Lembah Harau masih menyimpan keindahan dan harapan untuk generasi mendatang.
Kerinduan memang membawa saya kembali ke Harau.
Namun kali ini saya datang bukan untuk mencari udara yang sejuk.
Bukan pula untuk menikmati tebing granit yang menjulang megah.
Semua itu telah saya simpan baik-baik di dalam hati sejak perjalanan terakhir.
Terus Bersama Asakato
Asakato hadir menghadirkan informasi, inspirasi, dan literasi untuk masyarakat. Dukungan pembaca membantu kami terus berkarya.
Dukung melalui Asakato.shopKali ini saya pulang karena ingin mendengar sesuatu yang lain.
Saya ingin mendengar bagaimana suara hati Harau hari ini.
Barangkali setiap tempat memang memiliki jiwanya sendiri.
Jiwa itu tidak pernah berbicara melalui kata-kata.
Ia berbicara melalui desir angin yang mengalir di sela pepohonan.
Melalui gemericik sungai yang membelah dasar lembah.
Melalui dedaunan yang bergoyang pelan ketika embusan angin turun dari lereng hutan.
Melalui sahutan siamang yang menggema di antara tebing granit.
Dan Harau…
Sejak dahulu selalu berbicara dengan cara yang lembut.
Saya berjalan perlahan.
Tidak ada tujuan khusus.
Saya hanya mengikuti langkah kaki yang membawa saya menyusuri lembah yang sejak kecil telah menjadi bagian dari hidup saya.
Di hadapan saya, tebing granit masih berdiri tegak.
Diam.
Kokoh.
Seolah menjadi saksi perjalanan waktu yang tidak pernah berhenti.
Di bawahnya, hamparan sawah masih menghijau.
Air sungai masih mengalir jernih.
Langit masih memantulkan cahaya pagi yang sama seperti yang saya kenal bertahun-tahun lalu.
Sekilas…
Tidak ada yang berubah.
Namun saya tahu…
Luka tidak selalu tampak oleh mata.
Kadang ia bersembunyi di balik sesuatu yang terlihat biasa.
Saya kembali teringat satu kalimat yang pernah saya tulis.
Harau tidak pernah menyapa saya dengan tebing granitnya.
Ia selalu menyapa saya melalui udara.
Hari itu udara itu masih ada.
Masih dingin.
Masih bersih.
Tetapi entah mengapa…
Saya merasa sedang menghirup kerinduan yang lain.
Kerinduan agar Harau tetap menjadi Harau.
Bukan hanya untuk kita yang menikmatinya hari ini.
Tetapi juga untuk anak-anak yang suatu hari akan mengenalnya.
Baca juga : Merawat Harau yang Terluka: Ketika Harau Menyapa (1)
Harau Masih Menyimpan Harapan
Saya percaya…
Setiap orang yang datang ke Harau membawa harapan.
Ada yang datang membawa harapan untuk menikmati keindahan alam.
Ada yang datang mencari ketenangan.
Ada yang berharap menemukan rezeki.
Ada pula yang datang dengan mimpi membangun usaha dan menggerakkan perekonomian masyarakat.
Semua harapan itu baik.
Semua harapan itu layak dihormati.
Namun di sela-sela harapan manusia itu, saya sering bertanya dalam hati.
Apakah Harau juga memiliki harapan kepada kita?
Saya membayangkan jawabannya sederhana.
Harau berharap udara yang selama ini menjadi salam pertamanya tetap bersih.
Harau berharap pepohonan yang tumbuh di kaki tebing granit tetap memberi kehidupan.
Harau berharap sungainya tetap mengalir jernih.
Harau berharap suara siamang tetap bergema dari dalam hutan.
Harau berharap sawah-sawah tetap menjadi ruang tempat manusia dan alam hidup berdampingan.
Dan Harau berharap anak-anak yang lahir puluhan tahun dari sekarang masih dapat mengenalnya sebagaimana kita mengenalnya hari ini.
Sebab sesungguhnya…
Yang dicari orang ketika datang ke Harau bukan sekadar latar belakang untuk berfoto.
Mereka datang mencari sesuatu yang semakin sulit ditemukan di banyak tempat.
Udara yang bersih.
Keheningan yang menenangkan.
Suara alam yang masih utuh.
Perasaan damai yang tidak bisa dibeli.
Barangkali itulah kekayaan terbesar Harau.
Saya terus berjalan.
Sesekali berhenti.
Memandang setiap sudut yang pernah menjadi bagian dari kenangan.
Saya kembali menuju kawasan Echo.
