Oleh: Dr. H. Arman Husni, Lc., M.A.
PENDAHULUAN
Dalam bahasa Arab, satu huruf bukan sekadar tanda. Ia dapat menentukan bunyi, membentuk kata, bahkan membedakan makna.
Karena itu, ketika sebuah kata Arab dialihkan ke dalam huruf Latin, pekerjaan tersebut tidak semestinya dilakukan berdasarkan perkiraan bunyi semata. Ada kaidah transliterasi yang harus diperhatikan agar identitas bahasa sumber tetap terjaga.
Fenomena ini kembali menjadi perhatian dalam MTQ Nasional XXXI di Semarang. Polemik muncul terkait penulisan dan pembacaan istilah ترخيص dan ترقيص.
Terus Bersama Asakato
Asakato hadir menghadirkan informasi, inspirasi, dan literasi untuk masyarakat. Dukungan pembaca membantu kami terus berkarya.
Dukung melalui Asakato.shopSekilas kedua kata tersebut tampak hampir sama, tetapi secara kebahasaan keduanya berbeda. Perbedaan satu huruf membawa keduanya kepada akar kata dan makna yang berbeda.
Peristiwa tersebut kemudian menjadi perbincangan karena menyangkut ketepatan jawaban dan penilaian dalam sebuah kompetisi yang berkaitan erat dengan bahasa Al-Qur’an.
Fenomena semacam ini sesungguhnya tidak hanya terjadi dalam arena MTQ. Dalam kehidupan sehari-hari, masih sering ditemukan tulisan Arab yang dilatinkan tanpa mengikuti kaidah yang berlaku.
Bahkan ada kata القارعة yang dibaca atau dipahami berdasarkan perkiraan bentuk Latin, seolah-olah huruf ع dapat diperlakukan sama dengan أ. Padahal, keduanya merupakan unsur bahasa yang berbeda.
Di sinilah kita perlu kembali kepada persoalan mendasar tentang pentingnya memahami bahasa sumber.
Bahasa Arab bukan hanya bahasa yang dilafalkan, tetapi bahasa yang memiliki sistem tulisan, bunyi, struktur kata, dan makna. Ketika salah satu unsur diabaikan, pemahaman terhadap unsur lainnya dapat ikut terganggu. Terlebih lagi ketika bahasa tersebut adalah bahasa Al-Qur’an.
Baca juga : Ngaji Taqrib Seri 08: Sunnah Ketiga dalam Wudhu
SATU HURUF BUKAN SEKADAR SATU BUNYI
Bahasa Arab memiliki sistem fonologi yang khas. Huruf ع berbeda dengan ء, sebagaimana ص berbeda dengan س, ط berbeda dengan ت, dan ح berbeda dengan ه.
Perbedaan tersebut bukan sekadar variasi pelafalan, melainkan bagian dari sistem bahasa Arab.
Dalam ilmu al-aṣwāt, atau fonologi, setiap bunyi memiliki karakteristik dan tempat artikulasi.
Ibrāhīm Anīs, dalam al-Aṣwāt al-Lughawiyyah, menjelaskan berbagai karakter bunyi bahasa Arab dan bagaimana bunyi-bunyi tersebut menjadi bagian dari sistem kebahasaan.
Karena itu, seseorang yang menulis bahasa Arab dalam huruf Latin tidak cukup hanya bertanya, “Bagaimana kata ini terdengar?” Ia juga harus mengetahui, “Huruf Arab apa yang sebenarnya digunakan?”
Di Indonesia, persoalan tersebut sebenarnya sudah memiliki pedoman. Transliterasi Arab-Latin telah diatur melalui SKB Menteri Agama dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 158 Tahun 1987 dan Nomor 0543b/U/1987.
Dalam pedoman itu, setiap huruf Arab memiliki padanan Latin tertentu.
Dengan demikian, transliterasi bukan sekadar menulis bunyi Arab menggunakan huruf yang tersedia dalam bahasa Indonesia. Transliterasi adalah upaya memindahkan aksara dengan tetap menjaga identitas unsur bahasa sumber.
Inilah sebabnya ع tidak boleh diperlakukan sama dengan أ hanya karena bagi sebagian pembaca keduanya terasa sulit dibedakan.
Baca juga : Jejak Kemerdekaan Dalam Keteladanan As-Sabiqun Al-Awwalun
KETIKA TULISAN BERUBAH, MAKNA BISA BERUBAH
Kesalahan terhadap huruf sering dianggap sederhana. “Hanya satu huruf,” begitu kira-kira anggapan yang muncul.
