Peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw menjadi momentum merefleksikan kemerdekaan melalui keteladanan Rasulullah.
Setiap tahun, umat Islam memperingati Maulid Nabi Muhammad Saw. Momentum ini bukan sekadar mengenang kelahiran seorang manusia mulia, tetapi kesempatan membaca kembali perjalanan manusia yang menjadi teladan terbaik bagi kehidupan.
Tahun ini, Maulid Nabi hadir tidak lama setelah Indonesia memperingati kemerdekaan. Jarak waktu yang berdekatan itu menghadirkan sebuah pertanyaan: apa yang dapat kita pelajari tentang kemerdekaan dari keteladanan Rasulullah Saw?
Allah SWT memberikan jawabannya melalui Al-Qur’an. Dalam QS Al-Ahzab ayat 21, Rasulullah Saw disebut sebagai uswatun hasanah, teladan yang baik bagi orang-orang yang berharap kepada Allah dan hari akhir serta banyak mengingat-Nya.
Dalam tradisi keilmuan Syafi’iyah, Syekh Nawawi al-Bantani menjelaskan uswah sebagai pekerti baik yang layak diikuti. Karena itu, Maulid tidak cukup hanya mengingat sejarah kelahiran Rasulullah Saw.
Terus Bersama Asakato
Asakato hadir menghadirkan informasi, inspirasi, dan literasi untuk masyarakat. Dukungan pembaca membantu kami terus berkarya.
Dukung melalui Asakato.shopMaulid mengajak kita melihat bagaimana keteladanan itu hadir dalam kehidupan nyata.
Baca juga : Ngaji Taqrib Seri 08: Sunnah Ketiga dalam Wudhu
Rasulullah Mengajarkan Cara Memperjuangkan Perubahan
Rasulullah Saw menghadapi perjuangan yang tidak ringan. Dakwah di Makkah mendapat penolakan dan tekanan, tetapi beliau tetap teguh menjalankan risalah dengan petunjuk Allah SWT.
Keteguhan itu tidak berarti mengabaikan ikhtiar.
Peristiwa hijrah memperlihatkan hal tersebut dengan jelas. Rasulullah Saw bersama Sayidina Abu Bakar menyiapkan perjalanan dengan matang, memilih waktu, menggunakan jalur yang tidak biasa, dan memanfaatkan tempat persembunyian untuk menghindari pengejaran.
Tawakal berjalan bersama ikhtiar.
Dari hijrah, kita melihat bahwa perubahan membutuhkan keberanian, kesabaran, perencanaan, pengorbanan, dan keyakinan kepada pertolongan Allah SWT.
Sesampainya di Madinah, perjuangan itu memasuki tahap yang berbeda. Rasulullah Saw tidak berhenti setelah berhasil keluar dari tekanan Makkah.
Beliau mulai membangun masyarakat.
Kaum Muhajirin dan Ansar dipersaudarakan. Kehidupan masyarakat ditata. Kelompok-kelompok yang berbeda diarahkan untuk hidup dalam kesepakatan bersama.
Piagam Madinah menjadi salah satu contoh bagaimana Rasulullah Saw menata kehidupan masyarakat yang majemuk dengan hak dan tanggung jawab bersama.
Dari sini terlihat bahwa perjuangan tidak selesai ketika kebebasan berhasil diperoleh. Setelah itu, ada pekerjaan yang lebih besar: membangun kehidupan yang baik.
Baca juga : Ngaji Taqrib Seri 07: Sunnah Kedua dalam Wudhu, Membasuh Kedua Telapak Tangan
Kemerdekaan sebagai Rahmat Allah
Jika keteladanan Rasulullah Saw dilihat dari perjalanan tersebut, kemerdekaan Indonesia juga dapat direnungkan dengan cara yang lebih dalam.
Kemerdekaan tidak lahir tanpa perjuangan. Ada keberanian, pengorbanan, persatuan, doa, dan ikhtiar panjang para pendahulu.
Bagi seorang Muslim, seluruh ikhtiar manusia tetap berada dalam kehendak Allah SWT. Karena itu, kemerdekaan Indonesia dapat kita pandang sebagai rahmat Allah SWT yang hadir melalui perjuangan manusia.
