Catatan Redaksi:
Tulisan ini merupakan bagian kedua dari serial sejarah “Mengenang Nagari Koto Tuo dalam Rangkaian Sejarah PDRI 1949″ karya Saiful, SP. Naskah disunting seperlunya untuk menyesuaikan dengan kaidah penulisan media digital tanpa mengubah fakta, kronologi, dan pokok pikiran penulis.
Oleh: Saiful, SP
Melalui Tulisan Kita Mengenal Sejarah.
Pembentukan Pertahanan Rakyat
Peristiwa yang terjadi di Koto Nan Gadang pada Februari 1949 tidak menyurutkan semangat perjuangan rakyat. Sebaliknya, ancaman yang semakin besar justru mendorong berbagai unsur masyarakat untuk menyusun kekuatan dan memperkuat pertahanan.
Sekitar 10 Maret 1949, atas prakarsa Wali Perang Koto Nan Gadang, Syamsuar Yahya, yang menggantikan Datuk Kiraiang karena berpihak kepada Belanda, digelar sebuah pertemuan penting. Hadir dalam pertemuan itu Wali Perang Lubuak Batingkok Junias Janaid, Wali Perang Koto Tuo Khatib Bermawi, serta Wali Perang Gurun Datuk Bosa Nan Hitam.
Dari hasil musyawarah tersebut dibentuk pembagian tugas pertahanan rakyat. Mardisun dari Koto Nan Gadang dipercaya sebagai Ketua Pemerintah Darurat Payakumbuh sekaligus Komandan Kompi.
Sementara itu, M. Sain dari Tanjung Pati dan Darisun dari Koto Nan Gadang ditunjuk sebagai Komandan Pertempuran Pasukan Gerilya Sektor II Payakumbuh Utara.
Pasukan gerilya yang dibentuk melibatkan pejuang dari berbagai nagari. Di antaranya Rasyid Datuk Ngiang, Mawi, Rabai dari Koto Tuo, Baini dari Koto Tangah, Zamawi dari Padang Rantang, Syamsulaini dari Tanjung Pati, Imam Bise dari Pulutan, serta sejumlah pejuang lainnya.
Untuk memperkuat koordinasi, pasukan dibagi ke beberapa titik. Pleton yang dipimpin M. Sain berkedudukan di sekitar Tanjung Pati dengan markas di Masjid Al Ikhlas Boncah Pulutan. Sementara pleton yang dipimpin Darisun ditempatkan di kawasan Padang Rantang dengan markas di Surau Haji Sulaiman.
Baca juga : Koto Tuo dalam Jejak PDRI (1): Awal Agresi dan Luka di Koto Nan Gadang
Awal Gerilya Front Utara Payakumbuh
Dalam catatan M. Sain, mantan Komandan Pertempuran Pasukan Gerilya Sektor II Payakumbuh Utara, pasukan Belanda mulai memasuki Tanjung Pati pada 31 Desember 1948. Kedatangan mereka berlangsung secara tiba-tiba dan berpapasan dengan rombongan CPM Divisi IX Banteng yang dipimpin Letnan Muda Amir Hamzah.
Dalam peristiwa itu, Kopral Saham tertangkap oleh Belanda dan kemudian dibunuh di kawasan yang kini berada di sekitar Polsek Harau.
Sementara itu, Sersan Mayor Darwis mengalami luka di bagian pipi dan leher. Pada malam harinya, ia berhasil diselamatkan oleh Pasukan Gerilya Sektor II dan dibawa ke markas CPM Divisi IX Banteng di Limbanang.
Sekitar pukul empat dini hari, pasukan Belanda kembali melakukan pengepungan terhadap Pasukan Gerilya Front Lima Puluh Kota. Namun, sebelum pengepungan terjadi, pasukan gerilya telah bergeser menuju Batu Nan Limo, Simalanggang.
Dalam perjalanan, Belanda menyergap tiga anggota Badan Pengawal Nagari dan Kota (BPNK) Koto Tuo yang sedang melaksanakan ronda malam.
Datuk Anso dan Amarellah gugur setelah ditebas di simpang jalan menuju Koto Tangah. Sementara Marin Atiak mengalami luka berat di bagian leher dan pipi.
Dengan berpura-pura telah meninggal dunia, Marin Atiak berhasil menyelamatkan diri. Keesokan harinya, masyarakat menolongnya dan membawanya ke rumah sakit darurat di Suliki untuk mendapatkan perawatan.
Korban lain dalam peristiwa tersebut adalah Ruin Datuk Sinaro Panjang, yang gugur setelah tertembak di depan Balai Adat Koto Tuo.
Mendengar kabar penyerangan itu, pasukan gerilya yang berada di Batu Nan Limo segera bergerak menuju Padang Koreh Taeh Bukik untuk menyelamatkan diri. Rumah Bidan Nawa yang sempat dijadikan tempat persinggahan pasukan pun dibakar oleh Belanda.
Baca juga : Dari Mana Orang Minang Mendapatkan Kekuatan Berpikirnya?
Pasukan Mobil Teras dan Strategi Perlawanan
Sesuai instruksi Gubernur Militer, ruang gerak pasukan Belanda harus dipersempit. Salah satu strategi yang diterapkan adalah memutus jembatan-jembatan serta jalur penghubung yang dapat digunakan musuh.
Tugas tersebut dijalankan oleh Pasukan Mobil Teras (PMT). Pada masa Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI), pasukan ini dikenal sebagai bagian dari Barisan Pengawal Nagari dan Kota (BPNK).
Pasukan Mobil Teras dibentuk, dididik, dan dikoordinasikan langsung oleh tokoh pejuang Chatib Sulaiman. Mereka menjadi salah satu unsur penting dalam sistem pertahanan rakyat di wilayah Payakumbuh dan sekitarnya.
Salah satu aksi penting yang dilakukan PMT adalah meruntuhkan jembatan di Tembok Jua. Akibatnya, hubungan antara Payakumbuh dan Tanjung Pati melalui jalur utama terputus.
Bagi para pejuang, langkah tersebut bukan sekadar tindakan sabotase. Memutus jalur transportasi merupakan bagian dari strategi perang gerilya untuk memperlambat pergerakan pasukan Belanda, sekaligus memperkuat pertahanan rakyat di Front Utara Payakumbuh.
Perlawanan yang dibangun melalui kerja sama antara pasukan gerilya, pemimpin nagari, dan masyarakat inilah yang kemudian menjadi fondasi penting bagi bertahannya perjuangan PDRI di kawasan Koto Tuo dan sekitarnya.
Baca Juga : Payakumbuh Salurkan Bantuan Rp1 Miliar ke Lima Puluh Kota
Bersambung ke Seri 3
Koto Tuo dalam Jejak PDRI (3): Pertempuran Tembok Padang Gantiang dan Perlawanan Rakyat
Pada bagian berikutnya, perjuangan memasuki babak yang lebih menentukan ketika pasukan gerilya dan rakyat menghadang gerak maju Belanda di Tembok Padang Gantiang, sebuah peristiwa yang menjadi salah satu episode penting dalam sejarah PDRI di wilayah Payakumbuh dan Koto Tuo.