Gema azan bukan sekadar penanda masuknya waktu shalat. Dalam perjalanan sejarah Islam hingga tradisi surau Minangkabau, muazin memikul amanah dan memiliki kedudukan yang dimuliakan.
Oleh: Budi Mulya, SP.
Wakil Sekretaris PCNU Lima Puluh Kota, aktif sebagai pewarta warga Indonesia
Lima kali sehari, suara itu mengalun dari masjid dan surau.
Allahu Akbar, Allahu Akbar.
Kita mengenalnya sebagai azan.
Terus Bersama Asakato
Asakato hadir menghadirkan informasi, inspirasi, dan literasi untuk masyarakat. Dukungan pembaca membantu kami terus berkarya.
Dukung melalui Asakato.shopSeruan yang menandai masuknya waktu shalat. Panggilan yang mengajak manusia sejenak meninggalkan kesibukan dunia untuk menghadap kepada Allah.
Namun, di balik suara yang begitu akrab itu, ada sosok yang sering luput dari perhatian kita.
Dialah muazin.
Ia mungkin bukan orang yang paling banyak dikenal di kampungnya. Namanya mungkin tidak tercatat dalam banyak berita.
Tetapi ketika waktu shalat tiba, dialah yang berdiri dan menyerukan panggilan kepada umat.
Tugasnya terlihat sederhana.
Namun, di dalamnya terdapat amanah yang besar.
Untuk memahami kemuliaan seorang muazin, kita dapat memulainya dari seorang sahabat Rasulullah ﷺ yang namanya begitu lekat dengan sejarah azan: Bilal bin Rabah.
Baca juga : Engku: 1 (satu) Pilar yang Mulai Hilang dalam Kepemimpinan Adat Minangkabau
Bilal bin Rabah: Ketika Seorang Bekas Budak Dimuliakan
Bilal bin Rabah al-Habasyi tidak lahir dari keluarga bangsawan.
Ia pernah menjadi seorang budak di Makkah. Karena mempertahankan keimanannya kepada Allah, ia mengalami penyiksaan yang berat.
Namun, Islam mengangkat derajatnya.
Bilal kemudian dikenal sebagai salah seorang muazin Rasulullah ﷺ. Sejumlah hadis mencatat keterlibatannya dalam mengumandangkan azan pada masa Rasulullah ﷺ.
Di sinilah kisah Bilal menjadi begitu penting.
Seseorang yang secara ukuran sosial pernah berada di posisi rendah justru mendapatkan kehormatan untuk menyerukan kalimat-kalimat agung kepada umat.
Namanya kemudian menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah azan.
Ketika Bilal menyerukan Allahu Akbar, yang ia bawa bukan sekadar suara.
Ia membawa panggilan tauhid.
Ia mengingatkan manusia bahwa Allah Mahabesar.
Ia mengajak manusia meninggalkan kesibukan dunia untuk memenuhi panggilan shalat.
Karena itu, menjadi muazin sejak awal bukan semata-mata persoalan memiliki suara yang lantang atau merdu.
Ada amanah syiar di dalamnya.
Dan ada kemuliaan yang menyertai amanah tersebut.
Nama Bilal kemudian begitu kuat melekat dalam ingatan umat Islam. Di berbagai tempat, nama atau bentuk lokal dari Bilal digunakan untuk menyebut orang yang mengumandangkan azan.
Di Nusantara, jejak itu menemukan bentuk yang khas.
Di Ranah Minang, kita mengenalnya dengan sebutan Bila.
Baca juga : Menjaga Ruang Musyawarah dalam Sengketa Tanah Ulayat
Gema Muazin Nusantara hingga Tanah Suci
Islam berkembang di Nusantara melalui perjalanan panjang para ulama dan lembaga pendidikan keagamaan.
Masjid dan surau menjadi pusat ibadah, pendidikan, dan pembinaan masyarakat.
Dari tempat-tempat itulah suara azan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Tetapi kisah muazin Nusantara tidak hanya berlangsung di kampung-kampung.
Ada pula putra kelahiran Indonesia yang dikenal karena pengabdiannya sebagai muazin di Tanah Suci.
Salah satunya adalah Syekh Muhammad Khalil Raml.
Catatan media menyebut Syekh Muhammad Khalil Raml lahir di Indonesia pada 1939 dan kemudian dikenal sebagai salah seorang muazin Masjidil Haram. Ia disebut mulai resmi bertugas sebagai muazin pada 1975 dan mengabdi di Masjidil Haram selama hampir tiga dekade.
Kisah tersebut menarik bukan hanya karena sosoknya.
Ada makna yang lebih besar di dalamnya.
