Keindahan Lembah Harau adalah warisan yang harus kita jaga bersama
Ada perjalanan yang membuat kita ingin kembali.
Bukan karena tempat itu belum selesai kita kunjungi.
Melainkan karena hati merasa masih meninggalkan sesuatu di sana.
Begitulah Harau bagi saya.
Terus Bersama Asakato
Asakato hadir menghadirkan informasi, inspirasi, dan literasi untuk masyarakat. Dukungan pembaca membantu kami terus berkarya.
Dukung melalui Asakato.shopSetelah sekian lama mengenal lembah ini, saya mulai memahami bahwa mencintai sebuah tempat bukan hanya tentang mengagumi keindahannya.
Ada saat ketika kekaguman harus berubah menjadi kepedulian.
Ada saat ketika kenangan harus berubah menjadi tanggung jawab.
Dan ada saat ketika kita perlu bertanya kepada diri sendiri:
Apa yang akan kita tinggalkan untuk Harau?
Pertanyaan itu mungkin sederhana.
Namun semakin lama saya memikirkannya, semakin terasa berat.
Sebab Harau bukan sekadar lembah dengan tebing-tebing granit yang menjulang.
Ia adalah rumah bagi hutan, sungai, sawah, satwa, masyarakat, budaya, kenangan, dan kehidupan yang tumbuh bersama alam.
Ketika satu bagian berubah, bagian lainnya ikut merasakan.
Karena itu, menjaga Harau bukan pekerjaan satu orang.
Bukan pula tanggung jawab satu kelompok.
Ia adalah tanggung jawab siapa saja yang pernah menerima sesuatu dari lembah ini.
Kita mungkin pernah datang sebagai wisatawan.
Mungkin pernah membawa keluarga.
Mungkin pernah menikmati air terjunnya.
Mungkin pernah menginap di rumah warga.
Mungkin pernah berjalan di antara sawah sambil memandang tebing.
Atau mungkin, seperti saya, pernah merasa bahwa udara Harau adalah salam yang sulit dilupakan.
Semua pengalaman itu sesungguhnya meninggalkan satu utang kecil kepada kita.
Utang untuk menjaga.
Baca juga : Merawat Harau yang Terluka: Ketika Harau Menyapa (1)
Ketika Cinta Tidak Lagi Cukup
Saya semakin memahami bahwa mencintai Harau tidak cukup hanya dengan mengaguminya.
Kita bisa memotret tebingnya.
Kita bisa membagikan keindahannya.
Kita bisa mengajak orang datang.
Namun setelah semua itu, masih ada pertanyaan yang lebih penting.
Apakah kita ikut memikirkan masa depannya?
Pertanyaan itu menjadi semakin penting ketika perubahan mulai terlihat di berbagai sudut lembah.
Pembangunan adalah bagian dari kehidupan.
Masyarakat membutuhkan rumah.
Pelaku usaha membutuhkan ruang.
Wisata membutuhkan fasilitas.
Perekonomian membutuhkan kesempatan untuk tumbuh.
Tidak ada yang salah dengan semua itu.
Namun pembangunan akan menjadi lebih indah ketika ia tidak membuat alam kehilangan ruang untuk bernapas.
Sebab wisatawan datang ke Harau bukan semata-mata untuk melihat bangunan.
Mereka datang karena Harau memiliki sesuatu yang tidak mudah diciptakan manusia.
Keheningan.
Udara.
Hutan.
Sawah.
Air.
Tebing.
Dan suasana yang membuat seseorang merasa jauh dari hiruk-pikuk kehidupan.
Jika semua yang membuat Harau istimewa perlahan hilang, lalu apa yang sebenarnya akan kita tawarkan kepada generasi berikutnya?
Pertanyaan itu pernah saya dengar dari orang-orang yang juga mencintai pariwisata Harau.
Salah satunya Edis Saunders, penggiat dan pemerhati pariwisata yang juga mengelola usaha penginapan di kawasan Tanjung Pati.
Kegelisahannya terhadap perkembangan bangunan penginapan di kawasan Harau membuat saya kembali berpikir.
Bukan tentang siapa yang salah.
Melainkan tentang bagaimana kita bersama-sama membaca arah perubahan.
Sebab orang yang bergerak dalam pariwisata tentu memahami bahwa kekuatan utama sebuah destinasi bukan hanya fasilitasnya.
Kekuatan terbesar tetap berada pada daya tarik yang membuat orang ingin datang.
Dan bagi Harau, daya tarik itu adalah alam.
Karena itu, menjaga alam sesungguhnya bukan penghambat pariwisata.
Menjaga alam adalah cara menjaga masa depan pariwisata itu sendiri.
Saya membayangkan Harau beberapa puluh tahun mendatang.
Saya membayangkan anak-anak berjalan di bawah tebing yang sama.
Mereka mendengar suara sungai.
Mereka melihat sawah.
Mereka mendengar burung dan satwa dari balik hutan.
