Tim MUI Lima Puluh Kota melaksanakan safari dakwah ke Nagari Lubuk Alai dan Koto Lamo di tengah hujan badai dan jalan yang sempat terputus.
IMA PULUH KOTA, asakato.com – Rencana safari dakwah itu telah disusun jauh hari sebelumnya. Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Lima Puluh Kota, Ustadz Asrat Chan, mengumumkan agenda perjalanan dakwah sebagai bagian dari program unggulan untuk menjangkau wilayah terluar dan terjauh dari pusat kota.
Menjelang keberangkatan, ajakan kembali disampaikan kepada para pengurus dan ustaz agar ikut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Tidak hanya hadir, para peserta juga diajak bersama-sama membantu kebutuhan operasional perjalanan dan bantuan untuk masyarakat sekitar.
BACA JUGA : Hadapi Cuaca Ekstrem, MUI 50 Kota Lanjutkan Safari Dakwah di Dua Nagari
Dukungan yang terkumpul beragam, mulai dari uang, beras, telur, minyak goreng, gula, teh, hingga kopi. Selain itu, perlengkapan ibadah seperti Al-Qur’an, kain sarung, mukenah, dan sajadah turut dibawa sebagai bagian dari semangat gotong royong dalam dakwah.
Dari Masjid Al-Kautsar, Tanjung Pati, rombongan kemudian bergerak menuju Kecamatan Kapur IX dengan tujuan Nagari Lubuk Alai dan Nagari Koto Lamo Jorong Koto Tuo.
Namun perjalanan yang telah dipersiapkan itu harus berhadapan dengan kondisi alam yang tidak bersahabat.
Hujan deras mengguyur sejak magrib. Angin kencang menyebabkan pohon tumbang di beberapa titik. Listrik padam membuat suasana nagari gelap gulita. Bahkan akses jalan sempat terputus hingga larut malam akibat batang kayu yang menutupi badan jalan.
Namun safari dakwah tetap berjalan.
Di Nagari Lubuk Alai, masyarakat tetap datang ke masjid meski dalam kondisi minim penerangan. Mereka duduk bersila dalam suasana remang, menanti tausiyah yang disampaikan oleh para ulama.
Tausiyah disampaikan oleh Ketua Majelis Fatwa MUI Lima Puluh Kota, Ustadz Syafrijon, yang mengajak masyarakat untuk menjaga akhlak, memperkuat keimanan, serta mempererat ukhuwah Islamiyah di tengah tantangan kehidupan yang semakin kompleks.
Safari dakwah ini juga diikuti oleh Sekretaris MUI Lima Puluh Kota, Ustadz Dafri Harweli, bersama sejumlah pengurus dan ustaz lainnya.
BACA JUGA : Engku: 1 (satu) Pilar yang Mulai Hilang dalam Kepemimpinan Adat Minangkabau
Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju Nagari Koto Lamo Jorong Koto Tuo. Tantangan semakin terasa ketika jalan gelap, licin, dan di beberapa titik tertutup pohon tumbang.
“Alhamdulillah, safari dakwah tetap berjalan meskipun menghadapi hujan badai, angin kencang, dan listrik padam. Bahkan di beberapa titik ada jalan yang tertutup pohon tumbang. Namun dengan izin Allah, perjalanan tetap dapat dilalui dan kami semua dalam keadaan selamat,” ujar Ketua MUI Lima Puluh Kota, Ustadz Asrat Chan.
Setelah melewati perjalanan panjang di tengah malam, rombongan akhirnya tiba di lokasi tujuan. Masyarakat telah menunggu dengan penuh harap dan menyambut kedatangan para ulama dengan hangat.
“Masyarakat terlihat sangat senang. Mereka bahkan tidak menyangka MUI bisa datang ke kampung mereka yang jauh. Meskipun tidak membawa bantuan materi, kehadiran ini sudah menjadi kebahagiaan tersendiri bagi mereka,” tambahnya.
Kegiatan safari dakwah ini berlangsung dengan semangat kebersamaan dan gotong royong. Sebagian kebutuhan perjalanan dipenuhi secara swadaya oleh para ulama dan peserta yang ikut dalam rombongan, ditambah dukungan jemaah masjid serta bantuan dari Baznas Kabupaten Lima Puluh Kota yang jumlahnya terbatas. Namun keterbatasan tersebut tidak mengurangi semangat untuk terus menyampaikan dakwah hingga ke pelosok nagari.
BACA JUGA : Menolak Hanyut: Krisis Marwah Laki-Laki Minang di Era Materialisme
Perjalanan safari dakwah tersebut menjadi pengingat bahwa menyampaikan kebaikan tidak selalu hadir dalam kemudahan. Dalam banyak riwayat, Rasulullah SAW dan para sahabat juga menempuh perjalanan panjang dengan penuh keterbatasan demi menyampaikan risalah Islam kepada umat.
Safari dakwah ini bukan hanya perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan hati—menghubungkan ulama dan masyarakat dalam satu ikatan keimanan yang hangat.
Di tengah badai, dakwah tetap berjalan.
Di tengah gelap, cahaya tetap menyala. (*)
Penulis:
Tim Asakato Media
Editor:
Budi Mulya, SP