Padahal, dalam bahasa Arab, satu huruf dapat membawa seseorang kepada kata yang berbeda.
Perhatikan ترخيص dan ترقيص. Kata pertama berasal dari akar ص خ ر dan berkaitan dengan makna rukhsah, yaitu keringanan atau dispensasi dalam konteks tertentu.
Sementara kata kedua berasal dari akar ص ق ر dan memiliki hubungan dengan makna menari atau membuat seseorang menari. Perbedaan خ dan ق bukan kesalahan kosmetik. Ia merupakan perbedaan identitas kata.
Hal serupa berlaku pada banyak kata Arab lainnya. Pergantian ع dengan أ, ح dengan ه, ص dengan س, atau ط dengan ت dapat menghasilkan bentuk yang berbeda.
Karena itu, bahasa Arab tidak dapat selalu dipahami hanya berdasarkan bunyi yang kira-kira terdengar di telinga.
Dalam ilmu ṣarf, perubahan struktur dan unsur kata berkaitan erat dengan perubahan makna.
Ibn Jinnī dalam Sirr Ṣināʿat al-Iʿrāb memberikan perhatian besar terhadap hubungan antara bunyi, huruf, dan pembentukan bahasa. Sementara kajian fiqh al-lughah mengajarkan bahwa karakteristik setiap unsur bahasa perlu diperhatikan agar makna tidak terlepas dari bentuknya.
Maka, ketelitian terhadap huruf pada hakikatnya adalah ketelitian terhadap makna.
BAHASA WAHYU TIDAK CUKUP DIPELAJARI DARI BUNYI
Al-Qur’an sendiri menegaskan karakter kebahasaannya:
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ
Artinya: “Sesungguhnya Kami menurunkannya sebagai Al-Qur’an berbahasa Arab agar kamu memahaminya.” (QS. Yusuf: 2).
Ayat tersebut mengingatkan bahwa bahasa Arab Al-Qur’an bukan sekadar bunyi yang dilantunkan. Bahasa merupakan bagian dari jalan menuju pemahaman.
Tilawah membutuhkan ketepatan bacaan. Tetapi memahami pesan Al-Qur’an membutuhkan penguasaan terhadap bahasa yang digunakan oleh Al-Qur’an itu sendiri.
Karena itu, terjemahan dan transliterasi memang sangat membantu, khususnya bagi masyarakat yang belum menguasai bahasa Arab. Namun, keduanya tidak dapat sepenuhnya menggantikan bahasa sumber.
Transliterasi memindahkan aksara. Terjemahan memindahkan makna. Keduanya adalah jembatan.
Dan seperti halnya jembatan, kualitasnya sangat ditentukan oleh ketepatan hubungan antara titik asal dan titik tujuan. Jika bentuk bahasa sumber sudah salah dikenali sejak awal, proses berikutnya berpotensi ikut mengalami kesalahan.
Di sinilah pentingnya kembali kepada teks Arab ketika menemukan istilah yang meragukan.
Lihat hurufnya, periksa harakatnya, kenali akar katanya, pahami bentuk morfologisnya, kemudian lihat konteks penggunaannya.
Baca juga : Ekologi Qur’ani: Bahasa Wahyu dan Tanggung Jawab Manusia Merawat Bumi
MENGUASAI BAHASA SUMBER ADALAH MENJAGA MAKNA
Persoalan ini menjadi semakin penting di era digital dan kecerdasan buatan.
Saat ini berbagai aplikasi dapat mentransliterasikan, menerjemahkan, dan bahkan melafalkan teks Arab dalam hitungan detik. Teknologi memberikan kemudahan luar biasa, tetapi kemudahan tidak otomatis menjamin ketepatan.
Manusia tetap membutuhkan kemampuan untuk melakukan verifikasi terhadap bahasa sumber.
Seorang pengguna teknologi yang tidak mengenal bahasa Arab akan kesulitan ketika mesin menghasilkan transliterasi yang keliru. Ia mungkin menerima begitu saja hasil yang tampak meyakinkan karena tidak memiliki kemampuan untuk membandingkannya dengan teks asli.
Karena itu, literasi bahasa sumber justru semakin penting ketika teknologi semakin maju.
Dalam konteks pendidikan Islam, pembelajaran bahasa Arab hendaknya tidak berhenti pada kemampuan menghafal kosakata atau menerjemahkan kata per kata.
