Berpikirlah Seperti Orang Minangkabau Berpikir (Bagian 2)
Oleh: Saiful Guci, SP Dt. Rajo Sampono
Mengapa ada orang yang mampu tetap tenang ketika menghadapi masalah besar?
Mengapa ada yang sanggup melihat peluang ketika orang lain hanya melihat kesulitan?
Mengapa ada yang mampu mengambil keputusan dengan bijak di tengah tekanan, sementara yang lain justru terjebak dalam kebingungan?
Mungkin jawabannya bukan karena mereka lebih kaya.
Bukan pula karena mereka lebih berpendidikan.
Sering kali jawabannya terletak pada cara mereka melatih akal dan hati.
Pada bagian pertama tulisan ini, kita membahas bagaimana orang Minangkabau dikenal memiliki daya tahan yang kuat dalam menghadapi kehidupan. Mereka tidak mudah menyerah ketika gagal, tidak mudah putus asa ketika terhimpit, dan tidak mudah berhenti ketika menghadapi jalan buntu.
Pertanyaannya sekarang:
Dari mana cara berpikir seperti itu berasal?
Tidak Semua Orang yang Berakal Mau Berpikir
Allah SWT memberikan akal kepada setiap manusia.
Namun memiliki akal belum tentu sama dengan menggunakan akal.
Banyak orang memiliki pengetahuan, tetapi tidak mau merenung.
Banyak orang memiliki pengalaman, tetapi tidak mau mengambil pelajaran.
Banyak orang melihat peristiwa yang sama, tetapi menghasilkan kesimpulan yang berbeda.
Karena itu, orang tua-tua Minangkabau tidak hanya mengajarkan anak-anaknya untuk menjadi pandai. Mereka mengajarkan bagaimana menggunakan kepandaian tersebut dengan benar.
Sebab kecerdasan yang tidak dibimbing oleh kebijaksanaan dapat berubah menjadi kesombongan.
Dan pengetahuan yang tidak dibimbing oleh akhlak dapat berubah menjadi petaka.
BACA JUGA : 3 Pilar Marwah Laki-Laki Minangkabau di Tengah Badai Materialisme
Pangkal Akal Nan Sapuluah
Dalam khazanah adat Minangkabau terdapat konsep yang dikenal sebagai Pangkal Akal Nan Sapuluah.
Konsep ini menggambarkan bahwa manusia tidak cukup hanya memiliki ilmu. Ia juga harus membangun kualitas berpikir yang utuh.
Di dalamnya terdapat nilai-nilai seperti ikhtiar, ilmu, cerdik, cendekia, arif, budiman, siddiq, midik, jauhari, dan bijaksana.
Sekilas, daftar ini terlihat sederhana.
Namun jika direnungkan lebih dalam, seluruh unsur tersebut sesungguhnya membentuk satu karakter yang lengkap.
Orang yang berilmu belum tentu arif.
Orang yang cerdik belum tentu jujur.
Orang yang pintar belum tentu bijaksana.
Karena itu, adat Minangkabau tidak hanya menghargai kecerdasan, tetapi juga menghargai kematangan berpikir.
Seseorang baru dianggap benar-benar pandai apabila ilmunya menghadirkan manfaat bagi orang lain.
Mengapa Banyak Orang Pintar Justru Bermasalah?
Pertanyaan ini mungkin terdengar aneh.
Namun coba perhatikan kehidupan di sekitar kita.
Tidak sedikit orang yang memiliki pendidikan tinggi, tetapi gagal mengendalikan dirinya.
Tidak sedikit yang cerdas, tetapi sulit menghargai orang lain.
Tidak sedikit yang kaya ilmu, tetapi miskin kebijaksanaan.
Di sinilah orang Minangkabau membedakan antara pintar dan arif.
Pintar membuat seseorang mampu menjawab persoalan.
Tetapi arif membuat seseorang mampu memilih jawaban yang benar.
Pintar membuat seseorang mampu berbicara.
Tetapi bijaksana membuat seseorang tahu kapan harus berbicara dan kapan harus diam.
Karena itu, tujuan akhir pendidikan dalam pandangan adat bukan sekadar melahirkan orang pintar, melainkan melahirkan manusia yang berguna.
Raso Dibao Naiak, Pareso Dibao Turun
Ada satu petuah Minangkabau yang sangat relevan hingga hari ini:
Raso dibao naiak, pareso dibao turun.
Petuah ini mengandung pelajaran besar tentang cara mengambil keputusan.
“Raso” adalah rasa.
Ia berbicara tentang hati nurani, empati, dan kemanusiaan.
Sedangkan “pareso” adalah pemeriksaan.
