Oleh: Budi Mulya, SP
Hari ini, kritik sering dibalas kemarahan. Perbedaan pendapat dianggap ancaman. Jabatan dipakai untuk meninggikan suara, bukan meninggikan adab
.Di tengah situasi itu, Idul Adha justru mengingatkan kita pada satu hal yang jarang dibahas: bagaimana Nabi Ibrahim AS berbicara kepada ayahnya, kepada anaknya, bahkan kepada Raja Namrud.Ibrahim tidak menghina. Tidak membentak. Tidak merendahkan. Padahal beliau sedang menghadapi penyembah berhala dan penguasa zalim.
Di situlah letak pelajaran besar yang mulai hilang dari ruang publik kita hari ini: adab dalam menyampaikan kebenaran.
Dalam tulisan saya sebelumnya tentang “kendaraan dinas dan krisis etika kekuasaan”, persoalan utamanya bukan sekadar fasilitas negara. Masalah utamanya adalah hilangnya rasa amanah dan pudarnya adab dalam menggunakan otoritas. Kini krisis itu semakin meluas. Bukan hanya pada tindakan, tetapi juga pada lisan.
Kita menyaksikan kritik dibalas kemarahan. Perbedaan pendapat dijawab intimidasi. Jabatan dipakai untuk mempertontonkan superioritas verbal. Akibatnya, ruang publik berubah menjadi arena saling menjatuhkan, bukan ruang mencari kebenaran.
Ibrahim Menggugat Tanpa Menghina
Al-Qur’an menghadirkan contoh berbeda melalui Nabi Ibrahim AS.
Ketika Ibrahim mengkritik ayahnya, Azar, yang merupakan pembuat berhala dan bagian dari sistem sosial yang sesat, beliau tidak menggunakan bahasa penghinaan. Dalam Surah Maryam ayat 42–45, Ibrahim justru membuka dialog dengan panggilan penuh cinta:
“Yā abati…”
“Wahai ayahku tercinta…”
Kalimat itu diulang berkali-kali sebelum kritik disampaikan. Ibrahim tidak memulai dengan makian atau tuduhan bodoh dan sesat. Beliau bertanya dengan argumentasi yang lembut:
“Wahai ayahku, mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat menolongmu sedikit pun?
”(QS. Maryam: 42)
“Wahai ayahku, mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat menolongmu sedikit pun?”
(QS. Maryam: 42)
Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’anil ‘Azhim menjelaskan bahwa pilihan bahasa Ibrahim merupakan bentuk kelembutan tingkat tinggi dalam berdakwah. Ibrahim tidak sedang mempermalukan ayahnya. Beliau sedang membangunkan kesadarannya.Bahkan ketika Azar mengancam akan merajamnya, Ibrahim tidak membalas dengan kemarahan. Beliau justru menjawab:
“Salāmun ‘alaik…”
“Semoga keselamatan tercurah kepadamu.”
(QS. Maryam: 47)
Dialog Nabi Ibrahim dengan Raja Namrud
Sikap santun Nabi Ibrahim juga terlihat ketika berhadapan dengan Raja Namrud, simbol kekuasaan yang sombong dan otoriter. Ibrahim tidak memulai dakwah dengan caci maki, meskipun berada di hadapan penguasa zalim. Beliau justru memakai pendekatan argumentatif yang menggugah akal sehat.
Ketika masyarakat mempertuhankan berhala, Ibrahim mengajak mereka berpikir logis. Bagaimana mungkin sesuatu yang tidak mampu mendengar, melihat, atau memberi manfaat justru dijadikan sesembahan?
Kritik Ibrahim bukan lahir dari kebencian personal. Kritik itu lahir dari keinginan membangunkan kesadaran.
Dalam dialognya dengan Namrud sebagaimana diabadikan Al-Qur’an, Ibrahim tetap tenang dan fokus pada hujjah. Ketika Namrud menyombongkan kekuasaannya, Ibrahim menjawab dengan argumentasi sederhana namun menghancurkan kesombongan berpikir sang raja:
“Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah ia dari barat.”
(QS. Al-Baqarah: 258)
Al-Qur’an kemudian menggambarkan Namrud terdiam tanpa jawaban. Ini menunjukkan bahwa kekuatan dakwah Ibrahim bukan pada kerasnya suara, tetapi pada kejernihan akal, kemuliaan adab, dan keteguhan prinsip.
Ismail dan Keindahan Komunikasi Positif
Pola komunikasi santun itu diwariskan sempurna kepada Nabi Ismail AS.
