Oleh: Dr. H. Arman Husni, Lc, MA
Haji sebagai Puncak Spiritualitas dan Kesetaraan Manusia
Ibadah haji merupakan puncak spiritualitas seorang Muslim. Disebut demikian karena di sanalah seorang hamba belajar melepaskan ego, kemewahan, dan kesibukan dunia demi memenuhi panggilan Allah.
Dalam ihram, semua manusia tampak sama. Yang mulia bukan karena jabatan atau harta, tetapi karena ketakwaannya.
Haji bukan sekadar perjalanan menuju Ka’bah, melainkan perjalanan hati menuju keikhlasan, pengorbanan, dan kedekatan sejati kepada Allah. Ia bukan sekadar perjalanan fisik menuju Tanah Suci, melainkan perjalanan ruhani menuju ketundukan total kepada Allah SWT.
Karena itu, tidak ada Muslim yang meragukan kemuliaan ibadah ini. Namun, di tengah realitas sosial umat hari ini, muncul pertanyaan penting: apakah semangat berhaji masih sepenuhnya bertumpu pada kesalehan spiritual, atau perlahan bergeser menjadi simbol prestise sosial?
Pergeseran Makna Haji: Antara Ibadah dan Prestise Sosial
Di Indonesia, fenomena sosial tentang haji mengalami perubahan yang menarik. Gelar “haji” sering kali tidak hanya dimaknai sebagai identitas religius, tetapi juga simbol status sosial.
Tidak sedikit masyarakat yang merasa “belum lengkap” secara sosial sebelum berhaji. Bahkan dalam sebagian tradisi sosial, keberangkatan haji kadang lebih meriah daripada substansi nilai-nilai pengorbanan dan kepedulian yang diajarkan haji itu sendiri.
Padahal, Islam tidak hanya mengajarkan kesalehan individual, tetapi juga kesalehan sosial. Dalam banyak ayat dan hadits, ibadah ritual selalu berdampingan dengan kepedulian terhadap fakir miskin, pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan masyarakat.
Data menunjukkan bahwa biaya haji di Indonesia terus mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) tahun 2025 mencapai sekitar Rp89,4 juta per jamaah.
Sementara itu, biaya yang langsung dibayar jamaah rata-rata sekitar Rp55,4 juta. Pada saat yang sama, Badan Pusat Statistik mencatat masih terdapat sekitar 23,85 juta penduduk miskin di Indonesia pada Maret 2025.
Angka ini menghadirkan refleksi moral bagi umat Islam. Di satu sisi, antusiasme berhaji sangat tinggi.
Kuota haji Indonesia tahun 2025 mencapai 221 ribu jamaah. Di sisi lain, masih banyak masyarakat yang kesulitan memperoleh akses pendidikan berkualitas, layanan kesehatan layak, bahkan kebutuhan pangan dasar.
BACA JUGA : Paradoks Pendidikan: Biaya Kian Mahal, Ilmu Justru Kehilangan Makna
Istithā‘ah dan Tanggung Jawab Sosial dalam Islam
Al-Qur’an secara tegas menyebut bahwa haji diwajibkan hanya bagi yang “mampu” (istithā‘ah). Kemampuan dalam makna Islam sejatinya bukan hanya cukup ongkos perjalanan, tetapi juga tidak mengabaikan tanggung jawab sosial dan keluarga.
Seseorang mungkin mampu membeli tiket keberangkatan, tetapi belum tentu benar-benar “mampu” jika di saat yang sama pendidikan anak terbengkalai, orang tua sakit tidak terurus, atau masyarakat sekitarnya hidup dalam kesulitan.
Tentu tulisan ini bukan untuk mempertentangkan haji dan sedekah sosial. Haji tetap rukun Islam yang wajib ditunaikan bagi yang mampu.
Namun, yang perlu dikritisi adalah cara pandang masyarakat ketika haji lebih banyak diposisikan sebagai simbol gengsi dibanding sarana transformasi moral dan sosial.
Ironisnya, semangat sosial yang menjadi ruh haji terkadang justru memudar setelah seseorang kembali dari Tanah Suci. Gelar haji bertambah, tetapi kepekaan sosial tidak ikut tumbuh.
Padahal, makna terdalam dari haji adalah pengorbanan, kesederhanaan, persamaan derajat, dan kepedulian terhadap sesama manusia.