Ia berbicara tentang logika, pertimbangan, dan analisis.
Masalahnya, banyak manusia hari ini cenderung memilih salah satunya.
Ada yang terlalu mengikuti perasaan.
Ada pula yang terlalu mengandalkan logika.
Padahal keputusan terbaik lahir ketika hati dan akal berjalan bersama.
Ketika rasa naik tanpa pareso, lahirlah keputusan yang emosional.
Ketika pareso berjalan tanpa rasa, lahirlah keputusan yang dingin dan kehilangan kemanusiaan.
Karena itulah orang tua-tua Minangkabau mengajarkan keseimbangan.
BACA JUGA : 5 Kegelisahan Dakwah: Ketika Google Lebih Dipercaya dari Ustaz
Alam Takambang Jadi Guru
Lalu di mana sekolah terbaik untuk melatih cara berpikir?
Orang Minangkabau memiliki jawaban yang sederhana namun sangat dalam:
Alam Takambang Jadi Guru.
Alam yang terbentang adalah guru.
Kehidupan adalah guru.
Pengalaman adalah guru.
Bahkan kegagalan sekalipun adalah guru.
Karena itu, orang Minangkabau tidak hanya belajar dari buku.
Mereka belajar dari sawah.
Belajar dari pasar.
Belajar dari rantau.
Belajar dari keberhasilan.
Dan belajar dari kegagalan.
Mereka memahami bahwa pelajaran terbesar dalam hidup sering kali tidak ditemukan di ruang kelas, melainkan di dalam pengalaman itu sendiri.
Mengapa Orang Minang Mudah Beradaptasi?
Salah satu kekuatan yang sering dimiliki masyarakat Minangkabau adalah kemampuan beradaptasi.
Mereka dapat hidup di berbagai daerah, berbagai lingkungan, bahkan berbagai negara.
Apa rahasianya?
Karena mereka terbiasa belajar.
Mereka tidak merasa paling tahu.
Mereka tidak merasa paling benar.
Mereka membawa identitasnya, tetapi tetap membuka diri untuk belajar dari lingkungan baru.
Di sinilah falsafah Alam Takambang Jadi Guru bekerja.
Semakin banyak pengalaman, semakin luas cara pandang.
Semakin luas cara pandang, semakin bijaksana seseorang dalam menghadapi kehidupan.
Pada Akhirnya, Semua Kembali kepada Allah
Namun setinggi apa pun ilmu seseorang, orang Minangkabau tetap diingatkan untuk tidak lupa kepada Sang Pencipta.
Karena akal adalah anugerah.
Ilmu adalah amanah.
Dan keberhasilan adalah karunia Allah SWT.
Dalam falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah, kecerdasan tidak boleh membuat manusia merasa lebih tinggi dari orang lain.
Sebaliknya, semakin luas ilmu seseorang, semakin besar kesadarannya bahwa masih banyak hal yang belum diketahuinya.
Di sinilah kerendahan hati lahir.
Dan di sinilah kebijaksanaan mulai tumbuh.
BACA JUGA : Hujan, Rezeki, dan Zakat : Sistem Langit yang Sering Kita Lupakan
Sebelum Menuntut Dunia Berubah
Mungkin inilah pelajaran terbesar yang diwariskan oleh alam pikiran Minangkabau.
Sering kali kita berharap keadaan berubah.
Berharap orang lain berubah.
Berharap dunia berubah.
Padahal perubahan terbesar biasanya dimulai dari diri sendiri.
Dimulai dari cara berpikir.
Dimulai dari keberanian untuk belajar.
Dimulai dari kesediaan menerima pelajaran dari kehidupan.
Karena itu, sebelum menuntut dunia menjadi lebih baik, cobalah bertanya kepada diri sendiri:
Sudahkah kita menggunakan akal yang Allah berikan?
Sudahkah kita belajar dari pengalaman?
Sudahkah kita menjadikan kehidupan sebagai guru?
Jika jawabannya belum, mungkin di situlah awal perubahan yang sesungguhnya.
Sebab sebagaimana diyakini oleh orang tua-tua Minangkabau, manusia yang terus belajar tidak akan pernah benar-benar kalah oleh keadaan.
Ia mungkin jatuh.
Ia mungkin gagal.
Tetapi ia selalu menemukan alasan untuk bangkit kembali.
Dan barangkali itulah warisan paling berharga dari alam pikiran Minangkabau.
BACA JUGA : Mengapa Orang Minang Sulit Dikalahkan oleh Keadaan? (Bagian 1)
Penulis
Saiful Guci, SP Dt. Rajo Sampono
Editor
Budi Mulya, SP