Ketika Ibrahim menerima perintah untuk menyembelih putranya, beliau tidak memaksakan otoritas sebagai ayah ataupun nabi. Ibrahim justru membuka ruang dialog:
“Fanzhur mādzā tarā…”
“Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.
”Ini adalah bentuk komunikasi yang sangat modern, demokratis, dan humanis. Kekuasaan tidak dipakai untuk mematikan suara pihak lain, tetapi untuk melibatkan kesadaran bersama.
Jawaban Ismail menunjukkan kematangan adab yang luar biasa:
“Yā abati if‘al mā tu’mar…”
“Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu.”
(QS. Ash-Shaffat: 102)
Perhatikan pilihan katanya. Ismail tidak sedang mempertontonkan keberanian diri. Beliau mengembalikan seluruh persoalan kepada perintah Allah. Bahkan Ismail menambahkan kalimat “insya Allah” sebagai bentuk kerendahan hati spiritual.
Yang sering luput dibaca adalah cara Nabi Ismail menyampaikan pendapat dengan indah dan penuh penghormatan kepada ayahnya. Ismail tidak sekadar menjawab “siap” atau tunduk secara pasif. Beliau menghadirkan komunikasi positif yang menenangkan hati ayahnya.
Kalimat “Yā abati if‘al mā tu’mar” menunjukkan bahwa Ismail memahami kegelisahan batin Ibrahim. Karena itu, beliau tidak memperumit keadaan dengan ketakutan atau penolakan emosional. Sebaliknya, Ismail justru menguatkan ayahnya dengan bahasa yang lembut, empatik, dan bernilai spiritual.
Di sinilah letak keagungan komunikasi dalam keluarga para nabi. Perbedaan usia, posisi, dan otoritas tidak mematikan ruang dialog. Anak tetap diberi ruang berpikir dan menyampaikan pandangan. Orang tua pun tetap menjaga kelembutan dalam menyampaikan keputusan.
Penjelasan Ulama tentang Adab Komunikasi
Dalam tradisi ulama Syafi’iyah, etika komunikasi seperti ini ditempatkan sangat tinggi.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa kerasnya lisan sering kali justru menutupi kebenaran itu sendiri. Ego yang dibungkus amarah dapat merusak tujuan dakwah dan kepemimpinan. Karena itu, seseorang harus mampu membedakan antara menolak kesalahan dengan tetap menjaga martabat manusia.
Sementara Imam Al-Mawardi dalam Adab ad-Dunya wa ad-Din menegaskan bahwa otoritas yang sehat harus melahirkan ketenangan sosial, bukan intimidasi. Dialog Ibrahim kepada Ismail menjadi fondasi penting tentang musyawarah dan penghormatan terhadap kesadaran manusia.
Refleksi Idul Adha dan Krisis Adab Kekuasaan
Di titik inilah Idul Adha menjadi sangat relevan dengan kondisi bangsa hari ini.
Hari ini, banyak pemimpin lebih sibuk menjaga kewibawaan jabatan daripada menjaga kemuliaan lisan. Kritik dianggap ancaman. Perbedaan dipandang sebagai pembangkangan.
Padahal kekuasaan yang kehilangan adab akan melahirkan ketakutan sosial.
Kita membutuhkan pemimpin yang ketika dikritik mampu menjawab dengan ketenangan, bukan ancaman. Kita juga membutuhkan generasi muda yang kritis, tetapi tetap menjaga kesantunan intelektualnya.
Sebab kritik tanpa adab hanya melahirkan kebisingan. Namun kekuasaan tanpa adab jauh lebih berbahaya karena melahirkan ketakutan.Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail mengajarkan bahwa peradaban besar tidak dibangun oleh suara paling keras, melainkan oleh lisan yang paling beradab. Dari lembah sunyi Makkah, mereka membangun warisan moral yang bertahan sepanjang zaman.
Sementara hari ini, banyak ruang kekuasaan justru berubah seperti istana Namrud: bising, pongah, dan kehilangan nurani.
Idul Adha seharusnya tidak hanya mengajarkan tentang menyembelih hewan kurban, tetapi juga menyembelih ego, kesombongan, dan arogansi dalam berkomunikasi. Sebab dari lisanlah, kekuasaan bisa menjadi rahmat, atau justru berubah menjadi petaka sosial.
Budi Mulya, SP adalah Wakil Sekretaris PCNU Lima Puluh Kota dan pemerhati isu sosial-keagamaan.