Peserta didik perlu dibiasakan mengenali huruf, bunyi, akar kata, pola pembentukan kata, konteks, dan hubungan antara bentuk dengan makna.
Fenomena ترخيص dan ترقيص hendaknya menjadi pelajaran bersama. Bukan semata-mata untuk memperdebatkan siapa yang salah, tetapi untuk menunjukkan bahwa bahasa Arab membutuhkan ketelitian.
Apalagi ketika bahasa tersebut digunakan dalam forum keagamaan dan kompetisi Al-Qur’an. Ketepatan bahasa bukan persoalan tambahan. Ia merupakan bagian dari substansi.
Bahasa Arab memiliki tiga wilayah yang saling berkaitan: tulisan, bunyi, dan makna. Ketiganya tidak boleh dipisahkan secara serampangan.
Maka, ketika bahasa Arab dilatinkan, jangan hanya bertanya, “Bagaimana bunyinya?”
Tanyakan pula: Bagaimana tulisan aslinya? Huruf apa yang digunakan? Dari akar kata apa ia berasal? Bagaimana bentuk katanya? Dan apa maknanya dalam konteks tersebut?
Sebab dalam bahasa wahyu, satu huruf dapat menjaga satu makna.
Dan ketika satu huruf diabaikan, jangan heran jika makna yang seharusnya dijaga oleh bahasa itu ikut bergeser.
PENUTUP: JANGAN PUTUSKAN BAHASA DARI SUMBERNYA
Bahasa Arab tidak cukup dipahami dari bunyi, apalagi dari perkiraan tulisan Latin.
Tulisan, bunyi, struktur, dan makna merupakan satu kesatuan yang harus dipahami secara utuh. Karena itu, penguasaan bahasa sumber menjadi kunci untuk menjaga ketepatan makna, terutama ketika berhadapan dengan bahasa Al-Qur’an.
Transliterasi dan teknologi hanyalah sarana untuk membantu mendekatkan bahasa kepada pembaca. Keduanya tidak menggantikan pentingnya memahami bahasa sumber dan melakukan verifikasi secara cermat.
Sebab, dalam bahasa Arab, satu huruf mungkin kecil dalam tulisan, tetapi bisa besar dalam makna.
DAFTAR BACAAN
- Anīs, Ibrāhīm. al-Aṣwāt al-Lughawiyyah. al-Qāhirah: Maktabat al-Anjlū al-Miṣriyyah, 1999.
- Ibn Jinnī. Sirr Ṣināʿat al-Iʿrāb. Bayrūt: Dār al-Kutub al-ʿIlmiyyah, 2000.
- al-Jurjānī, ʿAbd al-Qāhir. Dalāʾil al-Iʿjāz. al-Qāhirah: Maktabat al-Khānjī, 1992.
- al-Suyūṭī, Jalāl al-Dīn. al-Muzhir fī ʿUlūm al-Lughah wa Anwāʿihā. Bayrūt: al-Maktabah al-ʿAṣriyyah, 2011.
- ʿAbd al-Tawwāb, Ramaḍān. Fuṣūl fī Fiqh al-ʿArabiyyah. al-Qāhirah: Maktabat al-Khānjī, 1999.
- KalderaNews. “Viral Polemik Penilaian Juri di MTQ Nasional 2026 Tuai Sorotan Warganet.” 16 September 2026.
- VOA-Islam. “Jawaban Tarkhis Disebut Salah, Juri Bersikukuh Tarqish.” 15 September 2026.
- Kementerian Agama Republik Indonesia. Pedoman Transliterasi Arab-Latin, berdasarkan SKB Menteri Agama dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 158 Tahun 1987 dan Nomor 0543b/U/1987.
Tentang Penulis
Dr. H. Arman Husni, Lc., M.A. merupakan dosen Pendidikan Bahasa Arab pada Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi. Ia merupakan akademisi di bidang Bahasa Arab dan Pendidikan Bahasa Arab, serta aktif dalam kegiatan pengajaran, penelitian, penulisan, dan pengabdian kepada masyarakat. Ia menyelesaikan pendidikan S1 di International University of Africa, S2 di Khartoum International Institute for Arabic Language, dan S3 di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
❤️ Dukung Asakato
Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda,
mari bantu Asakato terus menghadirkan berita, edukasi, dan inspirasi untuk masyarakat.
Dukungan sekecil apa pun sangat berarti agar kami dapat terus berkarya secara independen.
Terima kasih telah menjadi bagian dari perjalanan Asakato – Media Inspirasi dan Literasi Umat.
Bahasa yang menentukan arah ibadah kita