Asisten Pemerintahan dan Kesra Setda Kabupaten Lima Puluh Kota memimpin rapat koordinasi persiapan bakti sosial sunatan massal dan operasi katarak bersama instansi terkait.
Ngaji Taqrib Seri 05
Bismillahirrahmanirrahim.
Alhamdulillah, pada Seri 04 kita telah mempelajari enam rukun wudhu menurut Matan Taqrib. Kita belajar bahwa rukun adalah bagian yang wajib dikerjakan. Jika salah satunya ditinggalkan, maka wudhu menjadi tidak sah.
Namun para ulama tidak hanya mengajarkan bagaimana ibadah menjadi sah. Mereka juga mengajarkan bagaimana ibadah menjadi lebih baik, lebih indah, dan lebih sempurna.
Karena itulah setelah menjelaskan rukun-rukun wudhu, Imam Abu Syuja’ melanjutkan pembahasan kepada sunnah-sunnah wudhu. Di sinilah kita belajar bahwa Islam tidak hanya mengajarkan kewajiban, tetapi juga mengajarkan adab dan kesempurnaan.
Di surau-surau dahulu, guru mengaji sering mengingatkan bahwa seorang Muslim hendaknya tidak puas hanya dengan batas minimal. Jika mampu melakukan yang lebih baik sesuai tuntunan Rasulullah ﷺ, maka itulah jalan yang seharusnya ditempuh.
Baca juga : 5 Alasan Kuat Generasi Muda Minangkabau Harus Membangun Surau Kembali
Teks Matan
قال المصنف رحمه الله تعالى:
وسننه عشرة أشياء: التسمية وغسل الكفين قبل إدخالهما الإناء والمضمضة والاستنشاق ومسح جميع الرأس ومسح الأذنين ظاهرهما وباطنهما بماء جديد وتخليل اللحية الكثة وتخليل أصابع اليدين والرجلين وتقديم اليمنى على اليسرى والطهارة ثلاثا ثلاثا والموالاة.
Artinya
“Sunnah-sunnah wudhu ada sepuluh perkara, yaitu membaca basmalah, membasuh kedua telapak tangan sebelum memasukkannya ke dalam wadah air, berkumur-kumur, menghirup air ke hidung, mengusap seluruh kepala, mengusap kedua telinga bagian luar dan dalam dengan air yang baru, menyela jenggot yang tebal, menyela jari-jari tangan dan kaki, mendahulukan anggota tubuh sebelah kanan daripada kiri, membasuh atau mengusap sebanyak tiga kali, dan melakukan wudhu secara berkesinambungan (muwalah).”
Baca juga : Engku: 1 (satu) Pilar yang Mulai Hilang dalam Kepemimpinan Adat Minangkabau
Mengapa Sunnah Wudhu Perlu Dipelajari?
Sebagian orang mungkin bertanya, jika hukumnya sunnah dan bukan wajib, mengapa masih perlu dipelajari?
Pertanyaan ini sangat wajar. Apalagi di zaman yang serba cepat seperti sekarang. Banyak orang merasa cukup jika ibadahnya sudah sah.
Padahal para ulama mengajarkan bahwa seorang Muslim tidak hanya mengejar sahnya ibadah. Seorang Muslim juga berusaha menyempurnakan ibadahnya sesuai tuntunan Rasulullah ﷺ.
Karena itu, sunnah-sunnah wudhu tidak boleh dianggap remeh. Meskipun tidak menentukan sah atau tidaknya wudhu, sunnah-sunnah tersebut membantu seorang Muslim mendekati kesempurnaan dalam beribadah.
Baca juga : 5 Kegelisahan Dakwah: Ketika Google Lebih Dipercaya dari Ustaz
Sepuluh Sunnah yang Menyempurnakan Wudhu
Dalam Matan Taqrib disebutkan ada sepuluh sunnah wudhu.
1. Membaca basmalah
Mengawali wudhu dengan menyebut nama Allah SWT.
2. Membasuh kedua telapak tangan
Dilakukan sebelum memulai rangkaian wudhu.
3. Berkumur-kumur (madhmadhah)
Membersihkan bagian mulut sebelum beribadah.
4. Menghirup air ke hidung (istinsyaq)
Sebagai bentuk kesempurnaan dalam bersuci.
5. Mengusap seluruh kepala
Sebagai penyempurna dari rukun mengusap sebagian kepala.
6. Mengusap kedua telinga
Bagian luar dan dalam telinga diusap dengan air yang baru.
