Ilustrasi visual Pertempuran Tembok Padang Gantiang, salah satu episode penting dalam perjuangan gerilya rakyat Koto Tuo pada masa Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) tahun 1949. Visual: Asakato Media.
Catatan Redaksi:
Tulisan ini merupakan bagian ketiga dari serial sejarah “Mengenang Nagari Koto Tuo dalam Rangkaian Sejarah PDRI 1949″ karya Saiful, SP. Naskah disunting seperlunya untuk menyesuaikan dengan kaidah penulisan media digital tanpa mengubah fakta, kronologi, dan pokok pikiran penulis.
Oleh: Saiful, SP
Melalui Tulisan Kita Mengenal Sejarah.
Sabotase dan Ancaman Belanda
Aksi sabotase yang dilakukan Pasukan Mobil Teras (PMT) bersama masyarakat mulai membuat Belanda kesulitan. Berbagai jalur transportasi diputus untuk mempersempit ruang gerak pasukan musuh.
Keadaan itu membuat Belanda semakin jengkel. Mereka kemudian menempelkan pamflet di Tanjung Pati yang berisi ancaman kepada masyarakat.
Isi pengumuman tersebut meminta rakyat menghentikan penggalian jalan dan penebangan kayu di sepanjang jalur yang mereka lalui. Jika tetap dilakukan, Belanda mengancam akan menyerang Tanjung Pati, Batu Balang, dan daerah sekitarnya.
Ancaman itu tidak membuat rakyat dan pasukan gerilya gentar. Aksi perlawanan justru semakin ditingkatkan.
Setelah jembatan Tembok Jua diruntuhkan, para pejuang kembali melakukan sabotase. Kali ini yang menjadi sasaran adalah jembatan Tembok Padang Gantiang, yang kini dikenal sebagai kawasan Pondok Bambu.
Baca juga : Koto Tuo dalam Jejak PDRI (1): Awal Agresi dan Luka di Koto Nan Gadang
Informasi dari Kurir Gerilya
Pada minggu terakhir Februari 1949, Kompi Mardisun menerima informasi penting dari kurir gerilya yang berada di Payakumbuh. Informasi tersebut menyebutkan bahwa Belanda akan menyerang Tanjung Pati dan Batu Balang pada bulan Maret.
Menerima kabar itu, Komandan Kompi Mardisun segera berembuk dengan Komandan Pertempuran Pasukan Gerilya Sektor II Payakumbuh Utara, M. Sain dan Darisun.
Mereka sepakat mempercayai laporan dari kurir gerilya. Selama ini, jaringan intelijen di Payakumbuh sering menyampaikan informasi yang terbukti benar.
Atas dasar itu, pasukan diperintahkan meningkatkan kesiapsiagaan. Penempatan personel di sejumlah titik pertahanan juga mulai diatur.
Dalam pertemuan tersebut, Darisun mengusulkan agar pasukannya ditempatkan langsung di sekitar jembatan Tembok Padang Gantiang yang baru diputus.
Para anggota peleton akan bersembunyi di sela-sela rumpun padi yang sedang menguning.
Usulan itu disetujui oleh Mardisun. Sementara itu, pasukan yang dipimpin M. Sain disiapkan sebagai pasukan cadangan di lokasi lain.
Baca juga : Koto Tuo dalam Jejak PDRI (2): Lahirnya Pertahanan Gerilya Front Utara Payakumbuh
Pertempuran Tembok Padang Gantiang
Dengan penuh kerahasiaan, pada tengah malam 6 Maret 1949, peleton Darisun bergerak dari Surau Haji Sulaiman di Padang Rantang menuju Tembok Padang Gantiang.
Setibanya di lokasi, para anggota pasukan segera menempati posisi masing-masing. Mereka bersembunyi di sela-sela rumpun padi sesuai strategi pertahanan yang telah disepakati.
Sebelum operasi dimulai, Darisun berpesan kepada seluruh anggotanya agar tidak melepaskan tembakan sebelum ada aba-aba dari komandan peleton.
Setiap anggota diminta mengatur sasaran tembak dengan sebaik-baiknya. Disiplin dan kesabaran menjadi kunci keberhasilan rencana tersebut.
Keesokan harinya, 7 Maret 1949, di bawah terik matahari, dari kejauhan terdengar suara kendaraan yang semakin mendekat. Beberapa truk pasukan Belanda mulai memasuki kawasan Tembok Padang Gantiang.
Sejumlah tentara Belanda turun dari kendaraan. Di antara mereka terdapat pasukan sewaan Ghurka yang ikut dalam operasi tersebut.
Walaupun sasaran tembak sudah berada di depan mata, para pejuang tetap menahan diri. Mereka mematuhi perintah komandan untuk tidak melepaskan tembakan lebih dahulu.
Belanda sama sekali tidak menyangka bahwa pasukan gerilya telah bersembunyi di tengah hamparan padi yang menguning.
Mereka merasa aman karena tidak melihat adanya tanda-tanda perlawanan.
Bahkan, seorang opsir Belanda turun dari kendaraan dengan santai sambil membereskan pakaiannya.
Saat itulah yang ditunggu oleh Darisun. Ia segera melepaskan tembakan pertama yang langsung mengarah ke sasaran.
Tembakan tersebut disusul rentetan tembakan dari seluruh anggota peleton menuju sasaran masing-masing. Suasana di Tembok Padang Gantiang seketika berubah menjadi medan pertempuran.
Setelah melancarkan serangan, pasukan Darisun mundur secara teratur sambil berlindung. Mereka akhirnya berhasil kembali ke induk pasukan di Padang Rantang tanpa mengalami korban jiwa.
Baca juga : Sudah Benarkah Wudhu Kita? Mengenal Enam Rukunnya
Kemenangan yang Mengobarkan Semangat
Jumlah korban di pihak Belanda memang tidak pernah diketahui secara pasti. Namun, para pejuang menyaksikan seorang perwira Belanda roboh berlumuran darah di jalan Tembok Padang Gantiang.
Beberapa anggota pasukan Belanda lainnya juga terlihat jatuh terkena tembakan. Di pihak gerilya, hanya Suhaimi Capiak yang mengalami luka tembak pada bagian jari kaki.
Beberapa hari kemudian, kurir gerilya di Payakumbuh menyampaikan kabar bahwa suasana berkabung menyelimuti pasukan Belanda.
Di sejumlah kantor sipil dan militer, bendera merah-putih-biru terlihat berkibar setengah tiang. Kabar itu menjadi bukti bahwa serangan di Tembok Padang Gantiang telah memberikan pukulan bagi pasukan Belanda.
Belanda kemudian memperketat pemeriksaan terhadap masyarakat. Mereka berusaha mencari tahu siapa yang membocorkan rencana serangan tersebut.
Namun, berkat kehati-hatian jaringan perjuangan dan lindungan Tuhan Yang Maha Esa, kurir gerilya di Payakumbuh berhasil menghindari penangkapan.
Baca juga : Jejak Hijrah Kenabian: Transformasi Diri Menuju Peradaban
Bersambung ke Seri 4
Koto Tuo dalam Jejak PDRI (4): Kurir Gerilya, Markas Boncah Pulutan, dan Pengorbanan Para Pejuang
Pada bagian berikutnya, perjuangan memasuki babak yang lebih berat ketika Belanda berhasil menangkap kurir gerilya dan menyerang markas perjuangan di Boncah Pulutan.