Para pahlawan telah berjuang untuk merebut kemerdekaan. Generasi setelahnya menerima tugas untuk menjaga dan mengisinya.
Di sinilah keteladanan Rasulullah Saw kembali menemukan relevansinya.
Allah SWT telah memberikan contoh melalui hamba-Nya yang terbaik tentang bagaimana perubahan diperjuangkan dan bagaimana kehidupan dibangun setelah perubahan itu berhasil.
Bahkan ketika kemenangan berada di tangannya, Rasulullah Saw tidak menjadikannya kesempatan untuk membalas dendam. Dalam peristiwa Fathu Makkah, beliau menunjukkan sikap pemaaf terhadap masyarakat Quraisy yang sebelumnya memusuhi kaum Muslimin.
Kemenangan tidak membuat Rasulullah kehilangan akhlak.
Pesan ini penting bagi bangsa yang telah merdeka. Kemerdekaan memberikan kekuatan, tetapi kekuatan membutuhkan akhlak. Kekuasaan membutuhkan keadilan. Kebebasan membutuhkan tanggung jawab.
Hari ini, bentuk perjuangan generasi muda memang berbeda. Mereka hidup bersama internet, media sosial, kecerdasan buatan, dan arus informasi yang bergerak sangat cepat.
Kebebasan menjadi semakin luas, tetapi tanggung jawab juga semakin besar.
Bebas berbicara tidak berarti bebas menyebarkan kebencian. Bebas membuat konten tidak berarti bebas meninggalkan kejujuran. Bebas mengejar kesuksesan tidak berarti boleh mengabaikan amanah.
Di sinilah keteladanan Rasulullah Saw tetap relevan.
Baca juga : Sudah Benarkah Wudhu Kita? Mengenal Enam Rukunnya
Beliau mengajarkan bahwa kebebasan bukan sekadar kemampuan melakukan apa saja. Kebebasan adalah kesempatan memilih kebaikan dan bertanggung jawab atas pilihan tersebut.
Karena itu, memperingati Maulid Nabi Muhammad Saw di tengah suasana kemerdekaan bukan sekadar mengenang kelahiran seorang manusia agung.
Kita sedang membaca kembali sebuah keteladanan tentang bagaimana manusia, dengan petunjuk Allah SWT, membebaskan dirinya, membangun masyarakat, dan menggunakan kebebasan untuk menghadirkan kebaikan.
Kemerdekaan Indonesia adalah rahmat Allah SWT. Para pahlawan telah menunjukkan bagaimana rahmat itu diperjuangkan dengan pengorbanan.
Kini, generasi kita mempunyai tugas untuk mengisinya.
Dan untuk menjalankan tugas itu, Allah SWT telah memberikan teladan terbaik kepada manusia:
Sayidina Muhammad Saw.
Maka, memperingati Maulid bukan hanya tentang mengingat kelahiran beliau. Maulid juga menjadi kesempatan melihat kembali teladan itu dan bertanya kepada diri sendiri:
Sudahkah kita memperjuangkan kebaikan, membangun kehidupan, dan menggunakan kebebasan dengan cara yang dicontohkan Rasulullah Saw?
Sebab, kecintaan kepada Sayidina Muhammad Saw akan semakin bermakna ketika keteladanan beliau hadir dalam kehidupan kita.
Allahumma shalli ‘ala Sayidina Muhammad wa ‘ala ali Sayidina Muhammad.
Baca juga : 5 Hukum dalam Islam yang Mulai Dilupakan Manusia Modern
Penulis: Budi Mulya, S.P.
Editor: Tim Redaksi Asakato
Bio Penulis
Wakil Sekretaris PCNU Lima Puluh Kota dan pemerhati isu sosial-keagamaan.
❤️ Dukung Asakato
Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda,
mari bantu Asakato terus menghadirkan berita, edukasi, dan inspirasi untuk masyarakat.
Dukungan sekecil apa pun sangat berarti agar kami dapat terus berkarya secara independen.
Terima kasih telah menjadi bagian dari perjalanan Asakato – Media Inspirasi dan Literasi Umat.