Seorang putra Nusantara mengumandangkan panggilan shalat di tempat yang menjadi pusat kiblat umat Islam dunia.
Gema azan ternyata tidak mengenal batas bangsa.
Dari Madinah hingga Nusantara, dari surau hingga Masjidil Haram, muazin menjalankan amanah yang sama: menyeru manusia kepada shalat.
Dan ketika kita mendekat ke Ranah Minang, kita menemukan satu bentuk kehidupan keagamaan yang menarik.
Di sana, sosok muazin dikenal sebagai Bila.
Baca juga : Rahasia Sunnah Wudhu yang Sering Kita Lupa
Bila di Ranah Minang: Bagian dari Kehidupan Kaum dan Surau
Dalam tradisi masyarakat Minangkabau, muazin dikenal pula dengan sebutan Bila. Sebutan Bilal juga dikenal di sejumlah tempat.
Namun, Bila bukan sekadar istilah pengganti bagi kata muazin.
Dalam kehidupan kaum dan surau, Bila memiliki fungsi keagamaan yang jelas.
Setiap suku atau kaum memiliki surau sebagai salah satu pusat kehidupan keagamaannya.
Surau bukan hanya tempat melaksanakan shalat.
Ia menjadi tempat belajar agama, membina kehidupan keagamaan, dan menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat.
Dalam tatanan kehidupan keagamaan tersebut terdapat orang-orang yang menjalankan fungsi masing-masing.
Ada Buya, seorang ulama panutan yang memiliki pengetahuan luas tentang agama.
Buya menjadi tempat masyarakat mencari ilmu dan meminta bimbingan. Dalam kehidupan surau, Buya juga menjadi guru bagi perangkat keagamaan lainnya—Imam, Bila, Monti, dan Khatib atau Kotik.
Ada Imam, yang memimpin pelaksanaan shalat.
Ada Bila, yang mengumandangkan azan.
Ada Monti, yang menjalankan fungsi pencatatan dan administrasi.
Dan ada Khatib atau Kotik, yang menyampaikan khutbah dan dakwah.
Masing-masing memiliki tugas yang berbeda.
Namun, semuanya berada dalam satu lingkungan pengabdian kepada kehidupan agama kaum.
Kajian akademik tentang struktur keagamaan Minangkabau juga mencatat Bilal sebagai salah satu fungsi keagamaan masyarakat Minang. Dalam sejumlah konteks adat, Bilal ditempatkan bersama unsur keagamaan lainnya sebagai bagian dari perangkat yang menjalankan fungsi pemeliharaan kehidupan syara’.
Di sinilah kedudukan Bila menjadi menarik.
Ia bukan sekadar seseorang yang kebetulan memiliki suara bagus lalu diminta mengumandangkan azan.
Ia menjalankan sebuah fungsi keagamaan.
Ketika suara Bila terdengar dari surau, masyarakat mengetahui bahwa waktu shalat telah tiba.
Pada masa ketika kehidupan masyarakat sangat dekat dengan surau, sawah, ladang, dan aktivitas sehari-hari, suara tersebut menjadi bagian dari denyut kehidupan.
Bila menyeru.
Masyarakat mendengar.
Aktivitas berhenti sejenak.
Dan manusia kembali menghadap kepada Allah.
Karena itu, Bila bukan sekadar suara dari surau.
Ia adalah bagian dari kehidupan agama kaum.
Dan penghormatan terhadap fungsi tersebut membawa kita kepada pertanyaan yang lebih besar:
Seberapa tinggi sebenarnya kedudukan seorang muazin dalam Islam?
Jawabannya menjadi semakin menarik ketika kita membuka khazanah fikih.
Baca juga : Denyut Ruhaniyah Indonesia di Minangkabau: Kisah “Collab” Bung Karno dan Syekh Abbas Padang Japang
Ketika Fikih Syafi’iyah Membicarakan Kemuliaan Muazin
Dalam mazhab Syafi’i, terdapat pembahasan menarik mengenai mana yang lebih utama: azan atau imamah.
Imam an-Nawawi dalam Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab mencatat beberapa pendapat mengenai persoalan tersebut.
Menurut beliau, pendapat yang mengutamakan azan merupakan pendapat yang lebih sahih. Ia antara lain mengaitkannya dengan kedudukan muazin sebagai orang yang dipercaya serta dengan keutamaan menyeru manusia kepada Allah.
Ini tentu bukan berarti imam memiliki kedudukan rendah.
Imam adalah pemimpin shalat.
Namun, pembahasan fikih tersebut menunjukkan satu hal penting:
menjadi muazin bukan pekerjaan kelas dua.
