Catatan Redaksi:
Tulisan ini merupakan bagian pertama dari serial sejarah “Mengenang Nagari Koto Tuo dalam Rangkaian Sejarah PDRI 1949” karya Saiful, SP. Untuk menjaga keutuhan alur sejarah dan memudahkan pembaca mengikuti setiap peristiwa, Asakato menerbitkan naskah ini dalam enam seri dengan penyuntingan bahasa sesuai Protokol ARTA, tanpa mengubah substansi dan pokok pikiran penulis.Serial “Koto Tuo dalam Jejak PDRI 1949“:
- Awal Agresi dan Luka di Koto Nan Gadang.
- Lahirnya Pertahanan Gerilya Front Utara Payakumbuh.
- Pertempuran Tembok Padang Gantiang dan Perlawanan Rakyat.
- Kurir Gerilya, Markas Pulutan, dan Strategi Perjuangan.
- Tanjung Pati dan Koto Tuo Menjadi Lautan Api.
- Jumat Berdarah dan Warisan Sejarah yang Tak Boleh Hilang.
Oleh: Saiful, SP
Melalui Tulisan Kita Mengenal Sejarah.
Awal Agresi Belanda di Nagari Koto Nan Gadang
Setiap tanggal 10 Juni, masyarakat Nagari Koto Tuo, Kecamatan Harau, Kabupaten Lima Puluh Kota, memperingati salah satu rangkaian peristiwa penting dalam sejarah Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) yang berlangsung sejak 19 Desember 1948 hingga Juli 1949. Tradisi mengenang sejarah ini mulai dilaksanakan secara rutin sejak tahun 2011 sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan dan pengorbanan para pendahulu.
Peristiwa yang dikenang tersebut bukanlah sebuah kejadian yang berdiri sendiri. Ia merupakan bagian dari rangkaian sejarah perjuangan yang berlangsung di wilayah Nagari Koto Nan Gadang dan kemudian berlanjut hingga ke Nagari Koto Tuo. Pada masa Agresi Militer Belanda II, kedua nagari ini menjadi bagian penting dari jalur pertahanan dan perlawanan rakyat terhadap upaya Belanda untuk kembali menguasai wilayah Republik Indonesia.
Setelah Kota Payakumbuh dibumihanguskan pada 23 Desember 1948, Belanda mulai memperkuat kedudukannya dengan mendirikan sejumlah pos militer di beberapa lokasi strategis.
Salah satunya berada di rumah Guru Saidi di Simpang Jalan menuju Rumah Sakit Umum Payakumbuh. Pos lainnya ditempatkan di rumah Datuk Patiah Baringek di Balai Baru, yang kini dikenal sebagai kawasan Rumah Adat H. Marlius.
Kehadiran pos-pos tersebut menandai semakin ketatnya pengawasan dan tekanan terhadap masyarakat. Aktivitas sehari-hari berlangsung di bawah bayang-bayang patroli dan operasi militer. Rakyat dipaksa hidup dalam ketidakpastian, sementara para pemuda mulai terlibat dalam berbagai bentuk perlawanan untuk mempertahankan kemerdekaan yang baru saja diproklamasikan.
Rangkaian peristiwa yang terjadi di Koto Nan Gadang inilah yang kemudian menjadi bagian awal dari sejarah perjuangan masyarakat Nagari Koto Tuo. Kedekatan wilayah serta hubungan pertahanan dan pergerakan gerilya pada masa PDRI membuat sejarah kedua nagari ini tidak dapat dipisahkan. Dari rangkaian peristiwa inilah kelak lahir berbagai episode perjuangan yang akan mengantarkan kita pada kisah Koto Tuo Lautan Api
Tragedi Berdarah Februari 1949
Salah satu peristiwa yang paling membekas dalam ingatan masyarakat Kenagarian Koto Nan Gadang terjadi pada Jumat, 11 Februari 1949. Menjelang pelaksanaan salat Jumat, serdadu Belanda mengepung dan memasuki Masjid Gadang di Balai Gadang.
Tiga orang pemuda, yakni Hamdani, Radinas, dan Matrusi, ditangkap sebelum akhirnya ditembak di simpang jalan menuju masjid. Darah mereka menjadi saksi awal kekejaman yang dialami masyarakat di kawasan itu.
Duka masyarakat belum berakhir. Sepuluh hari kemudian, tepatnya pada 21 Februari 1949, tujuh pemuda Koto Nan Gadang kembali menjadi korban keganasan Belanda. Mereka sebelumnya diundang menghadiri rapat oleh Wali Nagari Datuk Kiraiang di sebuah rumah adat bertiang dua belas dekat Mushala Lapangan Mangkudu.
Namun, rapat itu berubah menjadi jebakan. Ketujuh pemuda tersebut ditangkap, tangan mereka diikat ke belakang, lalu digiring ke luar rumah dan ditembak di dekat lokasi yang kini dikenal sebagai kawasan Makam Pemuda Pejuang Balai Jariang.
Mereka adalah Bahar, Bakar, Syukur, Datuk Reno, Damuri, Andarwenis, dan Julius. Hingga kini, nama-nama itu tetap dikenang sebagai bagian dari putra terbaik nagari yang gugur dalam mempertahankan tanah air.
Tiga hari kemudian, duka kembali menyelimuti masyarakat. M. Noer, yang sebelumnya menjalani pemeriksaan oleh pihak Belanda, ditembak di Jembatan Ibuah—yang kini lebih dikenal sebagai Jembatan Ratapan Ibu.
Rangkaian peristiwa tersebut menorehkan luka mendalam bagi masyarakat Koto Nan Gadang dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah perjuangan di wilayah Payakumbuh dan Lima Puluh Kota.
Perjuangan mempertahankan kemerdekaan tidak hanya berlangsung di garis depan pertempuran. Rakyat biasa, para pemuda, ulama, dan tokoh nagari ikut menanggung risiko yang sama besar. Dari tanah yang penuh luka inilah semangat perlawanan rakyat tumbuh dan kemudian melahirkan organisasi pertahanan serta gerakan gerilya yang kelak memainkan peran penting dalam masa Pemerintahan Darurat Republik Indonesia.
Bersambung ke Seri 2
Koto Tuo dalam Jejak PDRI (2): Lahirnya Pertahanan Gerilya Front Utara Payakumbuh
Serial sejarah ini diterbitkan oleh Asakato sebagai bagian dari ikhtiar mendokumentasikan dan merawat ingatan kolektif masyarakat terhadap perjuangan rakyat Nagari Koto Tuo dan sekitarnya dalam rangkaian sejarah PDRI 1948–1949.
Tentang Penulis
Saiful, SP merupakan pemerhati dan penulis sejarah lokal yang aktif menghimpun catatan serta sumber-sumber lisan mengenai perjuangan masyarakat Nagari Koto Tuo dan sekitarnya pada masa Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI).