Ngaji Taqrib Seri 2 membahas lima hukum dasar dalam Islam yang menjadi pondasi kehidupan seorang Muslim.
NGAJI TAQRIB — Seri 2
Hari ini manusia hidup di tengah dunia yang bergerak sangat cepat. Informasi datang tanpa henti, hiburan memenuhi layar telepon genggam, dan manusia semakin sibuk mengejar urusan dunia, lupa kepada pemilik dunia, lupa hukum-hukum Islam yang merupakan perintah-Nya.
Tanpa sadar, banyak orang perlahan mulai kehilangan arah hidupnya.
Manusia modern takut kehilangan koneksi internet, tetapi sering tidak sadar ketika mulai kehilangan hubungan dengan Allah SWT.
Hal-hal yang dahulu dijaga oleh orang-orang tua di surau:
- adab,
- batas halal dan haram,
- rasa malu,
- dan kesucian diri,
perlahan mulai dianggap tidak penting lagi.
Padahal Islam sejak dahulu telah mengatur kehidupan manusia melalui hukum-hukum syariat. Para ulama fiqih menjelaskan bahwa setiap perbuatan manusia memiliki nilai hukum di sisi Allah SWT.
Ada yang harus dijaga, ada yang dianjurkan, ada yang sebaiknya dijauhi, bahkan ada yang dilarang keras oleh agama.
Dalam tradisi surau dan pesantren, pembahasan seperti ini biasanya dipelajari sebelum masuk kepada bab thaharah, wudhu, dan ibadah lainnya. Sebab seseorang tidak akan memahami fiqih dengan baik jika belum mengenal dasar hukum dalam Islam.
Dalam Matan Al-Ghayah wat Taqrib karya Abu Syuja’, pembahasan fiqih dimulai dengan persoalan bersuci. Namun sebelum berbicara tentang air, wudhu, dan najis, para ulama terlebih dahulu mengenalkan dasar hukum dalam Islam.
BACA JUGA : Mengapa Wudhu Bisa Menenangkan Hati Seorang Muslim (Ngaji Taqrib seri-1)
Wajib: Pondasi yang Tidak Boleh Ditinggalkan
Dalam Islam ada perkara yang tidak bisa dianggap ringan. Shalat lima waktu misalnya, bukan sekadar anjuran, tetapi kewajiban seorang Muslim.
Allah SWT berfirman:
“Dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat.”
(QS. Al-Baqarah: 43)
Imam Nawawi menjelaskan dalam Minhajut Thalibin bahwa kewajiban adalah perkara yang dituntut syariat untuk dilaksanakan secara pasti.
Namun hari ini banyak manusia rela begadang demi hiburan dan pekerjaan, tetapi berat bangun untuk shalat Subuh. Sibuk mengejar dunia, tetapi lupa menjaga hubungan dengan Allah SWT.
Padahal ketika yang wajib mulai ditinggalkan, perlahan hidup juga kehilangan arah dan ketenangan.
Sunnah: Jalan Menyempurnakan Hidup
Selain kewajiban, Islam juga mengajarkan amalan-amalan sunnah:
- membaca Al-Qur’an,
- shalat dhuha,
- bersiwak,
- memperbanyak shalawat, dan banyak lagi.
Rasulullah SAW bersabda:
“Kalau tidak memberatkan umatku, niscaya aku perintahkan mereka bersiwak setiap hendak shalat.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Para ulama Syafi’iyah menjelaskan bahwa amalan sunnah adalah jalan menyempurnakan ibadah wajib dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Ironisnya, manusia modern hari ini sangat tertarik mengikuti tren media sosial, tetapi mulai malu mengikuti sunnah Rasulullah SAW.
Padahal sunnah bukan sekadar simbol agama. Sunnah adalah jalan membentuk akhlak, kebersihan, dan ketenangan hidup manusia.
Haram: Ketika Dosa Mulai Dianggap Biasa
Islam juga melarang hal-hal yang merusak kehidupan manusia.
Allah SWT berfirman:
“Dan janganlah kalian mendekati zina.”
(QS. Al-Isra’: 32)
Dalam pandangan ulama fiqih, perkara haram bukan hanya merusak kehidupan manusia, tetapi juga dapat menggelapkan hati dan menjauhkan manusia dari Allah SWT.
Barangkali salah satu ujian manusia modern hari ini adalah ketika dosa perlahan dianggap biasa karena terlalu sering terlihat di layar kehidupan sehari-hari.
Fitnah menjadi hiburan. Kebohongan menjadi tontonan. Membuka aib orang lain dianggap hal lumrah demi viral dan perhatian manusia.
Padahal hati manusia perlahan akan menjadi keras ketika terbiasa hidup dalam perkara yang diharamkan Allah SWT.
Makruh: Hal Kecil yang Sering Diremehkan
Islam juga mengajarkan adab dalam perkara-perkara kecil.
Rasulullah SAW bersabda:
“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan.”
Karena itu para ulama mazhab Syafi’i mengingatkan agar manusia tidak hidup berlebihan, termasuk ketika menggunakan air saat berwudhu.
Namun hari ini manusia sering hidup tanpa batas:
- berlebihan bermain media sosial,
- berlebihan dalam kemarahan,
- bahkan berlebihan dalam kebencian.
Padahal sesuatu yang berlebihan perlahan bisa merusak hati manusia.
BACA JUGA : Engku: 1 (satu) Pilar yang Mulai Hilang dalam Kepemimpinan Adat Minangkabau
Mubah: Hal Biasa yang Bisa Menjadi Ibadah
Tidak semua perkara dalam Islam bernilai dosa atau pahala. Ada juga perkara yang dibolehkan, seperti:
- memilih pakaian,
- memilih makanan halal,
- atau memilih pekerjaan yang baik.
Namun Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa niat yang baik dapat mengubah kebiasaan sehari-hari menjadi ibadah di sisi Allah SWT.
Karena itu Islam mengajarkan bahwa hidup seorang Muslim tidak boleh kosong dari niat baik.
Guru-guru tua di surau dahulu sering mengingatkan:
“Nan lahir manunjuak kan nan bathin.”
Yang lahiriah menunjukkan keadaan batiniah manusia.
Orang yang terbiasa menjaga adab, menjaga lisannya, menjaga kebersihan dirinya, dan menjaga ibadahnya sesungguhnya sedang mendidik hatinya menuju kesucian.
Karena itu orang-orang tua dahulu sering berkata:
“Barasiah di lua, barasiah di dalam. Suci di lua, suci pulo di dalam.”
Bersih di luar, bersih pula di dalam. Suci lahiriah, suci pula batiniahnya.
Mungkin karena itulah para ulama memulai pembahasan fiqih dari perkara-perkara dasar. Sebab sebelum manusia diajarkan hukum-hukum besar dalam Islam, terlebih dahulu ia harus belajar mengenal aturan Allah SWT dalam kehidupan sehari-hari.
Dan di tengah dunia modern yang semakin bising hari ini, memahami hukum dalam Islam bukanlah sesuatu yang kuno, tetapi justru menjadi penuntun agar manusia tidak kehilangan arah hidupnya.
Pada seri berikutnya, kita akan mulai membahas bagaimana Islam mengatur persoalan air sebagai dasar kesucian dalam ibadah.
Penulis: Budi Mulya, SP adalah Wakil Sekretaris PCNU Lima Puluh Kota dan pemerhati isu sosial-keagamaan.