Dahulu tempat itu selalu dipenuhi tawa.
Anak-anak, remaja, hingga orang tua bergantian memanggil dinding granit.
Beberapa saat kemudian, suara mereka kembali memantul.
Tawa pun pecah.
Bukan karena gema itu luar biasa.
Melainkan karena mereka merasa sedang bercakap dengan alam.
Hari itu saya kembali berdiri di tempat yang sama.
Saya mencoba mendengarkan.
Yang bergema bukan lagi suara saya.
Melainkan kenangan.
Baca juga : Ketika Rantai Tak Lagi Terbuat dari Besi, Mengurai Kembali Makna Kemerdekaan
Saya melangkah perlahan.
Tidak jauh dari sana berdiri sebuah prasasti yang menceritakan sejarah Harau.
Prasasti itu mengingatkan bahwa lembah ini bukan sekadar tempat wisata.
Ia adalah ruang yang menyimpan perjalanan panjang alam dan kehidupan manusia.
Saya berdiri cukup lama di depannya.
Lalu muncul satu pertanyaan yang terus mengusik hati.
Apakah generasi setelah kita masih akan berhenti untuk membaca kisah yang tersimpan di sana?
Ataukah mereka hanya akan melewatinya tanpa pernah mengetahui bahwa Harau memiliki sejarah yang begitu panjang?
Perjalanan saya berlanjut menuju kawasan air terjun.
Air masih jatuh dari tebing granit.
Masih menghadirkan kesejukan.
Masih menjadi salah satu wajah paling indah Harau.
Namun saya teringat cerita-cerita lama.
Tentang air yang dahulu terasa lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.
Tentang pengunjung yang datang bukan sekadar untuk mengambil gambar, tetapi untuk menikmati kesunyian yang hanya dimiliki lembah ini.
Saya tidak sedang membandingkan masa lalu dengan hari ini.
Saya hanya sedang merawat kenangan agar tidak hilang begitu saja.
Semakin lama saya berjalan, semakin saya memahami satu hal.
Harau tidak pernah meminta kita menghentikan perubahan.
Perubahan adalah bagian dari kehidupan.
Harau hanya berharap perubahan itu tidak menghilangkan alasan mengapa orang-orang jatuh cinta kepadanya sejak awal.
Harapan itu terdengar sederhana.
Namun sesungguhnya sangat besar.
Karena menjaga keseimbangan jauh lebih sulit daripada membangun sesuatu yang baru.
Perjalanan hari itu membuat saya semakin percaya bahwa alam dan manusia tidak pernah diciptakan untuk saling mengalahkan.
Keduanya diciptakan untuk saling menjaga.
Dan mungkin…
Di situlah letak keindahan Harau yang sesungguhnya.
Ia mengajarkan bahwa kemajuan akan selalu lebih bermakna apabila berjalan berdampingan dengan kelestarian.
Ia mengajarkan bahwa pembangunan tidak harus menghilangkan ketenangan.
Ia mengajarkan bahwa masa depan dapat dibangun tanpa melupakan akar yang selama ini menopang kehidupan.
Hari mulai beranjak siang.
Saya berhenti sejenak.
Memandang kembali lembah yang terbentang di hadapan saya.
Angin masih berembus.
Sawah masih menghijau.
Sungai masih mengalir.
Suara siamang masih terdengar dari kejauhan.
Saya tersenyum.
Lalu berkata pelan di dalam hati.
“Masih ada harapan.”
Bersambung pada Seri 3: Merawat Harau yang Terluka: Ketika Cinta Menjadi Ikhtiar (3), ketika surat ini mengajak setiap orang yang pernah mencintai Harau untuk pulang, bukan sekadar melihatnya, tetapi ikut merawatnya.
Baca juga : Masa Depan Sumatera Barat di Samudra Hindia
Tentang Penulis :
Budi Mulya, SP adalah Wakil Sekretaris PCNU Lima Puluh Kota dan pemerhati isu sosial-keagamaan. Ia aktif menulis tentang lingkungan, pembangunan daerah, pertanian, dan literasi untuk mendorong tumbuhnya kepedulian masyarakat terhadap nagari dan alam.
❤️ Dukung Asakato
Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda,
mari bantu Asakato terus menghadirkan berita, edukasi, dan inspirasi untuk masyarakat.
Dukungan sekecil apa pun sangat berarti agar kami dapat terus berkarya secara independen.
Terima kasih telah menjadi bagian dari perjalanan Asakato – Media Inspirasi dan Literasi Umat.