di atas sawah ikut menentukan bagaimana air bergerak.
Bambu menjadi menarik karena memiliki sistem akar dan rizoma yang berkembang luas. Penelitian R. Kaushal dan rekan-rekan yang diterbitkan dalam Scientific Reports pada 2020 menguji tujuh spesies bambu di kaki Pegunungan Himalaya Barat. Studi tersebut menemukan perbedaan karakter perakaran antarspesies serta hubungan sistem perakaran dengan sejumlah sifat tanah, termasuk agregat tanah yang stabil terhadap air dan konduktivitas hidraulik. Penelitian itu juga menunjukkan potensi beberapa spesies bambu untuk rehabilitasi lahan yang terdegradasi.
Temuan tersebut penting karena air tidak hanya bergerak di atas tanah. Sebagian masuk melalui pori-pori tanah. Struktur tanah, akar, serasah, dan kondisi permukaan ikut menentukan seberapa besar air menjadi limpasan atau meresap ke dalam tanah.
Penelitian Stanley Nadir dan koleganya yang diterbitkan dalam jurnal Water pada 2024 menguji hubungan tegakan bambu dengan proses tanah-air di dua lokasi di Kenya. Parameter yang diamati meliputi infiltrasi, kepadatan tanah, limpasan, dan kehilangan tanah. Studi tersebut menunjukkan bahwa karakter tegakan bambu berhubungan dengan proses hidrologi dan erosi, termasuk kecenderungan infiltrasi yang lebih baik serta limpasan dan kehilangan tanah yang lebih rendah pada kondisi tegakan tertentu.
Artinya, hubungan bambu dengan air tidak harus dicari pada batangnya.
Sebagian ceritanya berlangsung di bawah tanah.
Ketika Bambu Menjadi Teknologi Air
Masyarakat kemudian memanfaatkan karakter bambu yang lain.
Batangnya ringan, kuat, mudah dibelah, dan memiliki ruas yang dapat diubah menjadi saluran. Dari material sederhana itu lahir berbagai bentuk teknologi pengairan.
Bambu dapat digunakan sebagai talang atau pancuran. Batang yang dibersihkan bagian dalamnya dapat mengalirkan air dari tempat yang lebih tinggi menuju lahan pertanian. Dengan teknik sederhana, air dapat melewati parit atau bagian medan tertentu tanpa harus membangun saluran permanen.
Teknologi yang lebih menarik terdapat pada kincir air tradisional.
Arus sungai digunakan untuk memutar roda. Pada roda dipasang tabung-tabung bambu yang mengambil air ketika berada di bagian bawah, kemudian menuangkannya ke tempat penampungan saat mencapai bagian atas.
Sistemnya sederhana: air sungai menjadi tenaga, bambu menjadi bagian dari perangkat, dan sawah memperoleh pasokan air.
Dokumentasi mengenai teknologi kincir air tradisional di sejumlah daerah Sumatra menunjukkan bahwa masyarakat memanfaatkan energi aliran sungai untuk mengangkat air menuju lahan pertanian. Teknologi semacam ini memperlihatkan kemampuan masyarakat menyesuaikan rekayasa dengan kondisi alam dan material yang tersedia.
Tidak ada mesin diesel.
Tidak ada listrik.
Yang digunakan adalah arus air, kemiringan medan, dan kecerdasan manusia membaca lingkungan.
Air Tidak Cukup Dialirkan
Ada satu hal yang sering luput ketika membicarakan teknologi irigasi tradisional: air bukan hanya perlu dialirkan, tetapi juga dikelola.
Satu sumber air dapat digunakan banyak petani. Karena itu, diperlukan aturan pembagian, pemeliharaan saluran, serta kesepakatan agar air tidak hanya dinikmati oleh mereka yang berada paling dekat dengan sumber.
Sistem Subak di Bali memberikan contoh yang sangat kuat.
UNESCO menetapkan Cultural Landscape of Bali Province: the Subak System sebagai Warisan Dunia pada 2012. UNESCO menjelaskan Subak sebagai sistem pengelolaan air melalui kanal dan bendung yang telah berkembang sejak setidaknya abad ke-9. Sumber air, jaringan irigasi, teras sawah, desa, hutan pelindung sumber air, dan pura air berada dalam satu kesatuan lanskap.
Yang menarik bukan hanya konstruksinya.
Ada sistem sosial di belakang air.
UNESCO mencatat sekitar 1.200 kelompok pengelola air di Bali, dengan antara 50 hingga 400 petani mengelola pasokan air dari satu sumber. Jaringan pura air juga berperan dalam pengelolaan ekologi sawah terasering pada skala daerah aliran sungai sejak abad ke-11.
Artinya, masyarakat agraris masa lalu memahami bahwa keberlanjutan sawah membutuhkan lebih dari sekadar saluran.
Ia membutuhkan ekosistem dan tata kelola.
Ketika Bambu Ditebang
Persoalan kita hari ini bukan karena bambu tidak berguna.
Justru sebaliknya: kita mungkin terlalu lama melihat bambu hanya sebagai tanaman biasa.
