Keminangkabauan Seri 3: Mengapa Urang Nan Gadang Basa Batuah Semakin Langka?
Oleh: H. Saiful Guci Dt. Rajo Sampono
Pada dua tulisan sebelumnya, kita telah mengenal makna urang nan gadang basa batuah serta memahami peran Urang Ampek Jinih sebagai pilar kepemimpinan adat di Minangkabau. Kini muncul pertanyaan yang lebih mendasar, sekaligus menggelisahkan.
Mengapa sosok yang menjadi tempat bertanya, penengah saat terjadi perselisihan, dan penuntun masyarakat terasa semakin sulit ditemukan?
Pertanyaan ini bukan untuk menyalahkan siapa pun. Sebaliknya, ia menjadi ajakan untuk bersama-sama melihat perubahan yang sedang terjadi di tengah kehidupan nagari. Sebab, sebuah masyarakat akan tetap kuat apabila nilai-nilai yang menjadi fondasinya tetap hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Terus Bersama Asakato
Asakato hadir menghadirkan informasi, inspirasi, dan literasi untuk masyarakat. Dukungan pembaca membantu kami terus berkarya.
Dukung melalui Asakato.shopBaca juga : Keminangkabauan Seri 1 | Masih Adakah Urang Nan Gadang Basa Batuah di Minangkabau?
Ketika Pilar Kepemimpinan Adat Mulai Melemah
Dalam kehidupan adat Minangkabau, kepemimpinan tidak pernah dimaknai sebagai kekuasaan. Seorang pemimpin justru memikul amanah untuk menjaga keseimbangan, menyelesaikan persoalan, serta menjadi teladan bagi anak kemenakan.
Dahulu, ketika muncul silang sengketa dalam sebuah kaum atau nagari, persoalan tidak langsung dibawa ke ranah hukum. Musyawarah menjadi jalan utama. Pangulu memimpin perundingan, Malin mengingatkan nilai agama, Manti menjembatani perbedaan, sedangkan Dubalang menjaga ketertiban agar keputusan bersama dapat dihormati.
Karena setiap unsur menjalankan fungsinya, banyak persoalan dapat diselesaikan dengan baik tanpa menimbulkan perpecahan yang berkepanjangan.
Namun, kehidupan masyarakat terus berubah. Arus modernisasi, perubahan pola hidup, serta semakin berkurangnya pemahaman terhadap adat menjadi tantangan yang tidak dapat diabaikan. Di beberapa nagari, fungsi kepemimpinan adat masih berjalan dengan baik. Akan tetapi, di tempat lain mulai terasa adanya jarak antara nilai-nilai adat dengan kehidupan sehari-hari.
Padahal, adat Minangkabau mengajarkan bahwa kebesaran seseorang tidak lahir karena gelarnya semata. Kehormatan tumbuh karena kepercayaan masyarakat terhadap ilmu, akhlak, serta kemampuannya menghadirkan keadilan.
Itulah sebabnya seorang penghulu disebut besar bukan karena ingin dibesarkan, melainkan karena masyarakat mengangkat martabatnya melalui amanah yang dijaganya dengan penuh tanggung jawab.
Baca juga : Seri 2: Siapa Sesungguhnya Niniak Mamak, Pangulu, Malin, Manti, dan Dubalang?
Menghidupkan Kembali Nilai Urang Nan Gadang Basa Batuah
Sesungguhnya, yang perlu kita wariskan bukan hanya gelar adat, tetapi juga nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Urang nan gadang basa batuah bukan sekadar orang yang dituakan atau memiliki kedudukan tinggi. Ia adalah pribadi yang santun dalam bertutur, luas ilmunya, arif mengambil keputusan, serta berani menyampaikan kebenaran dengan cara yang bijaksana.
Sifat-sifat inilah yang menjadikan seseorang dihormati dan dipercaya menjadi tempat masyarakat berlindung ketika menghadapi persoalan.
Pepatah adat menggambarkan sosok tersebut sebagai pemimpin yang menjadi tempat berlindung lahir dan batin, tempat meminta pertimbangan yang jujur, serta pengayom yang mengutamakan kedamaian daripada pertikaian. Nilai seperti ini tidak pernah kehilangan relevansinya, sekalipun zaman terus berubah.
Karena itu, upaya menjaga adat tidak cukup hanya dengan mempertahankan simbol atau upacara adat. Yang jauh lebih penting adalah menumbuhkan kembali karakter pemimpin yang berilmu, berakhlak, rendah hati, dan mampu menjadi teladan di tengah masyarakat.
Apabila nilai-nilai tersebut kembali hidup, maka musyawarah akan tetap menjadi jalan utama dalam menyelesaikan persoalan. Nagari akan memiliki pemimpin yang dihormati bukan karena kekuasaan, tetapi karena kebijaksanaan dan ketulusannya mengabdi kepada masyarakat.
Pada akhirnya, pertanyaan yang kita ajukan sejak awal tulisan ini kembali menggema.
Baca juga : Merawat Harau yang Terluka: Ketika Harau Menyapa (1)
Masih adakah urang nan gadang basa batuah di Minangkabau?
Jawabannya mungkin masih ada.
Namun, tantangan kita bukan sekadar menemukan mereka. Tantangan yang jauh lebih besar adalah menyiapkan generasi penerus yang mampu mewarisi nilai, akhlak, dan kebijaksanaan yang menjadi ruh kepemimpinan adat Minangkabau.
Jika itu dapat dilakukan, maka harapan akan tetap tumbuh. Nagari akan terus memiliki pemimpin yang bukan hanya bergelar, tetapi benar-benar menjadi urang nan gadang basa batuah sebagaimana dicita-citakan oleh adat.
Tentang Penulis
H. Saiful Guci Dt. Rajo Sampono adalah pemerhati adat dan budaya Minangkabau yang aktif menulis tentang kepemimpinan adat, kearifan lokal, serta nilai-nilai Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK).
Editor: Tim Redaksi Asakato