Rektor UNP Krismadinata menyerahkan bantuan perangkat komputer kepada Ponpes Ma’arif Assaadiyah dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Batu Nan Limo, Lima Puluh Kota, Sabtu (5/9/2026).
LIMAPULUH KOTA, Asakato.com — Perkembangan teknologi informasi membawa perubahan pada cara pendidikan berlangsung, termasuk dalam proses pembelajaran di lingkungan pesantren. Menjawab tantangan tersebut, Universitas Negeri Padang (UNP) menggelar pengabdian kepada masyarakat di Pondok Pesantren Ma’arif Assaadiyah, Batu Nan Limo, Nagari Koto Tangah Simalanggang, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sabtu (5/9/2026).
Kegiatan tersebut secara khusus diarahkan untuk meningkatkan kompetensi guru Ponpes Ma’arif Assaadiyah dalam merancang media pembelajaran berbasis teknologi informasi (IT).
Kegiatan diawali dengan sambutan Pimpinan Ponpes Ma’arif Assaadiyah, H. Sudirman Syair, A.Md., DSP. Selanjutnya, kegiatan dibuka secara resmi oleh Rektor UNP, Krismadinata, Ph.D.
Dalam sambutannya, Krismadinata mengatakan pengabdian kepada masyarakat merupakan salah satu bentuk pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Terus Bersama Asakato
Asakato hadir menghadirkan informasi, inspirasi, dan literasi untuk masyarakat. Dukungan pembaca membantu kami terus berkarya.
Dukung melalui Asakato.shop“Kegiatan Pengabdian Masyarakat yang dilaksanakan di Ponpes Maarif Assadiyah adalah bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi,” kata Krismadinata.
Menurut Krismadinata, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi berlangsung sangat pesat. Kondisi tersebut turut memengaruhi kebutuhan dunia pendidikan, termasuk dalam menyiapkan media pembelajaran.
Karena itu, ia berharap kegiatan pengabdian tersebut dapat meningkatkan kemampuan para guru Ponpes Ma’arif Assaadiyah dalam merancang dan menyiapkan media pembelajaran berbasis IT.
Selain persoalan teknologi pembelajaran, Krismadinata juga menekankan pentingnya membangun kemampuan komunikasi dan kepercayaan diri para santri.
Ia mengingatkan agar pesantren turut membekali santri dengan kemampuan public speaking dan kepercayaan diri. Menurutnya, kedua kemampuan tersebut penting sebagai bekal santri untuk menghadapi masa depan dan mengambil peran sebagai pemimpin.
UNP Serahkan Bantuan Komputer
Dukungan terhadap penguatan pembelajaran berbasis teknologi juga diwujudkan UNP melalui penyerahan bantuan perangkat komputer.
Krismadinata, didampingi Sekretaris UNP Prof. Dr. Erianjoni, menyerahkan satu unit komputer PC Core i7 lengkap kepada Ponpes Ma’arif Assaadiyah.
Bantuan tersebut diterima Kepala Madrasah Aliyah (MA) Ma’arif Assaadiyah, Ahmad Maulid, S.Pd., didampingi Pimpinan Ponpes Ma’arif Assaadiyah H. Sudirman Syair serta pengurus pesantren, Budi Mulya, SP., dan sejumlah pihak lainnya.
Bantuan perangkat komputer tersebut diharapkan dapat mendukung pemanfaatan teknologi dalam kegiatan pendidikan di lingkungan pesantren.
Setelah rangkaian pembukaan dan penyerahan bantuan, kegiatan dilanjutkan dengan pelatihan mengenai penyiapan media pembelajaran berbasis IT.
Materi disampaikan oleh sejumlah dosen UNP, yakni Dr. Eka Asih Febriani, S.Pd., M.Pd. dari Program Studi IPS, Dr. Al-Fajri Yusra, S.Pd., M.Pd. dari Program Studi IPS, serta Dr. Asnil dari Program Studi Elektro Fakultas Teknik UNP.
Pelatihan berlangsung dinamis dan hangat. Para guru Ponpes Ma’arif Assaadiyah tampak serius mengikuti materi yang disampaikan para narasumber.
Sejumlah guru juga aktif mengajukan pertanyaan, terutama terkait pemanfaatan teknologi informasi dalam proses pembelajaran.
Interaksi tersebut menunjukkan adanya kebutuhan sekaligus ketertarikan para pendidik untuk memahami pemanfaatan teknologi sebagai bagian dari pengembangan proses belajar mengajar.
Menguatkan Pesantren, Menjawab Perubahan Zaman
Ponpes Ma’arif Assaadiyah merupakan lembaga pendidikan Islam yang didirikan H. Sudirman Syair pada 1995. Cikal bakal pesantren tersebut berawal dari Pelatihan Kader Mubaligh Cilik yang dilaksanakan di Mushalla Mawahiburrahman, yang berada di belakang rumah Buya Sudirman Syair.
Dalam perkembangannya, Ponpes Ma’arif Assaadiyah menyelenggarakan pendidikan tingkat Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA). Para santrinya berasal dari berbagai daerah di Kabupaten Lima Puluh Kota, kabupaten/kota lain di Sumatera Barat, bahkan dari provinsi lain.
Sebagian besar santri berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi kurang mampu. Selain pendidikan tingkat MTs dan MA, Yayasan Ma’arif Assaadiyah juga memiliki Panti Asuhan Mitra yang berada dalam satu kompleks.
Di tengah perkembangan pendidikan modern, pesantren ini tetap mempertahankan tradisi keilmuan Islam. Salah satunya melalui pengajaran kitab kuning atau kitab gundul kepada para santri.
Tradisi tersebut juga melahirkan sejumlah prestasi. Para santri Ponpes Ma’arif Assaadiyah kerap meraih juara dalam berbagai perlombaan kitab kuning.
Ponpes Ma’arif Assaadiyah tergabung dalam pembinaan Nahdlatul Ulama. Pimpinan pesantren, Buya H. Sudirman Syair, juga mendapat amanah sebagai Rais Syuriah PCNU Kabupaten Lima Puluh Kota.
Dalam konteks itu, penguatan kemampuan guru dalam memanfaatkan teknologi tidak harus dipandang sebagai perubahan yang meninggalkan karakter pesantren. Sebaliknya, teknologi dapat menjadi sarana untuk memperkaya proses pembelajaran sekaligus memperluas kemampuan para pendidik dalam mendampingi santri menghadapi perubahan zaman.
Kolaborasi UNP dan Ponpes Ma’arif Assaadiyah melalui kegiatan pengabdian tersebut menjadi salah satu bentuk ikhtiar mempertemukan tradisi pendidikan pesantren dengan perkembangan teknologi.
Pada akhirnya, penguatan kompetensi guru diharapkan bermuara pada satu tujuan: menghadirkan proses pembelajaran yang semakin baik bagi para santri, sekaligus mempersiapkan mereka menjadi generasi yang memiliki pengetahuan, karakter, kemampuan berkomunikasi, dan kepercayaan diri untuk menghadapi masa depan. (*)
Peliput : Tim Asakato Media