Ilustrasi perjalanan ekonomi manusia sepanjang 80 tahun, dari masa muda dan usia produktif hingga usia senja dengan jaring pengaman sosial.
Oleh: Drs. Andriwifa, M.Si.
Peneliti Pusat Riset Pangan Gizi dan Pemberdayaan Masyarakat Universitas Negeri Padang
Pernahkah Anda membayangkan bahwa hidup manusia selama kurang lebih 80 tahun ibarat sebuah perjalanan panjang menggunakan bus?
Jika dilihat dari kacamata ekonomi, setiap orang sebenarnya sedang menempuh perjalanan yang sama. Namun, setiap penumpang memiliki fasilitas, muatan, dan tantangan yang berbeda.
Perjalanan tersebut dapat kita bayangkan melalui empat babak sederhana.
Terus Bersama Asakato
Asakato hadir menghadirkan informasi, inspirasi, dan literasi untuk masyarakat. Dukungan pembaca membantu kami terus berkarya.
Dukung melalui Asakato.shopBerangkat Tanpa Tiket
Pada awal perjalanan, ketika masih kanak-kanak hingga remaja, setiap penumpang naik ke dalam bus tanpa membawa uang atau tiket sendiri.
Seluruh biaya perjalanan, bekal, dan kebutuhan pendidikan masih ditanggung oleh orang tua atau sistem pendukung di sekitarnya. Pada tahap ini, belum ada beban finansial yang harus dipikul sendiri.
Namun, perjalanan terus bergerak.
Ketika memasuki usia kerja, penumpang mulai mengambil tanggung jawab atas perjalanan ekonominya sendiri.
Jalur Pendakian dan Beban di Sepanjang Jalan
Memasuki usia produktif, penumpang mulai bekerja keras untuk mengisi bahan bakar bus.
Bahan bakar itu adalah penghasilan.
Inilah masa ketika seseorang berada dalam periode paling produktif. Penghasilan yang diperoleh digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan, jika memungkinkan, disisihkan sebagai bekal untuk masa depan.
Namun, perjalanan tidak selalu mudah.
Di setiap kilometer perjalanan terdapat berbagai pos pengeluaran wajib. Barang, makanan, dan layanan yang dinikmati selama perjalanan dapat mengandung pajak. Belum lagi adanya beban utang bersama negara yang secara tidak langsung ikut berada dalam perjalanan ekonomi setiap orang.
Akibatnya, bahan bakar yang seharusnya dapat disimpan sebagai bekal untuk hari tua dapat terkuras di tengah perjalanan.
Persoalannya kemudian menjadi penting:
Ketika bus mendekati halte terakhir, masih berapa banyak bekal yang tersisa?
Jawabannya tidak sama bagi setiap penumpang.
Dua Nasib di Ujung Jalan: Kursi VVIP dan Penumpang Umum
Di sinilah ketimpangan mulai terlihat.
Sebagian kecil penumpang sejak lahir sudah duduk di kursi VVIP. Mereka tidak terlalu khawatir kehabisan bahan bakar karena telah mewarisi mesin bus dan perusahaan besar dari orang tua.
Mesin tersebut terus menghasilkan uang sepanjang perjalanan, tanpa harus bergantung sepenuhnya pada kerja fisik pemiliknya.
Sementara itu, rakyat kebanyakan harus menghadapi jalan yang berlubang dan cuaca buruk dengan kemampuan yang mereka miliki sendiri.
Tanpa tabungan yang cukup akibat tergerus pajak dan tingginya biaya hidup, mereka dapat menghadapi risiko kehabisan bekal ketika bus mulai mendekati halte terakhir.
Perbedaan itu menunjukkan bahwa setiap orang tidak memulai perjalanan dari titik yang sama.
Ada yang sejak awal membawa bekal besar.
Ada yang harus mengumpulkannya sedikit demi sedikit.
Ada yang memiliki aset yang terus menghasilkan pendapatan.
Ada pula yang mengandalkan penghasilan dari pekerjaannya untuk memenuhi kebutuhan hidup sekaligus mempersiapkan masa depan.
Karena itu, perjalanan 80 tahun setiap orang tidak selalu menghasilkan keadaan akhir yang sama.
Ketika usia senja tiba, perbedaan tersebut dapat menjadi semakin terasa.
Rem Darurat Bernama Gotong Royong
Ketika bus hampir mogok dan bekal benar-benar menipis di ujung usia, perhitungan ekonomi formal tidak selalu cukup untuk menyelamatkan rakyat biasa.
Namun, masyarakat memiliki sesuatu yang tidak selalu tercatat dalam kalkulator bank: jaring pengaman sosial.
Kepedulian keluarga, kerabat, dan tradisi gotong royong dapat menjadi penopang bagi mereka yang berada dalam kondisi rentan.
Nilai-nilai kebersamaan inilah yang memungkinkan masyarakat saling mengulurkan tangan dan membantu memastikan para lansia tidak jatuh ke dalam kemiskinan mutlak ketika sistem ekonomi formal tidak mampu memberikan perlindungan yang memadai.
Gotong royong, dengan demikian, dapat menjadi semacam rem darurat dalam perjalanan panjang manusia.
Ia mungkin tidak terlihat dalam laporan keuangan.
Tidak selalu tercatat dalam statistik ekonomi.
Namun, dalam kehidupan nyata, keberadaannya dapat menentukan apakah seseorang mampu bertahan ketika bekalnya mulai habis.
Tidak Ada Penumpang yang Boleh Dibiarkan Terlempar
Perjalanan bus selama 80 tahun akhirnya membawa kita pada satu pertanyaan penting:
Seberapa adil perjalanan tersebut bagi seluruh penumpang?
Keadilan ekonomi bukan sekadar tentang seberapa keras seseorang mengayuh pedal di tengah perjalanan.
Keadilan juga menyangkut bagaimana beban perpajakan ditata dan bagaimana masyarakat menjaga solidaritas komunal agar mereka yang berada dalam posisi rentan tidak ditinggalkan.
Sebab, kita semua adalah penumpang dalam perjalanan yang sama.
Kita mungkin berbeda kursi.
Berbeda bekal.
Berbeda kemampuan.
Tetapi tidak seorang pun tahu bagaimana kondisi jalan yang akan dilalui sampai bus mencapai halte terakhir.
Karena itu, perjalanan kehidupan tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan setiap individu untuk mengumpulkan bekal.
Diperlukan pula sistem yang mampu menata beban secara adil dan masyarakat yang tetap menjaga kepedulian terhadap sesama.
Pada akhirnya, perjalanan 80 tahun bukan hanya tentang seberapa jauh seseorang mampu melaju.
Perjalanan itu juga tentang bagaimana memastikan tidak ada satu pun penumpang yang dibiarkan terlempar ketika bus kehidupan mendekati halte terakhir.
Editor : Budi Mulya, SP
❤️ Dukung Asakato
Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda,
mari bantu Asakato terus menghadirkan berita, edukasi, dan inspirasi untuk masyarakat.
Dukungan sekecil apa pun sangat berarti agar kami dapat terus berkarya secara independen.
Terima kasih telah menjadi bagian dari perjalanan Asakato – Media Inspirasi dan Literasi Umat.