Manusia sebagai khalifah memikul amanah untuk mengelola bumi dengan adil. Pertambangan menjadi rahmat ketika dijalankan dengan iman, amanah, dan tanggung jawab.
Oleh: Budi Mulya, SP
“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.”
(QS. Al-Baqarah: 30)
Barangkali kita terlalu sering menyalahkan tambang.
Kita menuding alat berat, menggugat perusahaan, bahkan mempersoalkan isi perut bumi yang dikeruk. Namun pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya, benarkah tambang yang sedang kita adili, atau justru diri kita sendiri?
Al-Qur’an tidak pernah mengatakan bahwa bumilah penyebab kerusakan. Allah justru menunjuk manusianya.
Ketika Allah mengabarkan kepada para malaikat bahwa manusia akan menjadi khalifah di muka bumi, para malaikat bertanya, “Apakah Engkau akan menjadikan di sana orang yang akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah?” Pertanyaan itu bukan sekadar kisah penciptaan. Pertanyaan itu terus menggema hingga hari ini.
Apakah kita benar-benar menjadi khalifah, atau justru membenarkan setiap kerusakan atas nama pembangunan?
Lebih menyayat lagi, Allah menggambarkan manusia yang lisannya dipenuhi kata-kata indah, tetapi ketika memperoleh kesempatan, ia justru merusak bumi, menghancurkan tanaman dan memutus keberlangsungan kehidupan. Allah tidak menyebut profesinya. Allah tidak menyebut jabatannya. Allah hanya memperlihatkan wataknya.
Mungkin karena kerusakan memang tidak pernah lahir dari tanah.
Kerusakan selalu lahir dari hati yang kehilangan amanah.
Baca juga : Nestapa di Jantung Megapolitan: Ketika Tanah Warisan Menjadi Tumbal
Khalifah: Kehormatan yang Sekaligus Amanah
Dalam pandangan Islam, manusia tidak diciptakan untuk menjadi pemilik bumi. Kepemilikan mutlak hanyalah milik Allah SWT. Manusia hanyalah khalifah, yakni penerima amanah yang diberi kepercayaan mengelola apa yang menjadi milik-Nya.
Karena itu, kedudukan sebagai khalifah bukanlah kehormatan tanpa batas. Ia adalah kemuliaan yang dibarengi dengan tanggung jawab yang sangat berat. Setiap nikmat yang diberikan Allah selalu diikuti dengan pertanyaan tentang bagaimana nikmat itu digunakan.
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa makna khalifah bukan sekadar pengganti generasi sebelumnya, tetapi juga wakil yang diberi amanah untuk memakmurkan bumi sesuai petunjuk Allah. Amanah itu mencakup seluruh aspek kehidupan, mulai dari keluarga, pemerintahan, perdagangan, pertanian, hingga pengelolaan sumber daya alam.
Di sinilah pertambangan menemukan tempatnya.
Pertambangan bukan sekadar aktivitas ekonomi. Ia adalah bagian dari amanah kekhalifahan. Batu bara, emas, nikel, batu kapur, pasir, maupun mineral lainnya bukanlah musuh manusia. Semuanya adalah ciptaan Allah yang disediakan untuk kemaslahatan apabila dikelola dengan ilmu, kejujuran, dan rasa takut kepada-Nya.
Sebaliknya, ketika amanah itu diperlakukan sebagai jalan memenuhi keserakahan, manusia sedang melepaskan dirinya dari martabat sebagai khalifah. Ia tidak lagi memimpin bumi dengan petunjuk Allah, tetapi mengikuti hawa nafsunya sendiri.
Karena itu, ukuran keberhasilan bukan hanya besarnya investasi, tingginya produksi, atau banyaknya keuntungan yang diperoleh. Ukuran yang jauh lebih penting adalah apakah seluruh proses itu tetap berada dalam koridor amanah yang diridhai Allah SWT.
Baca juga : 5 Alarm Tanah Warisan yang Tumbang di Kota Modern
Ketika Kerusakan Lahir dari Kemunafikan
Al-Qur’an kemudian menunjukkan akar persoalan yang sesungguhnya.
Allah SWT berfirman:
“Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah apa yang ada di dalam hatinya, padahal dialah penentang yang paling keras. Apabila ia berpaling, ia berusaha membuat kerusakan di bumi, merusak tanaman dan keturunan. Dan Allah tidak menyukai kerusakan.” (QS. Al-Baqarah: 204β205).
