Visual Seri 1 Rubrik Keminangkabauan Asakato menampilkan H. Saiful Guci Dt. Rajo Sampono dengan tema refleksi tentang makna urang nan gadang basa batuah sebagai simbol kepemimpinan adat yang berakhlak, berilmu, dan bijaksana di Minangkabau.
Oleh: H. Saiful Guci Dt. Rajo Sampono
Pernahkah kita bertanya, mengapa hari ini semakin banyak persoalan adat berakhir di meja pengadilan? Mengapa sengketa kaum, pusako, bahkan perselisihan antarsanak yang dahulu cukup diselesaikan di rumah gadang, kini justru melibatkan aparat penegak hukum?
Jangan-jangan yang hilang bukan sekadar mekanisme penyelesaian masalah, melainkan sosok yang dulu menjadi tempat masyarakat bertanya, berlindung, dan mencari jalan keluar. Dalam tradisi Minangkabau, sosok itu dikenal sebagai urang nan gadang basa batuah.
Baca juga : Memahami Adat Muntalak agar Iktikad Jangan Tersalah
Pertanyaan inilah yang mengemuka ketika saya berbincang dengan Sutan Bareno di Pemandian Kasiah Bundo, Jorong Pulutan, Nagari Koto Tuo, Kecamatan Harau. Di tengah suasana santai, ia bertanya bagaimana seharusnya memanggil saya. Apakah “uda”, “apak”, atau “mamak”, mengingat saya menyandang gelar adat Datuak Rajo Sampono.
Saya menjawab sederhana, “Panggil saja mamak atau apa yang terasa nyaman. Yang lebih penting bukan bagaimana kita saling menyapa, tetapi memahami makna dari gelar dan tanggung jawab yang menyertainya.”
Percakapan itu kemudian berkembang pada satu pertanyaan yang jauh lebih mendalam.
Siapakah sebenarnya yang disebut urang nan gadang basa batuah?
Sebagian orang mengira gelar itu hanya melekat pada penghulu atau mereka yang bergelar datuak. Ada pula yang menghubungkannya dengan jabatan tinggi, kedudukan terhormat, atau status sosial dalam masyarakat.
Padahal, dalam pandangan adat Minangkabau, maknanya jauh lebih luas daripada sekadar gelar.
Urang nan gadang basa batuah bukan hanya seseorang yang dihormati karena kedudukannya. Ia dihormati karena keluhuran akhlaknya, keluasan ilmunya, kebijaksanaan dalam mengambil keputusan, serta kemampuannya menjadi peneduh ketika masyarakat menghadapi persoalan.
Keberadaannya menjadi penyangga kehidupan nagari.
Dalam tradisi Minangkabau, seseorang tidak otomatis menjadi besar karena memakai gelar. Ia menjadi besar karena masyarakat mengangkat martabatnya melalui kepercayaan. Sebagaimana pepatah adat mengatakan:
“Tumbuahnyo karano ditanam, tingginyo karano dianjuang, gadangnyo karano diambah.”
Artinya, kebesaran seorang pemimpin lahir karena ditanam, dijunjung, dan dipelihara oleh masyarakat. Kehormatan bukan sesuatu yang diwariskan begitu saja, tetapi tumbuh dari amanah yang dijaga sepanjang hidup.
Baca juga : Mengapa Orang Minang Sulit Dikalahkan oleh Keadaan?
Karena itu, ukuran utama seorang pemimpin adat bukanlah seberapa tinggi gelarnya, melainkan seberapa halus tutur katanya, seberapa dalam budinya, dan seberapa adil ia memperlakukan anak kemenakan.
Dalam adat Minangkabau bahkan dikenal pengertian bahwa penghulu adalah mereka yang memiliki bicara yang halus dan budi yang dalam. Halus bukan berarti lemah. Dalam bukan berarti rumit. Halus adalah kemampuan memilih kata yang menenangkan, sedangkan budi yang dalam adalah kebijaksanaan yang lahir dari pengalaman, ilmu, dan ketulusan.
Sosok seperti inilah yang dahulu menjadi tempat masyarakat mengadu ketika kusut harus diselesaikan dan yang keruh harus dijernihkan.
Pertanyaannya, apakah sosok seperti itu masih banyak kita temukan hari ini?
Ataukah urang nan gadang basa batuah mulai menjadi manusia langka di tengah perubahan zaman?
Pertanyaan itu layak kita renungkan bersama. Sebab, jika yang hilang hanyalah gelar, adat masih bisa bertahan. Namun jika yang hilang adalah nilai, kebijaksanaan, dan keteladanan, maka sesungguhnya yang sedang kita kehilangan adalah ruh kepemimpinan Minangkabau itu sendiri.
Bersambung ke Seri 2: “Siapa Sesungguhnya Niniak Mamak, Pangulu, Malin, Manti, dan Dubalang?”
Baca juga : 10 Gagasan Visioner Sarilamak Menuju Kota Modern (Seri 1)
Tentang Penulis
H. Saiful Guci Dt. Rajo Sampono adalah pemerhati adat dan budaya Minangkabau yang aktif menulis tentang kepemimpinan adat, kearifan lokal, serta nilai-nilai Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK).
Editor: Tim Redaksi Asakato