Hadiah Kemerdekaan (2): Menyusun Langkah Menatap Masa Depan — Budi Mulya, SP.
Setelah kemerdekaan diperoleh, pertanyaan terbesar bukan lagi tentang siapa yang menjajah. Pertanyaan berikutnya adalah manusia seperti apa yang akan mengisi kemerdekaan itu.
Bangsa dapat membangun jalan, gedung, teknologi, dan berbagai sistem pemerintahan. Namun, semua itu tetap berada di tangan manusia. Karena itu, masa depan bangsa pada akhirnya sangat ditentukan oleh manusia yang menjalankan seluruh sistem tersebut.
Pada tulisan sebelumnya, kita melihat bagaimana manusia dapat kalah oleh nafsunya sendiri. Manusia mengetahui aturan, mengetahui larangan, bahkan mengetahui bahwa Allah melihat perbuatannya. Namun, pengetahuan itu belum selalu mampu menghentikan langkah ketika kepentingan diri mulai berbicara.
Maka kita sampai pada pertanyaan berikutnya:
Terus Bersama Asakato
Asakato hadir menghadirkan informasi, inspirasi, dan literasi untuk masyarakat. Dukungan pembaca membantu kami terus berkarya.
Dukung melalui Asakato.shopBagaimana manusia membentuk dirinya agar tidak mudah dikuasai nafsu?
Jawaban atas pertanyaan itu tidak cukup dicari melalui aturan baru. Tidak cukup pula melalui pengawasan yang semakin ketat. Kita perlu kembali melihat manusia dari dalam dirinya sendiri.
Di sinilah kita menemukan kembali warisan ilmu dari ulama Minangkabau, Syekh Muhammad Jamil Jaho, melalui Tazkiratul Qulub fi Muraqabati ‘Allamil Ghuyub.
Kitab tersebut bukan sekadar berbicara tentang satu istilah bernama muraqabah. Setelah menyusuri keseluruhan 59 halaman, tampak sebuah perjalanan pembentukan manusia yang menyentuh hati, kesadaran kepada Allah, amal, pengendalian hawa nafsu, ilmu, akhlak, tanggung jawab, hingga adab penuntut ilmu.
Baca juga : Hadiah Kemerdekaan (1): Kemerdekaan dalam Selubung Nafsu
Menghadirkan Manusia untuk Masa Depan
Muraqabah menjadi salah satu pintu penting dalam perjalanan tersebut. Manusia diajak menghadirkan kesadaran tentang Allah dalam setiap waktu dan keadaan. Allah mengetahui keadaan manusia, gerak-geriknya, dan apa yang tersembunyi dalam dirinya.
Kesadaran seperti itu mengubah cara manusia memandang kehidupannya.
Ia tidak hanya bertanya apakah perbuatannya diketahui manusia. Ia berhadapan dengan kesadaran bahwa dirinya berada dalam pengetahuan Allah.
Dari sini, pembentukan manusia tidak berhenti pada pengetahuan. Kitab kemudian membawa pembaca kepada zikir, pemeriksaan terhadap diri setelah beramal, serta perjuangan menghadapi hawa nafsu.
Inilah yang membuat perjalanan tersebut relevan untuk masa depan.
Sebab manusia masa depan tidak cukup hanya memiliki kecerdasan. Ia membutuhkan kemampuan menjaga dirinya ketika berhadapan dengan kesempatan, kekuasaan, dan kepentingan pribadi.
Pengetahuan tentang kebaikan harus menemukan jalannya menuju kehidupan.
Baca juga : Pertambangan Rahmatan lil ‘Alamin (Seri 1): Ketika Amanah Menjadi Ujian Peradaban Minangkabau
Ilmu tidak boleh berhenti menjadi pengetahuan. Ia harus melahirkan amal dan membentuk akhlak. Kitab juga memberi perhatian terhadap keadaan orang berilmu yang dapat tertipu oleh ilmu, kedudukan, pujian, atau kecintaan kepada dunia.
Di sinilah kita menemukan persoalan yang sangat mendasar.
Manusia dapat mengetahui kebenaran, tetapi tetap gagal mengikutinya.
Karena itu, masa depan tidak hanya membutuhkan manusia yang tahu. Masa depan membutuhkan manusia yang mampu menjaga dirinya setelah mengetahui.
Ia harus mampu melihat ke dalam dirinya sendiri. Ia perlu menyadari kelemahannya dan mengenali kecenderungan nafsunya. Ia juga perlu memperbaiki kesalahan dan mengembalikan dirinya kepada jalan yang benar.
