Mushalla Pincuran Sabil dan Tugu Balai Gadang menjadi saksi bisu perjuangan para gerilyawan dan rakyat dalam mempertahankan kemerdekaan pada masa Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) 1949 di kawasan Koto Tuo dan sekitarnya. Ilustrasi: Asakato Media.
Catatan Redaksi:
Tulisan ini merupakan bagian keempat dari serial sejarah “Mengenang Nagari Koto Tuo dalam Rangkaian Sejarah PDRI 1949” karya Saiful, SP. Naskah disunting seperlunya untuk menyesuaikan dengan kaidah penulisan media digital tanpa mengubah fakta, kronologi, dan pokok pikiran penulis.
Oleh: Saiful, SP
Melalui Tulisan Kita Mengenal Sejarah.
Penyerangan Markas Boncah Pulutan
Peristiwa Tembok Padang Gantiang menyisakan luka dan dendam yang mendalam bagi pihak Belanda. Dalam suasana perang, kedua kubu terus berupaya mencari kesempatan untuk melancarkan serangan balasan.
Pada pagi hari, 30 Maret 1949, pasukan Belanda menyerang Markas Pasukan Gerilya Sektor II dan Markas Pasukan Sabil (MPS) yang berada di Boncah Pulutan.
Serangan tersebut bermula setelah Belanda berhasil menangkap seorang kurir gerilya bernama Muis di Jembatan Tanjung Pati. Dalam penangkapannya, ia mengalami tekanan dan penyiksaan agar bersedia menunjukkan lokasi markas para pejuang.
Tanda Bahaya dari Pinggir Batang Sinamar
Di tengah situasi yang mencekam, seorang anggota Badan Pengawal Nagari dan Kota (BPNK) bernama Bakhtiar Toduang melihat adanya pergerakan yang mencurigakan.
Dari pos ronda di atas pohon beringin di tepi Batang Sinamar, kawasan Kayu Gadang, ia segera meniup puput tanduk, alat komunikasi tradisional yang digunakan sebagai tanda bahaya.
Bunyi puput tanduk itu menjadi isyarat bahwa pasukan Belanda telah memasuki kawasan Pulutan. Peringatan tersebut dengan cepat diteruskan kepada para pejuang di markas sehingga sebagian dari mereka sempat menyelamatkan diri.
Baca Juga : Koto Tuo dalam Jejak PDRI (1): Awal Agresi dan Luka di Koto Nan Gadang
Gugurnya Kurir Gerilya Muis
Nasib tragis menimpa Muis. Setelah mengalami pemukulan dan penyiksaan, tubuhnya bahkan disulut dengan api rokok, sementara kedua tangannya diikat ke belakang.
Setelah itu, Belanda menembaknya di belakang surau Boncah Pulutan yang ketika itu menjadi Markas Komandan Pertempuran Gerilya Sektor II Front Utara Payakumbuh.
Jenazah Muis mula-mula dimakamkan di Padang Tinggi, Pulutan. Setahun kemudian, tepatnya pada 1950, makamnya dipindahkan ke kompleks pemakaman Divisi Bukit Barisan sebagai bentuk penghormatan atas pengorbanannya.
Baca juga : Koto Tuo dalam Jejak PDRI (2): Lahirnya Pertahanan Gerilya Front Utara Payakumbuh
Rapat Rahasia di Tanjung Pati
Di tengah tekanan perang, para pejuang tidak berhenti menyusun strategi. Pada 9 April 1949, mereka menggelar rapat rahasia di Tanjung Pati untuk membahas rencana pengalihan perhatian pasukan Belanda dari Kota Payakumbuh menjelang operasi terhadap markas Belanda di Bukittinggi.
Pertemuan itu dihadiri anggota CPM Brigade Mustang yang dipimpin Sersan Mayor Albert dari Limbanang. Hadir pula anggota BN Merapi Sersan Mayor Wahid, Sersan Dumai dari AURI Mungo, serta anggota Pasukan Pertempuran Gerilya Sektor II di bawah pimpinan M. Sain.
Dari hasil rapat tersebut diputuskan bahwa pasukan dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama dipimpin Sersan Mayor Wahid untuk melakukan gangguan terhadap kedudukan Belanda di Payakumbuh.
Sementara kelompok kedua dipimpin Sersan Mayor Albert dengan tugas menghadang kemungkinan pergerakan pasukan Belanda di sekitar Jembatan Simpang Tanjung Pati.
Baca juga : Koto Tuo dalam Jejak PDRI (1): Awal Agresi dan Luka di Koto Nan Gadang
Korban di Medan Perjuangan
Pada malam harinya, setelah terjadi baku tembak di Payakumbuh, Belanda melancarkan serangan balasan ke Tanjung Pati.
Di Simpang Empat Tanjung Pati, seorang kurir gerilya bernama Anin berhasil ditangkap. Dalam rangkaian pertempuran tersebut, Suan gugur setelah ditusuk dengan bayonet di kawasan Sawah Rawang.
Korban lainnya adalah Sersan Amir Zon dan Praptu Markat. Keduanya gugur di pinggir jalan, di kawasan yang kini berada di sekitar Radio Total.
Sementara itu, Sukiman, seorang agen Polisi Negara, tertangkap di kebun getah Padang Rajo. Ia kemudian dibunuh oleh Belanda di Simpang Empat Tanjung Pati.
Anin dibawa ke Limbanang, Amir Zon dibawa ke Mungo, sedangkan Suan dimakamkan di Padang Ambacang. Adapun Sukiman dimakamkan di Tanjung Pati sebelum akhirnya dipindahkan keluarganya ke makam pahlawan.
Baca juga : Menulis Ulang Sejarah Pangulu Nan Basurek (1): Awal Penyusupan Administrasi Kolonial di Nagari
Serangan Balasan Para Gerilyawan
Perjuangan belum berakhir. Pada pagi hari, 10 April 1949, pasukan Belanda yang bergerak kembali menuju Payakumbuh berhasil dihadang di Jembatan Tembok Jua, Lampasi.
Pasukan gerilya yang dipimpin Sersan Mayor Wahid melakukan penyergapan dan berhasil menewaskan sejumlah tentara Belanda. Dalam catatan perjuangan, sekitar dua belas anggota pasukan Belanda menjadi korban dalam peristiwa tersebut.
Lima hari kemudian, tepatnya 15 April 1949, Belanda kembali melakukan serangan. Kali ini mereka mengerahkan dua pesawat tempur Mustang untuk menembaki kawasan Tanjung Pati hingga Sarilamak dan Batu Balang.
Serangan udara itu tidak menimbulkan korban jiwa. Namun, dua ekor ternak milik warga dilaporkan mati terkena tembakan di kawasan III Alur.
Peristiwa-peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan bukan hanya dilakukan oleh para prajurit bersenjata. Para kurir, penjaga nagari, hingga masyarakat biasa ikut memikul risiko yang sama, bahkan rela mengorbankan nyawa demi mempertahankan tanah air.
Baca juga : Denyut Ruhaniyah Indonesia di Minangkabau: Kisah “Collab” Bung Karno dan Syekh Abbas Padang Japang
Bersambung ke Seri 5
Koto Tuo dalam Jejak PDRI (5): Tanjung Pati dan Koto Tuo Menjadi Lautan Api
Pada bagian berikutnya, ancaman Belanda semakin nyata. Masyarakat mulai mengungsi, sementara para pejuang dan rakyat bersiap menghadapi serangan besar yang kemudian dikenang sebagai peristiwa Koto Tuo Lautan Api.