Ilustrasi sinematik untuk rubrik Lentera Asakato menggambarkan perjalanan manusia menembus langit, namun menemukan makna sejati di dalam hati melalui adab, iman, dan penghormatan kepada orang tua.
Oleh: Andriwifa
🌿 Lentera Asakato
Esai Naratif Reflektif yang menyalakan hati dan mencerahkan pikiran.
Ada penyesalan yang tak pernah dapat dihitung oleh ilmu pengetahuan.
Ia tak memiliki rumus. Tak mengenal angka. Tak bisa dipetakan oleh kecerdasan buatan, atau dibaca oleh teleskop paling canggih yang sanggup menembus miliaran kilometer ruang angkasa.
Penyesalan hanya hidup di satu tempat.
Di hati manusia.
Di balik kubah kaca Stasiun Pemantauan Orbital Angkasa Luar Nusantara-1, Dr. Arya berdiri memandangi bumi. Dari kejauhan, planet itu tampak begitu damai. Sebuah bola biru yang menggantung dalam lautan semesta.
Di hadapannya, layar-layar holografik terus bekerja tanpa lelah. Gelombang elektromagnetik, medan geomagnetik, hingga polarisasi cahaya tersusun menjadi peta raksasa yang hanya mampu dipahami oleh sedikit orang di dunia.
Baca juga : Pertambangan Rahmatan lil ‘Alamin (Seri 1): Ketika Amanah Menjadi Ujian Peradaban Minangkabau
Di sampingnya berdiri Rian, asisten muda yang selama ini mengagumi kecerdasan sang profesor.
“Burung-burung itu luar biasa, Prof,” katanya sambil menunjuk hasil simulasi penerbangan kawanan migran. “Mereka selalu menemukan jalan pulang, meski ribuan kilometer harus ditempuh.”
Arya tersenyum tipis.
“Bukan karena mereka lebih kuat dari manusia,” jawabnya pelan. “Tetapi karena Tuhan memberi mereka kemampuan membaca sesuatu yang tak dapat kita lihat.”
Rian mengernyit.
“Cryptochrome?”
Arya mengangguk.
“Ya. Mata mereka membaca peta yang tak kasatmata. Kita baru mampu melihatnya setelah membangun laboratorium, satelit, dan superkomputer.”
Ia berhenti sejenak.
“Lalu manusia menjadi bangga.”
Rian tersenyum kecil.
“Bukankah itu wajar, Prof? Bukankah ilmu memang membuat manusia semakin hebat?”
Arya tidak segera menjawab.
Tatapannya tetap tertuju ke bumi.
Seolah ada sesuatu yang jauh lebih ingin ia lihat daripada jutaan data yang menari di hadapannya.
“Aku pernah mengira begitu.”
Suara itu terdengar lirih.
“Namun sekarang aku tahu… sehebat apa pun ilmu, semuanya akan runtuh jika adab, iman, dan amal ditinggalkan.”
Kalimat itu menggantung di udara.
Lalu perlahan membawa Arya kembali ke puluhan tahun silam.
Ia melihat seorang pemuda.
Pemuda itu adalah dirinya sendiri.
Siang itu matahari terasa begitu terik. Sebuah motor tua berhenti di depan tempat kos mahasiswa.
Seorang ayah turun lebih dulu.
Helm sederhananya sudah kusam dimakan usia.
Di belakangnya, seorang ibu memeluk bungkusan makanan yang dibawa dari rumah. Mungkin lauknya sederhana. Mungkin hanya cukup untuk mengobati rindu seorang anak yang sedang menuntut ilmu.
Mereka tersenyum.
Mereka datang membawa kasih.
Namun anak yang mereka rindukan justru memandang ke sekeliling.
Apakah teman-temannya melihat?
Apakah mereka akan menertawakannya?
Ia tidak berlari memeluk ayah dan ibunya.
Ia tidak menggenggam tangan mereka.
Yang lebih ia takutkan saat itu bukanlah mengecewakan kedua orang tuanya.
Melainkan kehilangan gengsi di hadapan manusia.
Arya menutup matanya.
Kenangan itu tak pernah benar-benar pergi.