Spirit Kepedulian Sosial dalam Teladan Para Ulama dan Nabi Ibrahim
Dikisahkan Abdullah bin Mubarak pernah membatalkan perjalanan hajinya setelah melihat seorang anak perempuan mencari bangkai makanan di tumpukan sampah demi menyambung hidup keluarganya.
Beliau lalu memberikan bekal biaya hajinya kepada keluarga itu. Dari kisah ini, kita belajar bahwa spiritualitas sejati bukan hanya tentang perjalanan menuju Tanah Suci, tetapi juga tentang kepekaan hati terhadap penderitaan sesama.
Nabi Ibrahim memberikan teladan pengorbanan sosial dan spiritual sekaligus. Beliau tidak hanya membangun Ka’bah, tetapi juga membangun peradaban keluarga dan generasi.
Spirit haji sejatinya melahirkan manusia yang lebih peka terhadap penderitaan umat, bukan sekadar bangga telah menunaikan ritual.
Dalam pembahasan Asrār al-Ḥajj, Abu Hamid al-Ghazali menjelaskan bahwa haji bukan hanya gerakan fisik, tetapi latihan spiritual untuk melahirkan kerendahan hati, pengorbanan, dan pelepasan diri dari kesombongan duniawi.
Spirit haji harus tampak dalam akhlak dan hubungan sosial setelah kembali dari Tanah Suci.
Jadi, nilai terdalam dari ibadah tidak terletak pada kemegahan perjalanan atau simbol-simbol lahiriah, melainkan pada perubahan sikap hidup setelahnya.
Penghambaan yang autentik menuntut kepekaan terhadap penderitaan manusia, kesediaan berkorban, serta kemampuan menundukkan ego dan kepentingan pribadi.
Ritual keagamaan seharusnya melahirkan pribadi yang lebih rendah hati, peduli, dan bertanggung jawab terhadap kehidupan sosial.
Karena itu, keberhasilan spiritual bukan diukur dari gelar atau pengakuan masyarakat, tetapi dari hadirnya akhlak yang lebih manusiawi, empati yang lebih dalam, dan kontribusi nyata bagi sesama.
BACA JUGA : 5 Kegelisahan Dakwah: Ketika Google Lebih Dipercaya dari Ustaz
Haji Mabrur: Dari Ritual Menuju Kemaslahatan Sosial
Di tengah tantangan zaman hari ini, umat Islam membutuhkan keseimbangan antara kesalehan ritual dan tanggung jawab sosial.
Membangun sekolah, membantu pendidikan generasi muda, memperkuat ekonomi umat, mendukung layanan kesehatan, hingga memberdayakan masyarakat miskin juga merupakan bagian dari ibadah besar dalam Islam.
Karena itu, haji semestinya tidak berhenti pada perjalanan menuju Makkah, tetapi berlanjut menjadi perjalanan panjang menghadirkan kemaslahatan sosial di tengah masyarakat.
Sebab ukuran kemabruran haji bukan hanya terlihat dari perubahan penampilan, melainkan dari sejauh mana seseorang menjadi lebih peduli terhadap sesama.
Di sinilah haji menemukan makna sejatinya, bukan sekadar prestise spiritual, tetapi jalan menuju lahirnya kepedulian sosial umat.
Pada akhirnya, nilai sebuah ibadah akan selalu diuji oleh dampaknya dalam kehidupan nyata. Ketika ritual hanya melahirkan kebanggaan pribadi tanpa menghadirkan manfaat bagi lingkungan sekitar, maka ruh pengorbanan dan ketulusan belum sepenuhnya tumbuh dalam diri.
Sebaliknya, hati yang benar-benar tersentuh oleh pengalaman spiritual akan lebih mudah tergerak untuk meringankan beban orang lain, memperjuangkan keadilan sosial, dan menghadirkan harapan bagi mereka yang lemah.
Dari sinilah tampak bahwa kemuliaan ibadah bukan hanya terletak pada banyaknya amalan yang dilakukan, tetapi pada kemampuan menghadirkan kasih sayang, kepedulian, dan kemanfaatan yang terus hidup di tengah masyarakat.
Bio Penulis:
Dr. H. Arman Husni, Lc, MA merupakan akademisi dan dosen pada UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi. Ia aktif dalam kajian keislaman, pendidikan, serta isu sosial-keumatan melalui tulisan dan kegiatan akademik.