LIMA PULUH KOTA, asakato.com – Kadang kami tidak bekerja dengan perangkat terbaik. Tidak pula dengan studio modern, jaringan super cepat, atau komputer mahal yang selalu siap siaga. Beberapa tulisan Asakato bahkan lahir dari sebuah PC tua yang suaranya lebih sering terdengar lelah daripada bertenaga.
Beberapa hari terakhir, laptop utama yang biasa digunakan untuk mengedit berita, visual, dan menerbitkan tulisan mengalami kerusakan cukup parah. Sebuah Acer One 14 Z1402 yang selama ini menjadi “ruang kerja berjalan” Asakato mendadak mati total. Dugaan sementara, terjadi masalah pada bagian chip yang membuat prosesor cepat panas hingga sistem proteksi langsung bekerja.
Satu teknisi bahkan sudah angkat tangan.
Bagi sebagian orang, mungkin ini hanya kerusakan perangkat biasa. Tetapi bagi media kecil yang tumbuh dari semangat gotong royong dan perjuangan, satu laptop bisa berarti dapur produksi utama. Dari perangkat itulah berita ditulis, foto diedit, judul disusun, hingga artikel diterbitkan ke publik.
Namun di tengah keterbatasan itu, ada satu hal yang belum ikut rusak: semangat.
Asakato mungkin tidak besar. Tidak memiliki ruang redaksi mewah. Tidak pula ditopang modal besar. Tetapi selama masih ada niat untuk menyampaikan informasi yang bermanfaat bagi masyarakat, Asakato akan terus mencari cara untuk hidup.
Kadang sebuah berita terbit dari meja sederhana. Kadang sebuah artikel lahir di tengah listrik yang mati-hidup dan perangkat yang nyaris menyerah. Tetapi justru dari keadaan seperti itulah kami belajar bahwa perjuangan media lokal bukan hanya soal teknologi, melainkan soal ketahanan.
Di era ketika banyak orang berlomba menjadi viral, media kecil seperti Asakato.com memilih tetap berjalan pelan, menjaga suara lokal agar tidak hilang ditelan kebisingan informasi.
Dan malam ini, melalui PC tua yang kembali dinyalakan perlahan, kami ingin mengatakan satu hal sederhana:
Asakato masih hidup.
Penulis: Tim Asakato Media
Editor: Budi Mulya, SP