Drs. Andriwifa, M.Si. menegaskan bahwa AI merupakan instrumen (madaniyah) yang harus tetap dikendalikan oleh nilai-nilai Islam (hadharoh), sehingga manusia tetap menjadi subjek yang berdaulat atas teknologi.
Oleh: Drs. Andriwifa, M.Si.
Abstrak
Di tengah disrupsi teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), tantangan terbesar manusia bukan lagi sekadar kemampuan beradaptasi secara teknis. Tantangan yang lebih mendasar adalah krisis eksistensial berupa idolatri intelektual, yakni kecenderungan menjadikan gagasan, rasio, dan teknologi sebagai “berhala” baru.
Tulisan ini menawarkan kerangka Manajemen Resiliensi Transendental sebagai strategi seorang hamba Allah (Abdullah) dalam mengendalikan kemajuan material (madaniyah) agar tetap berada di bawah tuntunan sistem nilai Islam (hadharoh). Dengan demikian, teknologi tetap menjadi alat yang melayani manusia, bukan sebaliknya.
Baca juga : Rahasia Tiga Tingkatan Adat Minangkabau yang Jarang Dijelaskan
Pendahuluan: Menempatkan Teknologi pada Tempatnya
Perkembangan AI yang begitu pesat merupakan salah satu bentuk madaniyah, yaitu produk peradaban manusia yang bersifat teknis dan universal. Sebagai instrumen, teknologi pada dasarnya bersifat netral. Namun, arah pemanfaatannya sangat ditentukan oleh nilai yang melandasi penggunanya.
Malik Bennabi (1957/2003) mengingatkan bahwa kegagalan sebuah peradaban sering kali bukan disebabkan oleh lemahnya penguasaan teknologi, melainkan karena adopsi madaniyah yang tidak ditopang oleh hadharoh yang kokoh. Ketika sistem nilai kehilangan pijakan pada wahyu, kemajuan material justru dapat menjadi sumber krisis.
Pandangan tersebut sejalan dengan pemikiran Max Weber mengenai iron cage atau “sangkar besi” rasionalitas. Dalam masyarakat modern, orientasi pada efisiensi dan rasionalitas teknis dapat membuat manusia kehilangan makna hidup yang lebih hakiki (Weber, 1905/2002).
Bahaya Idolatri Intelektual: Ketika Gagasan Menjadi Tuhan
Fenomena manusia yang menjadi budak bagi gagasannya sendiri merupakan salah satu bentuk kontemporer dari thaghut pemikiran. Pada titik ini, akal dan teknologi tidak lagi diposisikan sebagai sarana, melainkan berubah menjadi tujuan yang menuntut pengabdian.
Jacques Ellul (1964), melalui The Technological Society, telah memperingatkan bahwa ketika teknologi tidak lagi diperlakukan sebagai alat, ia akan berkembang menjadi sebuah lingkungan hidup yang mengendalikan manusia dan menuntut kepatuhan total.
Dalam perspektif Islam, kondisi tersebut merupakan penyimpangan dari hakikat manusia sebagai Abdullah. Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam Ighatsatul Lahfan menjelaskan bahwa salah satu pintu masuk kesesatan adalah kesombongan intelektual. Seseorang dapat terjebak pada keyakinan bahwa gagasan yang dimilikinya telah menjadi kebenaran mutlak sehingga tidak lagi merasa perlu bersandar kepada Jangkar Transendental, yaitu petunjuk Allah SWT.
Baca juga : Piala Dunia 2026 (Seri 03): Issa Diop, Ketika Kemenangan Dikembalikan kepada Allah
Manajemen Resiliensi Transendental: Menggeser Titik Tumpu
Bagi seorang Abdullah, beban kehidupan tidak ditanggung semata-mata oleh kekuatan ego dan kemampuan intelektual. Beban itu dipindahkan titik tumpunya kepada Allah SWT melalui ketundukan, tawakal, dan kesadaran spiritual.
Pendekatan ini dapat disebut sebagai Manajemen Resiliensi Transendental, yakni kemampuan menjaga ketahanan diri dengan menjadikan tauhid sebagai pusat orientasi dalam setiap aktivitas, termasuk dalam memanfaatkan AI.
Seyyed Hossein Nasr (1989) menegaskan bahwa sains yang kehilangan dimensi sakral berpotensi berubah menjadi instrumen penghancur. Karena itu, persoalannya bukanlah menerima atau menolak AI, melainkan memastikan bahwa teknologi berkembang dalam koridor nilai yang benar.
Gagasan tersebut sejalan dengan konsep Islamisasi Ilmu Pengetahuan yang dikemukakan Ismail Raji al-Faruqi (1982). Dalam kerangka ini, AI diposisikan sebagai alat untuk memperkuat pelaksanaan tugas manusia sebagai khalifah di bumi, bukan menggantikan fungsi hati dan nurani dalam mengambil keputusan moral.
Kesimpulan: Menuju Peradaban yang Berlabuh
Sejarah memperlihatkan bahwa intelektual yang menjadikan wahyu sebagai pijakan mampu menjaga integritas pemikirannya di tengah perubahan zaman. Sebaliknya, mereka yang hanya berlabuh pada ideologi atau rasionalitas semata lebih rentan kehilangan arah ketika menghadapi dinamika peradaban.
Karena itu, inti dari integritas seorang Abdullah terletak pada kemampuannya menjaga Jangkar Transendental. AI hanyalah pelayan dalam ranah madaniyah, sedangkan arah penggunaannya harus ditentukan oleh sistem nilai Islam sebagai hadharoh.
Dengan posisi tersebut, manusia tetap menjadi subjek yang berdaulat atas teknologi. Ia tidak diperbudak oleh gagasannya sendiri, melainkan tetap menjadi hamba Allah yang memanfaatkan teknologi sebagai sarana untuk menghadirkan kemaslahatan.
Baca juga : Hijrah dan Kedaulatan Peradaban: Dialektika antara Imperatif Transendental dan Aktualisasi Nilai
Daftar Pustaka
Al-Attas, S. M. N. (1995). Prolegomena to the metaphysics of Islam: An exposition of the fundamental elements of the worldview of Islam. International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC).
Al-Faruqi, I. R. (1982). Islamization of knowledge: General principles and work plan. International Institute of Islamic Thought (IIIT).
Bennabi, M. (2003). Syarat-syarat kebangkitan (A. M. A. W. & M. T. A. R., Trans.). Gema Insani Press. (Karya asli diterbitkan tahun 1957).
Ellul, J. (1964). The technological society (J. Wilkinson, Trans.). Vintage Books.
Ibnu Qayyim al-Jauziyyah. (2001). Ighatsatul Lahfan min Mashayidisy Syaithan. Darul Haq.
Nasr, S. H. (1989). The need for a sacred science. State University of New York Press.
Weber, M. (2002). The Protestant ethic and the spirit of capitalism (S. Kalberg, Trans.). Roxbury Publishing Company. (Karya asli diterbitkan tahun 1905).
Tentang Penulis: Drs. Andriwifa, M.Si. adalah akademisi, peneliti, dan praktisi pemberdayaan masyarakat. Saat ini aktif sebagai dosen di Universitas Negeri Padang (UNP) serta Tim Redaksi Asakato.com. Ia menaruh perhatian pada isu peradaban Islam, lingkungan, tata kelola, dan pembangunan berbasis nilai.
Editor : Budi Mulya, SP
Rekomendasi Asakato.shop :
https://s.shopee.co.id/9AMrljYKFa