Sebab manusia yang tidak mampu mengendalikan dirinya akan mudah dikendalikan oleh sesuatu di luar dirinya.
Harta dapat mengendalikannya. Jabatan dapat mengendalikannya. Pujian dapat mengendalikannya. Kekuasaan dapat mengendalikannya. Kepentingan kelompok dapat mengendalikannya.
Pada akhirnya, manusia yang tampak bebas dapat kehilangan kemerdekaan batinnya.
Karena itu, menyusun masa depan sesungguhnya tidak cukup dengan menyusun sistem. Kita harus menyusun manusia yang akan menjalankan sistem tersebut.
Baca juga : Pertambangan Rahmatan lil ‘Alamin (Seri 2): Adat Basandi Syarak, Ketika Minangkabau Menjaga Amanah Bumi
Sejarah Nusantara memberi kita banyak cermin tentang keberanian manusia yang bersedia mempertaruhkan kepentingan dirinya demi sesuatu yang diyakini lebih besar. Perjuangan itu hadir dalam berbagai bentuk dan dilakukan oleh berbagai kalangan.
Yang penting bukan sekadar nama-nama mereka.
Yang penting adalah nilai yang dapat kita renungkan:
Keyakinan dapat melahirkan keberanian, dan keberanian dapat mendorong manusia berdiri membela sesuatu yang diyakininya benar.
Manusia seperti itu tidak menjadikan keselamatan dirinya sebagai ukuran tunggal.
Ia berani ketika kebenaran membutuhkan keberanian. Ia mampu berkorban ketika amanah menuntut pengorbanan. Ia tidak mudah menukar keyakinannya dengan keuntungan sesaat.
Tentu kita tidak sedang mengatakan bahwa setiap tokoh sejarah adalah manusia tanpa kekurangan. Kita juga tidak sedang mengadili isi hati mereka. Kita hanya melihat pelajaran yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Bangsa membutuhkan manusia yang berani melakukan kebenaran, bukan hanya manusia yang takut melakukan kesalahan.
Dan keberanian seperti itu membutuhkan hati yang memiliki sandaran lebih tinggi daripada kepentingan dirinya sendiri.
Di sinilah pendidikan manusia menjadi sangat penting.
Pendidikan tidak boleh hanya menghasilkan manusia yang mampu menjawab soal. Pendidikan harus membantu manusia mengenal dirinya, mengenal tanggung jawabnya, dan memahami kepada siapa seluruh kehidupannya akan dipertanggungjawabkan.
Sebab jika pendidikan hanya melahirkan manusia pintar, tetapi tidak membentuk manusia yang mampu menjaga dirinya, kecerdasan dapat digunakan untuk apa saja.
Ilmu dapat menjadi jalan pengabdian. Tetapi ilmu juga dapat menjadi alat kesombongan.
Kekuasaan dapat menjadi amanah. Tetapi kekuasaan juga dapat menjadi jalan memenuhi nafsu.
Harta dapat menjadi sarana kebaikan. Tetapi harta juga dapat menjadi sesuatu yang memperbudak manusia.
Karena itu, yang kita susun untuk masa depan bukan sekadar program.
Yang paling penting adalah manusia yang akan menjalankan program tersebut.
Tazkiratul Qulub membawa kita kepada perjalanan yang sangat dalam. Manusia diajak memperhatikan hatinya, mengingat Allah, memeriksa amalnya, melawan hawa nafsu, memperbaiki diri, menjaga ilmu dan akhlak, serta memahami tanggung jawab yang melekat pada kehidupan. Pada bagian akhirnya, pembahasan juga menyentuh penyakit agama dan tanggung jawab manusia yang memegang amanah.
Maka masa depan bangsa tidak cukup dibangun dengan manusia yang hanya takut kepada hukum.
Kita membutuhkan manusia yang memiliki kesadaran kepada Allah sebelum hukum menjangkaunya.
Kita membutuhkan manusia yang tetap jujur ketika tidak ada kamera, tetap amanah ketika tidak ada pemeriksaan, dan tetap benar ketika kesempatan untuk berbuat salah terbuka.
Kita juga membutuhkan manusia yang tetap berani ketika kebenaran membutuhkan pengorbanan.
Inilah manusia yang kita perlukan untuk menatap masa depan.
Manusia yang yakin kepada Allah, lalu kepatuhannya terlihat dalam kehidupannya.
Bukan hanya mengetahui Tuhan. Bukan hanya menyebut nama Tuhan. Bukan hanya memiliki identitas keagamaan.