Ada amanah besar yang melekat di dalamnya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Imam adalah penjamin, sedangkan muazin adalah orang yang dipercaya. Ya Allah, berilah petunjuk kepada para imam dan ampunilah para muazin.”
Hadis tersebut diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam bab mengenai kewajiban muazin memperhatikan waktu shalat.
Perhatikan satu kata yang digunakan untuk muazin:
dipercaya.
Muazin dipercaya berkaitan dengan waktu.
Ia harus mengetahui kapan waktu shalat tiba.
Ia harus menyampaikan azan dengan benar.
Dan ketika azan dikumandangkan, masyarakat menjadikannya sebagai tanda untuk memenuhi panggilan shalat.
Karena itu, amanah seorang muazin tidak kecil.
Suaranya mungkin hanya terdengar beberapa menit.
Tetapi amanah yang dibawanya menyangkut ibadah banyak orang.
Baca juga : Keminangkabauan Seri 1 | Masih Adakah Urang Nan Gadang Basa Batuah di Minangkabau?
“Paling Panjang Lehernya” pada Hari Kiamat
Keutamaan muazin tidak berhenti di dunia.
Rasulullah ﷺ juga memberikan kabar tentang kedudukan para muazin di akhirat.
Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Muslim disebutkan bahwa para muazin adalah orang-orang yang paling panjang lehernya pada hari kiamat.
Para ulama memberikan beberapa penjelasan mengenai makna ungkapan tersebut. Di antaranya adalah gambaran tentang tingginya kedudukan para muazin dan besarnya harapan mereka terhadap rahmat Allah.
Apa pun penjelasan yang dipilih, hadis tersebut memperlihatkan adanya penghormatan khusus terhadap para muazin.
Orang yang di dunia mungkin hanya dikenal karena suaranya, ternyata mendapatkan kabar tentang kedudukan yang istimewa di akhirat.
Maka, jangan menilai seorang muazin hanya dari seberapa merdu suaranya.
Lihat pula amanah yang ia emban.
Baca juga : Pertambangan Rahmatan lil ‘Alamin (Seri 1): Ketika Amanah Menjadi Ujian Peradaban Minangkabau
Jangan Menganggap Muazin sebagai Tugas Kelas Dua
Barangkali karena azan sudah terlalu akrab di telinga kita, kita justru kehilangan rasa takjub terhadapnya.
Allahu Akbar.
Suara itu terdengar.
Kita mendengarnya.
Lalu kembali sibuk dengan pekerjaan.
Padahal, di balik suara itu ada seseorang yang berdiri membawa amanah.
Ia mungkin seorang petani.
Seorang pedagang.
Seorang guru.
Atau seseorang yang selama bertahun-tahun dengan setia menjaga waktu shalat masyarakat di kampungnya.
Bilal bin Rabah telah menunjukkan bahwa seorang muazin dapat memperoleh kemuliaan.
Muazin Nusantara menunjukkan bahwa amanah itu dapat membawa seseorang hingga ke Masjidil Haram.
Dan tradisi Bila di Ranah Minang memperlihatkan bahwa sosok yang mengemban tugas tersebut memiliki tempat dalam kehidupan keagamaan kaum dan surau.
Semuanya bermuara pada satu kesadaran:
muazin bukan tugas kelas dua.
Ia adalah bagian dari syiar.
Ia menjaga waktu.
Ia menyeru manusia kepada shalat.
Ia mengingatkan manusia bahwa sebesar apa pun urusan dunia, akan selalu ada saatnya kita berhenti dan menghadap Allah.
Maka, sudah semestinya kita memandang para muazin dengan cara yang lebih baik.
Bukan sekadar sebagai orang yang mendapat giliran azan.
Bukan sekadar sebagai orang yang memiliki suara lantang.
Tetapi sebagai orang yang memikul amanah untuk menyerukan panggilan Allah kepada manusia.
Dari Bilal bin Rabah, muazin Nusantara di Tanah Suci, hingga Bila yang berdiri di surau-surau Ranah Minang, gema itu terus berjalan.
Lima kali sehari.
Dan setiap kali suara itu terdengar, mungkin kita perlu mengingat satu hal:
di balik suara azan ada seseorang yang sedang menunaikan amanah.
Di balik amanah itu ada syiar.
Dan di balik syiar itu ada panggilan untuk kembali kepada Allah.
❤️ Dukung Asakato
Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda,
mari bantu Asakato terus menghadirkan berita, edukasi, dan inspirasi untuk masyarakat.
Dukungan sekecil apa pun sangat berarti agar kami dapat terus berkarya secara independen.
Terima kasih telah menjadi bagian dari perjalanan Asakato – Media Inspirasi dan Literasi Umat.