7. Menyela jenggot yang tebal
Agar air dapat menjangkau bagian yang tersembunyi.
8. Menyela jari-jari tangan dan kaki
Supaya air lebih merata mengenai anggota tubuh.
9. Membasuh atau mengusap sebanyak tiga kali
Sebagai bentuk penyempurnaan dalam berwudhu.
10. Muwalah
Melakukan wudhu secara berkesinambungan tanpa jeda yang terlalu lama.
Jika diperhatikan, sebagian sunnah tersebut mungkin sudah sering kita lakukan. Namun sebagian lainnya mungkin belum menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.
Padahal semuanya merupakan bagian dari tuntunan Rasulullah ﷺ yang diwariskan kepada umatnya.
Baca juga : Hijrah Digital: Membangun Orkestrasi Integritas di Atas Fondasi Al-Muzzammil 73:20
Mengikuti Sunnah Berarti Meneladani Rasulullah ﷺ
Allah SWT berfirman:
“Sungguh, pada diri Rasulullah terdapat suri teladan yang baik bagi kalian.”
(QS. Al-Ahzab: 21)
Ayat ini mengajarkan bahwa kehidupan Rasulullah ﷺ adalah teladan bagi umat Islam. Bukan hanya dalam perkara besar, tetapi juga dalam hal-hal yang tampak sederhana.
Termasuk dalam tata cara berwudhu.
Ketika seorang Muslim berusaha menghidupkan sunnah-sunnah wudhu, sejatinya ia sedang berusaha meneladani Rasulullah ﷺ dalam salah satu ibadah yang paling sering dilakukan setiap hari.
Baca juga : Hujan, Rezeki, dan Zakat : Sistem Langit yang Sering Kita Lupakan
Belajar dari Tradisi Surau
Di lingkungan surau dan pesantren, para santri biasanya diajarkan bukan hanya perkara yang wajib, tetapi juga perkara yang sunnah.
Tujuannya bukan untuk memberatkan. Justru untuk membiasakan diri mencintai tuntunan Nabi Muhammad ﷺ.
Dari kebiasaan-kebiasaan kecil itulah lahir keistiqamahan. Seseorang belajar bahwa ibadah bukan sekadar menggugurkan kewajiban, tetapi juga sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Karena itu, para ulama terdahulu sangat menjaga sunnah-sunnah ibadah. Mereka memahami bahwa setiap amalan yang mengikuti Rasulullah ﷺ memiliki nilai tersendiri di sisi Allah.
Baca Juga : Sudah Benarkah Wudhu Kita? Mengenal Enam Rukunnya
Wudhu Bukan Sekadar Membasuh Anggota Tubuh
Di era digital saat ini, manusia hidup dalam kesibukan yang hampir tidak pernah berhenti. Pekerjaan, pesan masuk, media sosial, dan berbagai urusan lainnya sering membuat kita terburu-buru.
Akibatnya, wudhu terkadang dilakukan sekadar untuk memenuhi syarat sebelum shalat.
Padahal wudhu adalah persiapan untuk menghadap Allah SWT. Wudhu mengajarkan ketenangan sebelum shalat, kebersihan sebelum ibadah, dan kesadaran sebelum bermunajat.
Di sinilah sunnah-sunnah wudhu memiliki makna yang besar. Ia membantu kita menghadirkan kekhusyukan sejak sebelum shalat dimulai.
Baca juga : Jangan Asal Basah, Mengapa Air Menentukan Sah atau Tidaknya Ibadah?
Penutup
Matan Taqrib mengajarkan bahwa setelah rukun-rukun wudhu, ada sunnah-sunnah yang patut dijaga. Meskipun tidak menentukan sah atau tidaknya wudhu, sunnah-sunnah tersebut membantu menyempurnakan ibadah seorang Muslim.
Mungkin selama ini kita lebih fokus pada apa yang wajib. Padahal melalui amalan-amalan sunnah, Islam mengajarkan kita untuk terus memperbaiki kualitas ibadah dari hari ke hari.
Semoga Allah SWT memberi kita kemampuan untuk menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah ﷺ dalam setiap ibadah yang kita lakukan.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Baca juga : Sudah Benarkah Wudhu Kita? Mengenal Enam Rukunnya
Seri Berikutnya:
Mengapa Basmalah Menjadi Sunnah Pertama dalam Wudhu?
Budi Mulya, SP adalah Wakil Sekretaris PCNU Lima Puluh Kota dan pemerhati isu sosial-keagamaan.