Baca juga : Rahasia Tiga Tingkatan Adat Minangkabau yang Jarang Dijelaskan
Ingatan lain datang menyusul.
Sebuah pesantren tua.
Lantainya dari kayu.
Di bawahnya air kolam yang keruh menghitam.
Seorang Buya sepuh meraba-raba dasar kolam.
Kunci pintu terjatuh.
Tangan renta itu terus menyusuri lumpur.
Arya berdiri beberapa langkah dari sana.
Ia melihat semuanya.
Ia mampu membantu.
Namun pandangannya justru jatuh pada sepatu yang baru dibelinya beberapa hari sebelumnya.
Ia membayangkan lumpur.
Ia membayangkan kaus kaki yang akan kotor.
Lalu…
Ia tetap diam.
Kini, setiap kali kenangan itu datang, yang terasa kotor bukan lagi sepatunya.
Melainkan hatinya sendiri.
Belum selesai.
Masih ada luka lain yang tak pernah ia ceritakan kepada siapa pun.
Suatu hari ia mampu memberikan perjalanan yang lebih layak bagi ayahnya.
Ia mampu.
Tetapi ia tidak melakukannya.
Hari itu berlalu.
Kesempatan berbakti ikut berlalu.
Dan waktu…
Tak pernah berjalan mundur.
“Prof…”
Suara Rian membuyarkan lamunannya.
“Apakah ada sesuatu yang lebih hebat daripada ilmu?”
Arya tersenyum.
Ada air yang mulai menggenang di sudut matanya.
“Ada.”
“Apa itu?”
“Kesadaran.”
Rian terdiam.
Arya melanjutkan dengan suara yang nyaris berbisik.
“Ilmu membuat kita mengetahui banyak hal.”
“Tetapi adab membuat kita tahu bagaimana memperlakukan manusia.”
“Teknologi membawa kita menjelajah langit.”
“Tetapi iman mengajarkan jalan pulang.”
Baca juga : Denyut Ruhaniyah Indonesia di Minangkabau: Kisah “Collab” Bung Karno dan Syekh Abbas Padang Japang
Di luar kubah observatorium, bintang-bintang tetap bersinar.
Instrumen terus bekerja membaca semesta.
Satelit terus mengirimkan data.
Segalanya tampak sempurna.
Namun di dalam hati seorang manusia, baru saja terjadi penemuan yang jauh lebih besar daripada seluruh penelitian yang pernah ia lakukan.
Ia menemukan dirinya sendiri.
Dalam diam, Arya menengadahkan wajah.
Tak ada kata-kata yang keluar.
Hanya doa yang mengalir perlahan.
Ia memohon agar Allah mengampuni setiap kesombongan yang pernah membuatnya lupa memuliakan orang tua, mengabaikan sesama, dan menganggap ilmu sebagai puncak kemuliaan.
Barangkali, pelajaran terbesar dari alam semesta bukanlah bagaimana manusia mampu menjangkau bintang-bintang.
Melainkan bagaimana, setelah menjelajah begitu jauh, ia akhirnya menemukan jalan untuk kembali kepada hati yang dipenuhi adab, diterangi iman, dan disempurnakan oleh amal.
“Teknologi membawa kita menjelajah langit, tetapi iman mengajarkan jalan pulang.”
Tentang Penulis
Andriwifa adalah penulis dan pemerhati sosial yang aktif menulis esai reflektif tentang kemanusiaan, pendidikan, nilai-nilai keislaman, ilmu pengetahuan, dan kehidupan. Melalui tulisannya, ia mengajak pembaca menghubungkan kecerdasan akal dengan kejernihan hati, sehingga setiap gagasan tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi menjelma menjadi hikmah.
Lentera Asakato
Lentera adalah ruang refleksi di Asakato yang menghadirkan kisah-kisah inspiratif, renungan kehidupan, dan esai naratif yang menyentuh hati sekaligus menggugah pikiran. Setiap tulisan mengajak pembaca berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan, menemukan makna, dan membawa pulang secercah cahaya bagi jiwa.
Lentera Asakato
Menyalakan hati, mencerahkan pikiran.
Editor : Tim Redaksi Asakato