Ilustrasi peristiwa pembakaran Tanjung Pati dan Koto Tuo oleh pasukan Belanda pada 1 Juni 1949 yang menjadi bagian penting dalam sejarah perjuangan PDRI di Sumatera Barat.
Catatan Redaksi:
Tulisan ini merupakan bagian kelima dari serial sejarah “Mengenang Nagari Koto Tuo dalam Rangkaian Sejarah PDRI 1949” karya Saiful, SP. Naskah disunting seperlunya untuk menyesuaikan dengan kaidah penulisan media digital tanpa mengubah fakta, kronologi, dan pokok pikiran penulis.
Oleh: Saiful, SP
Melalui Tulisan Kita Mengenal Sejarah.
Ancaman Besar dari Belanda
Memasuki awal Mei 1949, tersiar kabar bahwa Belanda akan mendirikan pos militer di Tanjung Pati. Informasi itu segera sampai kepada para pejuang di Front Lima Puluh Kota.
Atas perintah Mayor Thalib, Komandan Front Lima Puluh Kota, diputuskan untuk melakukan taktik bumi hangus terbatas. Kedai-kedai dan bangunan yang diperkirakan dapat dijadikan markas Belanda diperintahkan untuk dibakar.
Bangunan yang ikut dibumihanguskan antara lain sekolah desa, Perguruan Islam, dan Kantor Camat Tanjung Pati. Langkah itu diambil agar musuh tidak memperoleh tempat bertahan yang strategis.
Baca juga : Koto Tuo dalam Jejak PDRI (1): Awal Agresi dan Luka di Koto Nan Gadang
Rakyat dan Gerilyawan Bertahan
Selama lebih dari satu bulan, Belanda tidak melakukan serangan besar. Mereka hanya melakukan patroli hingga kawasan Tembok Jua, Lampasi.
Jalan-jalan yang sebelumnya digali oleh pasukan gerilya dan masyarakat untuk menghambat pergerakan Belanda terus dipertahankan. Setelah siang hari ditimbun oleh Belanda, malam harinya lubang-lubang itu kembali digali oleh rakyat.
Keadaan itu membuat Belanda semakin marah. Mereka kemudian menempelkan beberapa lembar pamflet di pilar Simpang Empat Tanjung Pati.
Isi pamflet tersebut memerintahkan agar seluruh pasukan gerilya menghentikan perlawanan dan aksi sabotase. Jika tidak dipatuhi, Belanda mengancam akan membakar seluruh bangunan di Tanjung Pati, Pulutan, Koto Tuo, hingga Batu Balang.
Ancaman itu tidak membuat para pejuang menyerah. Sebaliknya, semangat mempertahankan kemerdekaan tetap menyala di tengah segala keterbatasan.
Baca juga : Koto Tuo dalam Jejak PDRI (2): Lahirnya Pertahanan Gerilya Front Utara Payakumbuh
Masyarakat Mulai Mengungsi
Karena sulit memperoleh informasi pasti mengenai waktu serangan, pimpinan perjuangan mengambil langkah pengamanan. Masyarakat diminta meninggalkan Tanjung Pati dan Koto Tuo serta membawa barang-barang yang masih dapat diselamatkan.
Pengungsian dilakukan menuju Koto Tangah, Tigo Balai, Gurun, dan Balai Tinggi. Sedikit demi sedikit, Tanjung Pati menjadi lengang seperti nagari yang ditinggalkan penghuninya.
Jalan antara Tanjung Pati dan Koto Tuo dipenuhi batang-batang kayu yang sengaja ditebang dan dibaringkan melintang. Upaya itu dilakukan untuk memperlambat laju kendaraan Belanda.
Meski demikian, strategi pertahanan yang dimiliki para pejuang masih sangat terbatas. Mereka hanya mengandalkan semangat perjuangan, senapan peninggalan, dan bedil rakitan yang dibuat oleh rakyat.
Baca juga : Koto Tuo dalam Jejak PDRI (3): Pertempuran Tembok Padang Gantiang dan Perlawanan Rakyat
Serangan Subuh 1 Juni 1949
Pada 1 Juni 1949, ketika sebagian masyarakat bersiap melaksanakan salat Subuh, Belanda mulai memasuki Tanjung Pati. Mereka datang tanpa melepaskan tembakan karena hampir tidak ada perlawanan yang dapat mereka temui.
Rumah-rumah di Simpang IV telah kosong ditinggalkan penghuninya. Namun, sebagian barang berharga masih tersimpan di dalamnya karena tidak sempat dibawa mengungsi.
Belanda mulai melakukan pembakaran dari rumah Sila Nawi di pangkal jembatan. Kobaran api kemudian menjalar ke Tanjung Tangah dan melahap bangunan-bangunan yang ada di sekitarnya.
Di antara sekian banyak bangunan, hanya rumah Datuk Katumanggungan, Datuk Paduko Tan Kayo, dan Datuk Sindo yang berhasil diselamatkan dari pembakaran.
Rumah Datuk Sindo dapat bertahan berkat kegigihan Asril Lansuan, yang saat itu masih kanak-kanak. Bersama kakaknya, ia terus menyiramkan air setiap kali Belanda menyiramkan minyak untuk membakar rumah tersebut.
Baca juga : Koto Tuo dalam Jejak PDRI (4): Kurir Gerilya, Markas Boncah Pulutan, dan Pengorbanan Para Pejuang
Korban di Kampung Dalam
Kobaran api yang membakar Simpang IV dan Tanjung Tangah menjadi tanda bagi masyarakat di Kampung Dalam bahwa Belanda telah memasuki nagari mereka.
Salah seorang warga, Saidan, tidak sempat menyelamatkan diri. Ia ditarik keluar rumah, dipukul, dan akhirnya ditembak hingga gugur di halaman rumahnya.
Di Kampung Dalam, Belanda juga menemukan Kaida dan Miti yang belum sempat mengungsi. Keduanya menjadi korban kebrutalan pasukan Belanda.
Belanda kemudian mendatangi sebuah rumah bergonjong di seberang jalan. Di tempat itu mereka menemukan Ahmad Syamsidar, Kepala Sekolah Rakyat Tanjung Pati yang lebih dikenal dengan panggilan Guru Asam.
Guru Asam ditarik turun dari rumah dan ditembak di halaman. Meskipun sempat mendapat perawatan di Limbanang, beberapa bulan kemudian beliau meninggal dunia dan dimakamkan di sana.
Dari seluruh rumah yang ada di Tanjung Pati, hanya tiga rumah gadang yang tetap berdiri. Selebihnya, bersama rumah keluarga Ahmad Syamsidar dan rumah kemenakan Datuk Tundiko di Kampung Dalam, habis dilalap api.
Baca juga : Menulis Ulang Sejarah Pangulu Nan Basurek (1): Awal Penyusupan Administrasi Kolonial di Nagari
Bersambung ke Seri 6
Koto Tuo dalam Jejak PDRI (6): Jumat Berdarah dan Warisan Sejarah yang Tak Boleh Hilang
Pada bagian terakhir, pembaca akan diajak menyusuri peristiwa Jumat Berdarah 10 Juni 1949, saat Koto Tuo benar-benar menjadi lautan api dan meninggalkan warisan sejarah yang terus dikenang hingga hari ini.