Di kawasan perbukitan, rumpun bambu dapat ditebang untuk membuka lahan pertanian baru. Bagi petani, kebutuhan terhadap lahan produksi tentu nyata. Tetapi perubahan tutupan vegetasi pada lereng juga mengubah hubungan antara hujan, tanah, limpasan, dan erosi.
Ketika vegetasi berkurang, tanah menjadi lebih terbuka terhadap pukulan air hujan. Air yang bergerak di permukaan dapat membawa partikel tanah menuju tempat yang lebih rendah.
Di titik ini, ungkapan “Bak cando awue jo tobiang” memperoleh makna ekologis yang semakin relevan.
Bambu dan tebing bukan dua unsur yang berdiri sendiri.
Mereka berada dalam satu bentang alam.
Bambu tumbuh pada tanah.
Akar dan rizomanya berkembang di dalam tanah.
Tanah menerima air hujan.
Dan kondisi lereng menentukan bagaimana air serta material tanah bergerak.
Ilmu pengetahuan modern memang belum membuat bambu menjadi tanaman ajaib. Tetapi penelitian telah menunjukkan bahwa karakter perakaran dan tegakan bambu dapat berhubungan dengan sifat tanah, infiltrasi, limpasan, dan kehilangan tanah.
Itulah alasan mengapa bambu layak kembali dibicarakan dalam konteks tata ruang pertanian.
Mengembalikan Bambu ke Lereng
Mengembalikan bambu ke kawasan perbukitan bukan berarti seluruh lereng harus ditanami bambu.
Yang diperlukan adalah penataan.
Kawasan sekitar sumber air dapat dipertahankan. Bagian lereng yang sesuai dan rawan erosi dapat dipertimbangkan untuk vegetasi bambu. Tepian aliran air dapat dikelola sebagai kawasan penyangga.
Sawah tetap menjadi ruang produksi pangan.
Lereng tetap menjadi bagian dari sistem perlindungan tanah dan air.
Bambu dapat menjadi salah satu penghubungnya.
Keuntungannya, bambu tidak hanya memiliki fungsi ekologis. Batangnya juga mempunyai nilai ekonomi dan dapat dimanfaatkan menjadi berbagai produk.
Karena itu, konservasi bambu tidak harus berarti membiarkannya tumbuh tanpa pengelolaan.
Sebaliknya, bambu perlu dibudidayakan, dimanfaatkan, dan dikelola dengan baik.
Dengan cara itu, menjaga fungsi ekologis tidak harus bertentangan dengan kepentingan ekonomi masyarakat.
Membaca Kembali Kecerdasan Lama
Nenek moyang kita tidak mengenal istilah infiltrasi, konduktivitas hidraulik, limpasan permukaan, atau konservasi tanah dan air.
Namun, mereka hidup langsung dengan persoalan tersebut.
Mereka tahu bahwa air dari kawasan atas harus sampai ke sawah.
Mereka tahu tanah di lereng harus dipertahankan.
Mereka memanfaatkan bambu sebagai saluran.
Mereka menggunakan tenaga aliran air untuk mengangkat air.
Dan mereka membangun aturan agar air dapat digunakan bersama.
Hari ini, ilmu pengetahuan memberi kita bahasa yang lebih rinci untuk menjelaskan sebagian dari pengetahuan tersebut.
Penelitian Kaushal dan koleganya pada 2020 memperlihatkan hubungan sistem perakaran bambu dengan sifat tanah. Penelitian Nadir dan koleganya pada 2024 memperlihatkan hubungan tegakan bambu dengan proses infiltrasi, limpasan, dan kehilangan tanah.
Kita tidak perlu mempertentangkan pengetahuan lama dengan teknologi modern.
Pompa tetap diperlukan.
Pipa tetap berguna.
Irigasi modern tetap harus berkembang.
Tetapi semuanya bekerja di dalam lanskap yang sama: ada bukit, ada tanah, ada air, dan ada sawah.
Karena itu, kawasan perbukitan tidak semestinya hanya dilihat sebagai cadangan lahan pertanian baru.
Ia juga merupakan bagian dari sistem yang menopang pertanian di bawahnya.
Dan mungkin di situlah kita perlu membaca kembali pesan sederhana dari ungkapan Minang:
“Bak cando awue jo tobiang.”
Bambu dan tebing berada dalam satu bentang alam.
Menjaga bambu di lereng berarti ikut menjaga tanah, air, dan masa depan sawah di bawahnya.
Tentang Penulis: Budi Mulya, SP adalah jurnalis dan praktisi media digital. Menempuh pendidikan sarjana di bidang Pertanian, ia memiliki pengalaman panjang dalam mengamati perkembangan sosial-politik serta tata kelola pemerintahan di Sumatera Barat. Saat ini, ia merupakan Founder dan Dewan Redaksi asakato.com.
❤️ Dukung Asakato
Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda,
mari bantu Asakato terus menghadirkan berita, edukasi, dan inspirasi untuk masyarakat.
Dukungan sekecil apa pun sangat berarti agar kami dapat terus berkarya secara independen.
Terima kasih telah menjadi bagian dari perjalanan Asakato – Media Inspirasi dan Literasi Umat.