PAYAKUMBUH,asakato.com โ Gerakan Tanam Serentak (Gertam) yang diresmikan Pemerintah Kota Payakumbuh di Kapalo Koto Ampangan pada 22 Mei 2026 mendapat apresiasi sebagai langkah memperkuat ketahanan pangan daerah di tengah kondisi cuaca yang tidak menentu.
Kehadiran Wakil Wali Kota Payakumbuh dalam kegiatan tersebut dinilai menjadi bentuk dukungan pemerintah terhadap petani agar musim tanam dapat berjalan lebih terkoordinasi. Selain itu, kelompok tani juga terus berupaya menyinkronkan pola tanam meski masih menghadapi keterbatasan sarana pertanian.
Namun demikian, keberhasilan tanam serentak tidak hanya ditentukan oleh seremoni dan pelaksanaan simbolis di lapangan. Dalam sistem Pengendalian Hama Terpadu (PHT) Kementerian Pertanian, selisih waktu tanam antarpetak sawah dalam satu hamparan idealnya tidak melebihi 14 hari.
Ketentuan tersebut bertujuan menyamakan fase pertumbuhan tanaman padi sehingga pengelolaan air, pemupukan, dan pengendalian hama dapat dilakukan lebih efektif. Jika waktu tanam terlalu berbeda, maka siklus makanan hama akan terus tersedia di areal persawahan.
Kondisi itu berpotensi meningkatkan serangan hama seperti tikus, wereng cokelat, dan burung. Sawah yang ditanam lebih lambat dari lahan sekitarnya berisiko menjadi sasaran utama hama setelah area lain memasuki masa panen.
Akibatnya, petani harus mengeluarkan biaya tambahan untuk penyemprotan pestisida dan pengendalian hama lainnya. Situasi tersebut juga dapat mempengaruhi produktivitas hasil panen apabila tidak diantisipasi sejak awal musim tanam.
Momentum curah hujan yang mulai merata di wilayah Payakumbuh dan Kabupaten Lima Puluh Kota dinilai menjadi kesempatan penting untuk mengejar target keseragaman tanam dalam batas toleransi 14 hari tersebut.
Gerakan Tanam Serentak diharapkan tidak berhenti pada kegiatan seremonial semata, tetapi benar-benar diterapkan secara disiplin di lapangan agar risiko ledakan hama dapat ditekan sejak awal musim tanam.
Penulis: Tim Asakato Media
Editor: Budi Mulya, SP