Lalu mereka bertanya kepada orang tuanya,
“Apakah Harau memang selalu seperti ini?”
Semoga jawaban yang mereka dengar bukan cerita tentang sesuatu yang pernah ada.
Semoga mereka tidak perlu membuka foto lama untuk melihat keindahan yang dahulu kita miliki.
Semoga mereka masih dapat berdiri di tempat yang sama dan merasakan kesejukan yang pernah kita rasakan.
Karena itu, menjaga Harau bukan berarti menolak masa depan.
Sebaliknya.
Menjaga Harau adalah cara memastikan masa depan masih memiliki sesuatu yang layak diwariskan.
Baca juga : Merawat Harau yang Terluka: Menjaga Jiwa Lembah Harau (2)
Harau Memanggil Anak Nagarinya Pulang
Mungkin sudah waktunya kita berhenti bertanya siapa yang harus menjaga Harau.
Sebab jawabannya terlalu dekat.
Kita.
Kita yang pernah menikmati keindahannya.
Kita yang mendapatkan rezeki darinya.
Kita yang membawa tamu datang.
Kita yang tinggal di sekitarnya.
Kita yang pernah menyimpan kenangan di sana.
Dan kita yang ingin anak-anak kita kelak mengenalnya.
Tidak semua orang harus melakukan sesuatu yang besar.
Menjaga sungai dari sampah adalah ikhtiar.
Menanam pohon adalah ikhtiar.
Menjaga ruang hijau adalah ikhtiar.
Menghormati aturan lingkungan adalah ikhtiar.
Membangun dengan pertimbangan ekologis adalah ikhtiar.
Mengembangkan pariwisata tanpa menghilangkan karakter alam adalah ikhtiar.
Bahkan mengingatkan dengan bahasa yang santun pun merupakan ikhtiar.
Sebab perubahan besar sering kali bermula dari kepedulian kecil yang dilakukan bersama-sama.
Saya tidak ingin Harau menjadi tempat yang hanya indah dalam kenangan.
Saya ingin Harau tetap menjadi tempat yang indah ketika anak-anak kita dewasa nanti.
Saya ingin mereka membuka kaca kendaraan ketika memasuki lembah.
Lalu merasakan udara dingin yang dahulu pernah menyapa saya.
Saya ingin mereka mendengar suara sungai.
Memandang sawah.
Mendengar siamang.
Menatap tebing granit.
Kemudian merasakan sesuatu yang mungkin sulit mereka jelaskan.
Perasaan bahwa mereka sedang pulang.
Barangkali itulah warisan terbaik yang dapat kita tinggalkan.
Bukan sekadar bangunan.
Bukan sekadar angka kunjungan.
Bukan sekadar pertumbuhan ekonomi.
Tetapi sebuah lembah yang masih memiliki jiwa.
Sebuah rumah yang masih mampu menyapa penghuninya.
Sebuah alam yang masih bersedia memberikan udara kepada siapa saja yang datang.
Dan sebuah generasi yang memahami bahwa kemajuan tidak harus mengorbankan kehidupan.
Harau telah memberikan banyak hal kepada kita.
Kini mungkin saatnya kita memberikan sesuatu kembali.
Bukan dengan suara yang keras.
Bukan dengan saling menyalahkan.
Tetapi dengan cinta yang diterjemahkan menjadi tindakan.
Karena pada akhirnya…
Harau tidak membutuhkan orang yang paling keras suaranya.
Harau hanya membutuhkan lebih banyak orang yang mencintainya.
Dan bila suatu hari nanti surat kecil ini sampai ke hati seseorang, lalu membuatnya menanam satu pohon, menjaga satu mata air, menyisakan satu ruang hijau, atau mengajarkan anaknya mencintai Harau…
Maka surat ini telah menemukan rumahnya.
Sebab setiap tulisan boleh selesai.
Tetapi jangan pernah biarkan harapan ikut berakhir pada titik terakhirnya.
Untuk Harau…
Rumah yang mengajarkan kita bahwa mencintai adalah bentuk paling sederhana dari merawat.
Semoga tetap indah.
Semoga tetap hidup.
Semoga tetap menjadi Harau. 🌿💌
Baca juga : Ketika Rantai Tak Lagi Terbuat dari Besi, Mengurai Kembali Makna Kemerdekaan
Budi Mulya, SP adalah Wakil Sekretaris PCNU Lima Puluh Kota dan pemerhati isu sosial-keagamaan. Ia aktif menulis tentang lingkungan, pembangunan daerah, pertanian, dan literasi untuk mendorong tumbuhnya kepedulian masyarakat terhadap nagari dan alam.
❤️ Dukung Asakato
Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda,
mari bantu Asakato terus menghadirkan berita, edukasi, dan inspirasi untuk masyarakat.
Dukungan sekecil apa pun sangat berarti agar kami dapat terus berkarya secara independen.
Terima kasih telah menjadi bagian dari perjalanan Asakato – Media Inspirasi dan Literasi Umat.