Tetapi menghadirkan kesadaran kepada Allah dalam pilihan-pilihan hidupnya.
Sebab ketika kesadaran itu hidup, manusia tidak lagi hanya bertanya, “Apakah orang lain melihat?”
Ia mulai bertanya:
“Bagaimana saya akan mempertanggungjawabkan ini di hadapan Allah?”
Pertanyaan itulah yang dapat mengubah keputusan.
Baca juga : Isi Perut vs PETI: Jalan Damai Tambang Lima Puluh Kota
Ia dapat mengubah cara seseorang menggunakan jabatan, memperlakukan harta, menggunakan ilmu, dan memperlakukan rakyat. Bahkan, ia dapat mengubah cara seseorang memandang dirinya sendiri.
Maka menyusun langkah menatap masa depan bukan sekadar menyusun apa yang hendak kita bangun.
Kita harus menyusun siapa yang akan membangunnya.
Sebab masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh sistem yang kita bangun, tetapi oleh manusia seperti apa yang kita bentuk untuk menjalankannya.
Dan di sinilah kemerdekaan mendapatkan makna yang lebih dalam.
Kemerdekaan memberi manusia ruang untuk menentukan langkah. Tetapi keyakinan kepada Allah memberi manusia arah dalam menggunakan kebebasan itu.
Merdeka tanpa arah dapat menjadi kebebasan bagi nafsu.
Sebaliknya, manusia yang yakin dan patuh kepada Allah dapat menggunakan kemerdekaannya sebagai amanah.
Mungkin inilah langkah yang perlu kita susun untuk masa depan:
bukan hanya membangun bangsa yang kuat, tetapi menghadirkan manusia yang kuat menjaga hatinya.
Bukan hanya membentuk manusia yang berani menghadapi manusia lain, tetapi manusia yang berani menghadapi hawa nafsunya sendiri.
Bukan hanya melahirkan manusia yang mampu memimpin, tetapi manusia yang mampu mempertanggungjawabkan kepemimpinannya.
Dan bukan hanya menghasilkan manusia yang takut kepada hukuman, tetapi manusia yang takut mengkhianati amanah di hadapan Allah.
Baca juga : Mengapa Wudhu Bisa Menenangkan Hati Seorang Muslim
Menjaga Langkah Menuju Masa Depan
Jika manusia seperti itu dapat kita hadirkan, kemerdekaan tidak berhenti sebagai warisan sejarah.
Ia menjadi amanah yang terus diperbarui oleh setiap generasi.
Kita tidak hanya mewarisi negeri. Kita mewarisi tanggung jawab untuk menjaganya.
Kita tidak hanya menerima kebebasan. Kita menerima amanah untuk menggunakan kebebasan itu dengan benar.
Dan kita tidak hanya menatap masa depan dengan harapan kepada kemampuan manusia. Kita menatapnya dengan kesadaran bahwa seluruh kehidupan akhirnya kembali kepada Allah.
Maka langkah masa depan harus dimulai dari manusia.
Manusia yang mengenal Tuhannya, yakin kepada-Nya, dan berusaha patuh kepada-Nya.
Manusia yang menjaga dirinya ketika tidak ada manusia yang melihat. Manusia yang berani berdiri di pihak kebenaran ketika kepentingan dirinya meminta untuk mundur.
Kita tidak sedang menyusun masa depan untuk manusia.
Kita sedang menyusun manusia untuk masa depan.
Dan ketika manusia itu telah belajar menghadirkan dirinya di hadapan Allah, pertanyaan berikutnya menjadi semakin besar:
Untuk apa kemerdekaan itu digunakan?
Di sanalah perjalanan berikutnya akan membawa kita kepada satu tujuan yang lebih tinggi:
Hadiah Kemerdekaan (3): Ketika Kemerdekaan dalam Ridha Allah
Tentang Penulis
Budi Mulya, SP adalah Wakil Sekretaris PCNU Lima Puluh Kota dan pemerhati isu sosial-keagamaan. Ia aktif menulis tentang lingkungan, pembangunan daerah, pertanian, dan literasi untuk mendorong tumbuhnya kepedulian masyarakat terhadap nagari dan alam.
Editor: Tim Redaksi Asakato
❤️ Dukung Asakato
Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda,
mari bantu Asakato terus menghadirkan berita, edukasi, dan inspirasi untuk masyarakat.
Dukungan sekecil apa pun sangat berarti agar kami dapat terus berkarya secara independen.
Terima kasih telah menjadi bagian dari perjalanan Asakato – Media Inspirasi dan Literasi Umat.