Ngaji Taqrib Seri 07 membahas sunnah kedua dalam wudhu, yaitu membasuh kedua telapak tangan sebelum memulai rangkaian wudhu, berdasarkan Matan Abu Syuja' dan syarah Fathul Qarib.
Bismillahirrahmanirrahim
Pada Ngaji Taqrib Seri 06, kita telah mempelajari bahwa membaca basmalah merupakan sunnah pertama dalam wudhu. Setelah sunnah pertama itu, Imam Abu Syuja’ melanjutkan pembahasan kepada sunnah kedua, yaitu membasuh kedua telapak tangan sebelum memulai wudhu.
Pernahkah kita memperhatikan bagaimana kita memulai wudhu?
Kebanyakan orang langsung membasuh wajah. Ada pula yang segera berkumur. Padahal, dalam Al-Ghayah wat-Taqrib, Imam Abu Syuja’ mengajarkan bahwa sebelum semua itu, ada satu sunnah yang dianjurkan untuk dikerjakan, yaitu membasuh kedua telapak tangan.
Amalan ini memang sederhana. Hanya beberapa detik. Namun, kesederhanaannya tidak mengurangi nilainya dalam menyempurnakan wudhu.
Baca juga : Jangan Langsung Membasuh Wajah, Ini Sunnah Pertama dalam Wudhu
Matan Abu Syuja’
Imam Abu Syuja’ menjelaskan:
وغسل الكفين قبل إدخالهما الإناء
Artinya:
“…dan membasuh kedua telapak tangan sebelum memasukkannya ke dalam bejana air.”
Kalimat yang singkat ini menjadi sunnah kedua dalam rangkaian sunnah-sunnah wudhu yang beliau susun secara sistematis. Meskipun hanya terdiri dari beberapa kata, para ulama kemudian menjelaskan maksudnya melalui kitab-kitab syarah agar mudah dipahami dan diamalkan oleh umat Islam. Salah satu syarah yang paling banyak dipelajari di pesantren adalah Fathul Qarib, yang menjadi rujukan utama dalam Rubrik Ngaji Taqrib Asakato sesuai hierarki rujukan yang telah ditetapkan.
Penjelasan Fathul Qarib
Dalam pembahasannya, Fathul Qarib menerangkan bahwa sunnah ini dilakukan pada permulaan wudhu, yaitu dengan membasuh kedua telapak tangan sebelum melanjutkan kepada rangkaian wudhu berikutnya. Amalan ini termasuk bagian dari sunnah-sunnah wudhu yang dianjurkan untuk dijaga sebagai penyempurna ibadah.
Bagi masyarakat masa kini, sunnah ini tetap mudah diamalkan. Baik berwudhu menggunakan keran, ember, maupun tempat penampungan air lainnya, membiasakan membasuh kedua telapak tangan terlebih dahulu merupakan bentuk mengikuti tuntunan yang telah diajarkan para ulama.
Baca juga : Rahasia Sunnah Wudhu yang Sering Kita Lupa
Sunnah yang Tampak Sederhana
Sekilas, membasuh kedua telapak tangan hanya memerlukan beberapa detik. Banyak orang mungkin menganggapnya sebagai hal kecil. Namun, fikih mengajarkan bahwa kesempurnaan ibadah tidak hanya diukur dari perkara yang wajib, tetapi juga dari kesungguhan menjaga sunnah-sunnah Rasulullah ﷺ.
Justru melalui amalan-amalan sederhana seperti inilah seorang Muslim belajar membangun kebiasaan yang baik dalam beribadah. Sedikit demi sedikit, sunnah yang dijaga akan membentuk kedisiplinan dan kecintaan kepada syariat.
Belajar Kitab dengan Bahasa yang Mudah
Salah satu keindahan belajar melalui Matan Al-Ghayah wat-Taqrib adalah susunan pembahasannya yang runtut. Kita diajak memahami setiap sunnah secara bertahap, dimulai dari yang pertama, kemudian kedua, lalu berlanjut kepada sunnah-sunnah berikutnya.
Rubrik Ngaji Taqrib Asakato berusaha menghadirkan cara belajar seperti itu kepada masyarakat. Kitabnya tetap dipelajari sebagaimana adanya, sedangkan bahasanya disampaikan dengan lebih sederhana agar mudah dipahami oleh semua kalangan, tanpa mengurangi amanah ilmiahnya.
Baca juga : Sudah Benarkah Wudhu Kita? Mengenal Enam Rukunnya
Refleksi
Sering kali kita ingin memperbaiki kualitas ibadah melalui amalan-amalan besar. Padahal, Islam juga mengajarkan kita untuk memperhatikan hal-hal kecil yang bernilai di sisi Allah SWT.
Membasuh kedua telapak tangan sebelum memulai wudhu mungkin hanya berlangsung beberapa detik. Namun, dari kebiasaan sederhana itulah kita belajar bahwa mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ bukan hanya pada perkara yang besar, melainkan juga pada adab-adab yang tampak ringan, tetapi memiliki makna dalam menyempurnakan ibadah.
Semoga Allah SWT memberikan taufik kepada kita untuk senantiasa menjaga sunnah-sunnah Rasulullah ﷺ dan menjadikan setiap wudhu yang kita lakukan sebagai awal dari ibadah yang lebih sempurna.
Bersambung…
Ngaji Taqrib Seri 08: Sunnah Ketiga dalam Wudhu, Berkumur.
Baca juga : Jangan Asal Basah, Mengapa Air Menentukan Sah atau Tidaknya Ibadah?
Penulis: Budi Mulya, S.P.
Editor: Tim Redaksi Asakato
Bio Penulis
Budi Mulya, S.P. adalah Wakil Sekretaris PCNU Lima Puluh Kota dan pemerhati isu sosial-keagamaan.