Ayat ini tidak sedang berbicara tentang satu profesi tertentu. Allah tidak menyebut pedagang, pejabat, pengusaha, ataupun pemimpin adat. Allah hanya menggambarkan satu watak: indah dalam ucapan, tetapi merusak dalam perbuatan.
Inilah peringatan yang tidak pernah kehilangan relevansi.
Kerusakan selalu diawali oleh hilangnya integritas. Ketika janji tidak lagi sejalan dengan tindakan, ketika amanah dikalahkan oleh kepentingan pribadi, ketika musyawarah digantikan oleh keserakahan, maka kerusakan mulai berjalan, sering kali dengan wajah yang tampak meyakinkan.
Betapa banyak kata “kesejahteraan” diucapkan, tetapi masyarakat justru kehilangan rasa keadilan. Betapa banyak kata “kemajuan” dikumandangkan, tetapi alam kehilangan keseimbangannya. Betapa banyak orang berbicara atas nama kepentingan bersama, padahal yang diperjuangkan hanyalah kepentingan segelintir pihak.
Baca juga : Membedah Runtuhnya Rumah Gadang Minangkabau
Al-Qur’an mengajak kita untuk tidak tertipu oleh indahnya kata-kata. Ukuran kebenaran bukanlah kefasihan berbicara, melainkan kesesuaian antara ucapan, perbuatan, dan amanah.
Karena itu, jangan terlalu cepat menyalahkan tambang.
Tambang hanyalah benda mati.
Ia tidak memiliki niat.
Ia tidak memiliki keserakahan.
Ia tidak memiliki ambisi.
Yang memiliki semua itu adalah manusia.
Apabila manusia menjaga amanahnya, sumber daya alam akan menjadi jalan kemakmuran. Namun apabila manusia mengkhianati amanahnya, sumber daya yang sama dapat berubah menjadi sebab lahirnya kerusakan.
Maka, persoalan terbesar pertambangan sesungguhnya bukanlah apa yang dikeluarkan dari perut bumi.
Persoalan terbesarnya adalah apa yang telah keluar dari dalam hati manusia. Apakah yang keluar adalah amanah, ataukah keserakahan?
Namun Allah tidak membiarkan manusia menghadapi ujian itu tanpa petunjuk. Di Ranah Minang, nilai-nilai Islam menjelma menjadi sebuah peradaban yang diwariskan turun-temurun. Tentang itulah kita akan berbincang pada seri berikutnya: bagaimana Adat Basandi Syarak menjadi pagar agar amanah tidak berubah menjadi kerusakan.”
Baca juga : Bahaya Sertifikat Susulan dalam Jual-Beli Tanah Kapling
Penutup
Mungkin bumi tidak pernah meminta kita membelanya. Sebab Allah telah menjadikan gunung sebagai pasaknya, laut sebagai penyangganya, dan langit sebagai atapnya. Yang sesungguhnya membutuhkan pertolongan adalah hati manusia.
Sebab ketika hati kehilangan amanah, hutan berubah menjadi angka, sungai menjadi komoditas, tanah ulayat menjadi sekadar aset, dan manusia lupa bahwa semua itu hanyalah titipan.
Minangkabau telah mengajarkan jalan pulang melalui Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Islam telah mengajarkan bahwa manusia adalah khalifah, bukan penguasa mutlak. Maka pertanyaan yang tersisa bukanlah apakah bumi masih sanggup menanggung langkah kita. Pertanyaannya adalah, apakah kita masih pantas menyebut diri sebagai khalifah Allah di muka bumi?
Sebab pada akhirnya, yang akan dihisab bukanlah berapa banyak isi perut bumi yang berhasil kita keluarkan, melainkan seberapa besar amanah yang mampu kita pertanggungjawabkan di hadapan Pemilik bumi.
Sumber Bacaan
- Al-Qur’an al-Karim.
- Tafsir Ibnu Katsir karya Imam Ibnu Katsir.
- Tafsir Al-Misbah karya Prof. M. Quraish Shihab.
- Wahbah az-Zuhaili, Tafsir Al-Munir.
Tentang Penulis
Budi Mulya, SP adalah Dewan Redaksi Asakato.com. Pernah menjadi wartawan freelance Harian Sumbar Mandiri, Koordinator Wilayah (Korwil) SKM Rakyat Sumbar, dan redaktur Mingguan Rakyat Mandiri. Ia aktif menulis isu sosial, budaya, dan kehidupan masyarakat lokal.