Lembah Harau menyambut setiap pengunjung bukan hanya dengan tebing granit yang megah, tetapi juga udara yang sejuk, hutan yang masih bernapas, dan ketenangan yang sulit ditemukan di tempat lain.
Oleh: Budi Mulya
Lembah Harau tidak pernah menyapa saya dengan tebing granitnya.
Ia selalu menyapa saya melalui udara.
Setiap kali kendaraan melewati deretan tebing granit di pintu masuk lembah, saya tahu perjalanan hampir tiba. Beberapa meter kemudian, jalan berbelok ke kiri di sebuah pertigaan. Tanpa sadar, tangan saya selalu membuka sedikit kaca jendela.
Terus Bersama Asakato
Asakato hadir menghadirkan informasi, inspirasi, dan literasi untuk masyarakat. Dukungan pembaca membantu kami terus berkarya.
Dukung melalui Asakato.shopSaat itulah Harau datang menyapa.
Udara dingin mengalir perlahan memasuki kendaraan. Aromanya bersih. Segar. Wangi tanah yang lembap bercampur dedaunan hutan memenuhi setiap tarikan napas.
Saya selalu percaya, itulah salam pertama Lembah Harau.
Tidak ada tiket yang mampu membelinya.
Tidak ada kamera yang mampu merekamnya.
Udara itu hanya bisa dirasakan.
Di situlah Harau memperkenalkan dirinya.
Bukan dengan kemewahan.
Melainkan dengan kesejukan yang pelan-pelan meresap ke dalam hati.
Baca juga : Sang Penjelajah Langit dan Cermin Nurani
Di Pelukan Dua Tebing Granit
Di sebelah kiri jalan, rumah-rumah penduduk berdiri sederhana. Beberapa homestay tumbuh mengikuti perkembangan kawasan. Kehidupan berjalan tenang. Anak-anak bermain di halaman. Warga menyapa setiap kendaraan yang melintas dengan keramahan yang terasa alami.
Di sebelah kanan, dinding granit menjulang hampir tegak lurus. Lerengnya masih diselimuti hutan yang hijau. Hanya beberapa lapak kecil milik warga berdiri di tepi jalan, seolah enggan mengganggu kemegahan alam yang telah ada jauh sebelum manusia membangun apa pun.
Namun, keajaiban Harau belum selesai.
Di belakang rumah-rumah penduduk, dinding granit kembali menjulang hampir tegak lurus. Tebing itu memanjang ke arah barat sekitar dua kilometer, mengapit perkampungan yang hidup damai di dasar lembah.
Saya sering membayangkan, tidak banyak kampung yang diberi anugerah seperti ini.
Di kiri menjulang granit.
Di kanan menjulang granit.
Di tengahnya, manusia menjalani kehidupan.
Rumah-rumah berdiri tenang.
Sawah menghijau.
Anak-anak tumbuh dalam pelukan alam.
Di dasar lembah mengalir sungai yang jernih. Airnya bening. Batu-batu di dasarnya terlihat jelas. Aliran itu membawa kesejukan dari hutan di hulu, menjadi pertanda bahwa alam masih menjaga keseimbangannya.
Barangkali itulah rahasia udara Harau.
Ia lahir dari hutan yang masih bernapas.
Ia mengalir melewati sungai yang masih jernih.
Lalu berembus di antara dua dinding granit sebelum menyapa setiap tamu yang datang.
Ketika musim hujan tiba, lembah ini memperlihatkan wajah yang berbeda.
Dari celah-celah tebing granit, puluhan aliran air turun perlahan. Dari kejauhan, aliran itu tampak seperti untaian rambut bidadari yang menjuntai di dinding batu, berkilau ketika disentuh cahaya matahari.
Saya sering berhenti cukup lama hanya untuk memandanginya.
Alam memang selalu memiliki cara sederhana untuk membuat manusia terdiam.
Baca juga : Keminangkabauan Seri 1 | Masih Adakah Urang Nan Gadang Basa Batuah di Minangkabau?
Jalan Menuju Keheningan
Perjalanan terus berlanjut.
Sebuah jembatan kecil mengantar setiap pengunjung menyeberangi sungai yang jernih. Selepas jembatan, jalan berkelok lembut di tengah hamparan persawahan yang menghijau.
Angin menggerakkan bulir-bulir padi.
Sesekali burung melintas rendah.
Suasana terasa begitu tenang.
Di kejauhan, sebuah bangunan bergaya rumah gadang berdiri anggun di kaki tebing granit yang menjulang tinggi.
Pemandangan itu selalu membuat saya berhenti sejenak.
Rumah gadang itu tampak kecil.
Bukan karena bangunannya mungil.
Melainkan karena alam di belakangnya begitu megah.
Di sanalah saya merasa budaya Minangkabau tidak sedang menaklukkan alam.
Budaya memilih hidup berdampingan dengan alam.
Tidak jauh dari sana, suara siamang bersahutan dari kedalaman hutan cagar alam.
Suaranya menggema di antara tebing granit.
Mengalun.
Memantul.
Lalu perlahan hilang bersama embusan angin.
Bagi sebagian orang, itu hanya suara satwa.
Bagi saya, itulah suara hutan yang masih bernapas.
Mungkin itulah sebabnya begitu banyak orang ingin kembali ke Harau.
Mereka mungkin datang karena tebing granitnya.
Mereka mungkin datang karena air terjunnya.
Namun, yang mereka bawa pulang sesungguhnya bukan hanya foto.
Mereka membawa pulang udara yang pernah mereka hirup.
Mereka membawa pulang ketenangan yang pernah mereka rasakan.
Dan tanpa disadari, mereka membawa pulang kerinduan.
Sebelum meninggalkan Harau, saya selalu membuka kembali sedikit jendela kendaraan.
Saya ingin menghirup udara itu sekali lagi.
Saya ingin menyimpannya lebih lama.
Lalu saya sadar.
Barangkali yang selama ini saya bawa pulang bukanlah kenangan.
Melainkan kerinduan untuk kembali.
Baca juga : Ngaji Taqrib Seri 07: Sunnah Kedua dalam Wudhu, Membasuh Kedua Telapak Tangan
Bersambung pada Seri 2: Merawat Harau yang Terluka: Menjaga Jiwa Lembah Harau.
Tentang Penulis :
Budi Mulya, SP adalah Wakil Sekretaris PCNU Lima Puluh Kota dan pemerhati isu sosial-keagamaan. Ia aktif menulis tentang lingkungan, pembangunan daerah, pertanian, dan literasi untuk mendorong tumbuhnya kepedulian masyarakat terhadap nagari dan alam.